Struktur utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Januari 2026 dinilai tetap sehat, tercermin dari penurunan rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
IDXChannel – Struktur utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Januari 2026 dinilai tetap sehat, tercermin dari penurunan rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Bank Indonesia mencatat rasio ULN terhadap PDB turun menjadi 29,6 persen pada Januari 2026, dari 29,9 persen pada Desember 2025.
Mengutip laman resmi Bank Indonesia (BI), Senin (16/03/2026), secara nominal posisi ULN Indonesia pada Januari 2026 tercatat sebesar USD434,7 miliar atau tumbuh 1,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan ini sedikit melambat dibandingkan Desember 2025 yang sebesar 1,8 persen (yoy), terutama dipengaruhi oleh perkembangan ULN sektor publik.
ULN pemerintah tercatat sebesar USD216,3 miliar pada Januari 2026 atau tumbuh 5,6 persen (yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan Desember 2025 yang sebesar 5,5 persen (yoy). Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri guna mendukung pelaksanaan program dan proyek pemerintah, serta aliran masuk modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional.
Bank Indonesia menilai aliran dana asing tersebut mencerminkan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
Sebagai salah satu instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), ULN pemerintah dikelola secara cermat, terukur, dan akuntabel. Pemanfaatannya diarahkan untuk mendukung berbagai program prioritas, antara lain sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22,0 persen), administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib (20,3 persen), jasa pendidikan (16,2 persen), konstruksi (11,6 persen), serta transportasi dan pergudangan (8,5 persen).
Struktur ULN pemerintah juga masih didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,98 persen dari total ULN pemerintah.
Di sisi lain, ULN swasta menunjukkan penurunan. Posisi ULN swasta pada Januari 2026 tercatat sebesar USD193,0 miliar, turun dari USD194,0 miliar pada Desember 2025. Secara tahunan, ULN swasta mengalami kontraksi sebesar 0,7 persen (yoy), lebih dalam dibandingkan kontraksi 0,2 persen (yoy) pada bulan sebelumnya.
Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh berkurangnya ULN perusahaan nonlembaga keuangan. Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian dengan pangsa mencapai 80,1 persen dari total ULN swasta.
Secara keseluruhan, struktur ULN Indonesia tetap didominasi utang jangka panjang dengan pangsa 85,6 persen dari total ULN. Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dalam memantau perkembangan ULN guna menjaga stabilitas perekonomian serta memastikan pembiayaan pembangunan berjalan secara berkelanjutan.
(Shifa Nurhaliza Putri)





