Simbolisme di Balik Jalan Santai Pezeshkian

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Di tengah dentuman bom Israel dan AS yang mengguncang Teheran, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, tampak berjalan santai di trotoar, menyapa warga yang menyambutnya hangat tanpa pengawalan ketat. Video viral berdurasi 30 detik yang diunggah 13 Maret 2026 saat Hari Quds itu, kini ditonton jutaan kali di YouTube dan berbagai platform media sosial lainnya.

Penampilan santai sang presiden bukan sekadar aksi spontan, melainkan juga simbol politik yang sarat makna, sebuah proyeksi ketangguhan rezim di zona perang.

Gestur ini menggambarkan dinamika legitimasi kekuasaan yang berisiko tinggi, di mana keberanian tampil di muka publik berpotensi membuka celah kriminogenik. Pertanyaannya: Apa pesan yang ingin disampaikan Pezeshkian, dan berapa harga yang harus dibayar?

Implikasi politik aksi jalan santai Pezeshkian menjalar cepat ke ranah domestik dan internasional. Di dalam negeri, aksi itu mempererat kohesi basis pro-rezim, memproyeksikan stabilitas di tengah eskalasi perang.

Sambutan hangat warga Teheran dengan yel-yel dan selfie membangun narasi persatuan, menepis bayang protes ekonomi era Mahsa Amini yang mereda di bawah tekanan perang total. Di panggung global, klip trotoar jadi senjata propaganda ampuh untuk melawan retorika Trump-Netanyahu: bukti Iran tak lumpuh meski fasilitas nuklirnya remuk redam, sekaligus sindiran atas isolasi diplomasi Barat.

Simbolisme aksi ini merujuk interaksionisme simbolik George Herbert Mead, di mana gestur jalan santai didefinisikan publik sebagai tanda pemerintahan yang tak tergoyahkan (Blumer, 1969)—mengubah persepsi sosial, menghadirkan pemimpin “manusiawi”, dan menekan alienasi pemicu kerusuhan massal.

Meski demikian, aksi ini mengandung risiko kriminogenik: mengubah trotoar Teheran dari zona aman menjadi "hotspot" kejahatan politik ala routine activity theory (Cohen & Felson, 1979). Tanpa pengawalan absolut, Pezeshkian jadi suitable target bernilai tinggi—sasaran empuk drone Israel yang telah tewaskan Khamenei dan puluhan jenderal IRGC, atau lone wolf domestik/ISIS-K yang memanfaatkan kerumunan pro-rezim sebagai tameng ideal.

Guardianship rapuh karena warga menyambut dengan berfoto selfie dan algoritma yang tersebar secara real-time mengekspos posisi GPS, sementara handler—pengendali sosial seperti keluarga atau komunitas yang kerap berperan sebagai rem—melemah akibat situasi perang.

Jangan lupa data historis: Anwar Sadat ditembak di parade terbuka tahun 1981, Rajiv Gandhi oleh bomber di rapat kampanye 1991, dan Yitzhak Rabin di rally perdamaian 1995. Pembunuhan terhadap mereka membuktikan bahwa paparan publik dapat memicu eskalasi kekerasan secara eksponensial.

Bagi Iran, kehilangan presiden kedua berpotensi meruntuhkan rantai suksesi yang rapuh, membuka pintu pemberontakan oportunistik di tengah krisis ekonomi.

Taruhan kalkulatif ini memang simbolik ala teori broken windows—proyeksi ketertiban kecil mencegah persepsi kekacauan besar (Wilson & Kelling, 1982)—tetapi dalam kriminologi konflik, data empiris konsisten menunjukkan bahwa keberanian publik justru meningkatkan risiko asesinasi 3-5 kali lipat dibandingkan kepemimpinan bunker—sebagaimana analisis kasus 1980-2025 pada pemimpin zona perang seperti Sadat (1981) dan Gandhi (1991) oleh Small Arms Survey (2023).

