JAKARTA, KOMPAS.com - Soleh (65), warga korban kebakaran di Tanah Sereal, Tambora, Jakarta Barat, mengaku pasrah merayakan Hari Raya Idul Fitri di pengungsian usai tempat tinggalnya hangus terbakar.
"Ya lebaran di sini lah (pengungsian) jadinya, mau ke mana lagi?" kata Soleh saat ditemui Kompas.com di area pengungsian di Tambora, Senin (16/3/2026).
Soleh bersama istri, tiga anak, dan empat cucunya yang total berjumlah 11 orang terpaksa menerima nasib hidup di tenda pengungsian.
Baca juga: Polisi Masih Selidiki Pelat Nomor Motor Penyiram Air Keras Andrie Yunus
Sebenarnya ia memiliki opsi untuk mengungsi dan pulang ke kampung halamannya di Bogor, Jawa Barat.
"Bisa sih pulang kampung, tapi kalau keadaannya begini kita ninggalinnya juga kan enggak tega. Pengennya tetap di sini aja deh, jagain rumah, takut juga soalnya," ucapnya.
Soleh mengatakan, rumah dua setengah lantai berdinding bata merah yang telah ia tempati sejak 1979 silam kini hanya tersisa tembok yang telah menghitam.
Ia mengatakan, titik api berasal dari lantai satu bagian pojok sebuah bangunan pabrik konveksi yang berada tepat di sebelah rumahnya.
"Kemarin itu apinya dari lantai satu konveksi itu. Jadi dia (pabrik konveksi) kan di sebelah rumah saya persis ini, nyamber, rumah saya habis semua, enggak kesisa apa-apa sama sekali, habis," kata Soleh.
Soleh menyayangkan lambatnya penanganan awal dari pihak pabrik sehingga membuat api membesar dan merembet ke rumah-rumah warga.
Menurut kesaksiannya, pekerja di dalam konveksi sempat mendiamkan api yang mulai membesar karena panik, sebelum akhirnya baru mencari pertolongan ke luar.
“Jadi kayaknya dia panik, jadi sama dia didiemin aja. Eh, lama-lama kan tambah gede tuh, baru akhirnya manggil warga minta tolong," ucapnya.
Kondisi pabrik yang dipenuhi bahan baku konveksi membuat api dengan sangat cepat membesar dan tak terkendali.
Baca juga: Kasus Pelecehan Seksual yang Sempat Diduga Melibatkan Dosen Unpam Berakhir Damai
Soleh menyebutkan, di dalam gedung lima lantai itu terdapat banyak material mudah terbakar berupa nilon, kain, ban, hingga karet bahan pembuat celana.
Rentetan letupan pun terdengar dari dalam gedung, disusul sebuah ledakan dahsyat yang membuat struktur bangunan tinggi tersebut akhirnya runtuh menimpa rumah-rumah warga.
"Kan bunyi letusan tuh, letupan tuh berapa kali nggak tahulah. Itu yang terakhir yang paling gede itu, langsung deh roboh nimpa rumah. Enggak tahu bahan kimia, enggak tahu apa, kita juga bingung," ujar Soleh.





