JAKARTA, KOMPAS.com - Kebiasaan menimbun barang bukan hanya membuat kondisi rumah menjadi sumpek dan kotor, namun juga bisa memicu konflik anggota keluarga.
Hal tersebut dirasakan oleh warga Jakarta Selatan, Sanaji (64), yang mengaku sering dimarahi keluarga karena sering menimbun barang.
"Saya juga bingung kenapa dimarahin, sebenarnya sih bukan menumpuk barang bekas, kayak cuma ngumpulin kardus, triplek, meja-meja," ucap Sanaji ketika diwawancarai Kompas.com di kediamannya, Jumat (13/3/2026).
Baca juga: Belasan Tahun Hidup dengan Barang Tak Terpakai, Ahmad Tersadar Alami Hoarding Disorder
Sanji mengaku, menyimpan kardus bekas bukan tanpa sebab, tetapi untuk jaga-jaga menyimpan barang agar tidak rusak.
Misalnya, ia membeli mesin cuci atau kompor gas, maka kardusnya tak langsung dibuang, namun disimpan selama bertahun-tahun.
Jadi, ketika barang itu rusak atau ingin dijual kembali tetap ada kardusnya. Ayah dua orang anak itu mengaku, akan membuang kardus yang menumpuk di rumahnya jika sudah rusak terkena rayap.
Selain kardus, ia juga sering menyimpan botol-botol bekas untuk menyimpan makanan burung peliharaannya.
"Kalau botol-botol bekas itu buat tempat minuman ama makan burung. Kalau meja-meja di depan rumah itu buat simpen alat-alat motor anak saya," ungkap dia.
Ia mengaku, memiliki kebiasaan menumpuk barang di rumah sejak pensiun dari kerjaannya atau ketika usianya sudah lansia.
Sanaji selalu merasa sayang jika harus membuang barang-barang yang sudah ditimbunnya, karena takut diperlukan suatu saat nanti.
Ia menyadari, kebiasaannya menimbun barang bekas membuat rumahnya lebih sempit dan kotor.
Baca juga: Tak Hanya Suka Menumpuk Sampah, Kenali Tanda-tanda Hoarding Disorder
Memicu konflikPutra sulung Sanaji, bernama Aris (34), bingung mengapa sejak lansia ayahnya gemar menumpuk barang bekas.
"Saya juga bingung kenapa bapak saya sering numpuk barang bekas. Kayak di depan rumah itu ditampung meja bekas panjang dari tetangga, kan terasnya jadi sempit, bawahnya jadi sarang tikus," ungkap Aris ketika diwawancarai di lokasi, Jumat.
Ketika ditanya, mengapa sang ayah sering menumpuk barang bekas, karena takut dibutuhkan suatu saat nanti.
Tak jarang, Aris dan ayahnya justru berkonflik karena menumpuknya barang bekas di rumah.
"Wah sering banget berantem. Dia selalu nyalahin saya katanya yang bikin berantakan rumah saya, padahal dia yang suka menumpuk-numpuk barang enggak kepakai," ungkap dia.
Jika ia berinisiatif membersihkan rumah dengan membuang barang-barang tak terpakai agar lebih bersih, ayahnya justru marah.
Namun, ketika mendekati hari Lebaran, Aris akan meminta adiknya untuk membersihkan rumah.
Pasalnya, jika adiknya yang membersihkan rumah, ayahnya tidak berani marah dan hanya bisa pasrah.
Aris belum pernah membawa ayahnya untuk berobat ke dokter terkait dengan kebiasaan menumpuk barang bekasnya tersebut.





