Johan & Irwan Hidayat Borong Saham Sido Muncul (SIDO) hingga 3 Juta Lembar

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) melaporkan perubahan kepemilikan saham perseroan oleh jajaran komisaris dan direksi perseroan. Terdapat transaksi pembelihan saham oleh petinggi perseroan dengan total hingga 3 juta saham.

Melansir keterbukaan informasi, Senin (16/3/2026), Dewan Komisaris SIDO Johan Hidayat dilaporkan telah menambah kepemilikan 1 juta saham SIDO dari 1,85 juta saham menjadi 2,85 juta saham. Hal tersebut juga menambah hak suara yang bersangkutan dari 0,006% menjadi 0,01%.

Berikutnya, ada Direksi SIDO Irwan Hidayat yang dilaporkan menambah jumlah kepemilikan sebanyak 2 juta saham, dari 1,27 juta saham menjadi 3,27 juta saham. Hak usara Irwan Hidayat juga bertambah dari 0,004% menjadi 0,011%.

Pada penutupan pasar Senin (16/3/2026), saham SIDO ditutup turun 0,98% ke Rp505. Level harga tersebut mencerminkan koreksi 6,48% secara year to date (YtD).

Dalam kesempatan terpisah, Direksi SIDO Irwan Hidayat membagikan tips berinvestasi saham yang layak dan menguntungkan dibeli. Menurutnya, penting untuk berorientasi pada investasi jangka panjang dibandingkan melakukan trading saham.

"Berinvestasi di saham, mendapat dividen dan juga tambahan nilai usaha jika perusahaan berkembang. Ini berbeda dengan deposito yang hanya mendapat bunga," tulisnya dikutip Senin (16/3/2026).

Baca Juga : Merdeka Battery (MBMA) Siapkan Rp1,7 Triliun untuk Buyback Saham

Irwan mengingatkan bahwa investasi di saham tetap ada risiko rugi kalau harga saham turun. Namun, dalam jangka panjang ada potensi mendapatkan untung. Dia mencontohkan di saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang pada 2000 awalnya hanya Rp500 sekarang ada di sekitar Rp6.875.

"Oleh karena itu pilih perusahaan yang sudah lama, mapan dan menjadi perusahaan Tbk cukup lama. Kemudian profit dan pembagian dividen-nya banyak dan keuangannya kuat," jelasnya.

Selain itu, Irwan merekomendasikan saham emiten yang memiliki postur kecil utang di bank. Dari sisi pendanaan, menurutnya instrumen obligasi masih lebih baik namun tetap harus memperhatikan aspek rasio utang.

Terakhir, Irwan menyarankan investor untuk membeli saham pada saat harga undervalue atau saat pembagian dividen. Selain itu, investor bisa menunggu laporan triwulan pertama di akhir Maret 2026.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cerita Pemudik: Pilih Mudik Lebih Awal Demi Cepat Bertemu Keluarga di Surabaya
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
PBVSI Usung Dua Target Jelang Indonesia Jadi Tuan Rumah AVC Men’s Volleyball Champions League 2026
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Pelabuhan Ciwandan Jamin Optimalisasi Layanan Angkutan Lebaran 2026
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Polri Ungkap Pengedar Daging Impor Busuk: Barang Expired 2024, Dijual di 2026
• 3 jam laludetik.com
thumb
Kemendikdasmen Bagikan 2.400 Buku Gratis untuk Pemudik di Stasiun Gambir
• 11 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.