JAKARTA, DISWAY.ID - Presiden RI Prabowo Subianto menilai aturan batas defisit anggaran merupakan instrumen penting untuk menjaga kedisiplinan dalam pengelolaan keuangan negara.
Dalam wawancara eksklusif dengan Bloomberg berjudul “Prabowo Open to Breach Indonesia Deficit Cap Only During Crisis”, Prabowo menyebut batas defisit fiskal sebagai alat yang membantu pemerintah tetap berhati-hati dalam menyusun dan menjalankan kebijakan anggaran.
BACA JUGA:Telkom Berdayakan Perempuan UMKM untuk Masa Depan Ekonomi yang Lebih Inklusif
BACA JUGA:Amankan Mudik Lebaran 2026, Ratusan Personel Gabungan Amankan Terminal Terpadu Pulo Gebang
Ia menegaskan pemerintah tidak memiliki rencana untuk mengubah aturan batas defisit tersebut, kecuali jika Indonesia menghadapi situasi darurat yang sangat besar.
"Batas defisit adalah alat yang baik untuk mendisiplinkan diri kita sendiri. Indonesia tidak memiliki rencana untuk mengubah aturan tersebut kecuali ada keadaan darurat yang sangat besar seperti COVID-19," ujar Prabowo, Senin, 16 Maret 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menilai krisis di Iran menjadi pengingat penting bagi Indonesia untuk mempercepat transisi menuju energi terbarukan.
Ia menambahkan Indonesia berada dalam posisi relatif lebih baik dibandingkan sejumlah negara lain karena memiliki sumber energi domestik seperti minyak sawit dan batu bara yang dapat membantu menjaga ketahanan energi nasional.
BACA JUGA:Sofyano Zakaria: Elektrifikasi Nasional Bisa Kurangi Ketergantungan Energi Impor
BACA JUGA:IHSG Ditutup Anjlok, Masih Nyaman di Zona Merah 1,61 Persen
Selain itu, pemerintah juga akan terus mengembangkan potensi energi panas bumi, tenaga surya, tenaga air, serta biofuel.
“Jika kita berhasil melewati ini, dalam dua tahun kita akan menjadi sangat efisien. Kita akan menjadi sangat, sangat tidak bergantung pada sumber eksternal,” kata Prabowo.