Namun, di balik segala taruhan itu, aksi trotoar Pezeshkian telah memaksimalkan efek propaganda digital, yang kini menjadi senjata utama rezim di era algoritma—di mana video pendek 30 detik mengungguli pidato resmi (Barak, 2007).

Platform seperti YouTube dan Instagram memicu ikatan parasosial—warga merasa “kenal dekat” dengan pemimpinnya—sekaligus menciptakan echo chamber pro-rezim melalui algoritma yang menekan oposisi daring (Jewkes, 2015). Efek ganda ini mengubah persepsi kejahatan politik menjadi konten viral contagion yang tak terkendali (Wall, 2007).

Aksi Pezeshkian relevan bagi pemimpin di zona konflik lain, seperti Volodymyr Zelenskyy yang turun ke jalan Kyiv di tengah sirene udara yang meraung-raung pada 2022—berbagi parit dengan prajurit sambil merekam video pendek untuk TikTok—atau Abdel Fattah el-Sisi yang berbaur akrab dengan warga Kairo setelah kudeta 2013, lengkap dengan senyum lebar di tengah kerumunan Tahrir.

Strategi visibilitas tinggi ini terbukti efektif membangun legitimasi di era media sosial, di mana klip autentik lebih ampuh daripada konferensi pers. Namun, aksi semacam itu menuntut protokol keamanan berlapis. Mulai dari drone pengintai, AI deteksi ancaman wajah di kerumunan, hingga intelijen prediktif berbasis data satelit agar simbolisme ketangguhan tak berujung bencana mematikan.

Model Pezeshkian, Zelenskyy, dan Sisi menunjukkan bahwa keberanian tampil di depan publik bisa memperkuat rezim yang tengah rapuh, asal diimbangi kalkulasi kriminologi modern: minimalkan “suitable target” ala routine activity theory tanpa menghilangkan pesan ketangguhan (Cohen & Felson, 1979).

Respons balik Donald Trump di Truth Social terhadap video itu justru memperkuat efek viral secara paradoksal. Pada 14 Maret 2026, Presiden AS itu mengecam aksi jalan santai Pezeshkian sebagai “provokasi gila dari diktator Iran yang sekarat”, lengkap dengan emoji bom dan tagar #IranWeak.

Cuitan itu langsung dibalas ribuan like dari akun pro-Palestina dan aktivis Muslim global hingga melonjakkan views klip asli ke puluhan juta. Dalam dinamika kriminologi media, respons Trump ibarat bensin bagi narasi Teheran: seolah meneriakkan bahwa rezim tak takut terhadap Sang Superpower, memperlebar polarisasi Truth Social vs. Instagram pro-Iran, dan menciptakan siklus algoritma ekstrem ala efek copycat kekerasan politik daring (Flew & Iosifidis, 2020).

Jalan santai ala Pezeshkian menggarisbawahi ketangguhan Iran yang teruji sepanjang sejarah: dari invasi Mongol abad ke-13 hingga Perang Iran-Irak 1980-an yang menelan ratusan ribu nyawa, di mana kohesi ideologis Syiah dan narasi martir selalu menjadi perekat bangsa.

Namun, seperti kata Sun Tzu, “Keberanian tanpa strategi hanyalah kekalahan tertunda”. Kemenangan militer seutuhnya, bukan viralitas semu yang jadi penentu akhir perang saat ini.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KRL Bekasi Line Lengang di Hari Pertama WFA Jelang Lebaran: Tak Ada ‘War Kursi’
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Tips Styling Kemeja Putih
• 3 jam lalubeautynesia.id
thumb
Kemenhaj: 25.922 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air di Tengah Konflik Timteng
• 16 jam lalurctiplus.com
thumb
Fakta Icon of the Seas, Kapal Pesiar Terbesar Dunia yang Bisa Tampung Ribuan Orang
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Militer AS Kirim 10.000 Drone Interseptor, Lebih Hemat untuk Melawan Iran
• 58 menit laluerabaru.net
Berhasil disimpan.