JAKARTA, KOMPAS.TV- Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Januari 2026 sebesar 434,7 miliar dolar AS.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, ULN Indonesia secara tahunan tumbuh 1,7 persen (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Desember 2025 sebesar 1,8 persen.
Ia menyampaikan perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh utang luar negeri sektor publik.
Ramdan menjelaskan, utang luar negeri pemerintah pada Januari 2026 tercatat sebesar 216,3 miliar dolar AS atau tumbuh 5,6 persen secara tahunan.
Jumlah itu sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Desember 2025 sebesar 5,5 persen.
Baca Juga: Purbaya: Rupiah Hanya Melemah 0,3 Persen di Tengah Konflik Global
“Perkembangan ULN tersebut dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri untuk mendukung pelaksanaan program dan proyek pemerintah serta aliran masuk modal asing pada surat berharga negara internasional,” kata Ramdan dalam siaran persnya, Senin (16/3).
Ia mengatakan, sebagai salah satu instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), utang luar negeri pemerintah dikelola secara cermat, terukur, dan akuntabel untuk mendukung pembiayaan program prioritas.
Ramdan juga menjelaskan, penggunaan utang luar negeri pemerintah dimanfaatkan untuk sejumlah sektor, antara lain jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22 persen, administrasi pemerintah, pertahanan dan jaminan sosial wajib sebesar 20,3 persen, serta jasa pendidikan sebesar 16,2 persen.
Baca Juga: Luhut: RI Tak Perlu Panik Hadapi Konflik Timur Tengah, Harga CPO Bisa Naik
Penulis : Dina Karina Editor : Deni-Muliya
Sumber :
- utang luar negeri indonesia
- utang luar negeri pemerintah
- utang luar negeri swasta
- bank indonesia
- rasio utang terhadap pdb





