Bisnis.com, JAKARTA — Harga minyak naik setelah sempat merosot lebih dari 5% pada perdagangan Senin (16/3/2026), seiring investor menimbang ancaman terhadap pasokan energi di Timur Tengah dengan sinyal bahwa lebih banyak minyak mentah mungkin segera tersedia di pasar.
Mengutip Bloomberg, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$95 per barel, sementara Brent ditutup di atas US$100 per barel untuk hari ketiga berturut-turut.
Sebelumnya, harga minyak sempat turun setelah Departemen Energi AS bersiap melepas tahap pertama cadangan minyak darurat, sementara International Energy Agency mengindikasikan masih ada ruang untuk kembali memanfaatkan stok cadangan energi global.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat setelah Iran memperluas serangan terhadap aset energi regional. Salah satu serangan dilaporkan menyasar ladang gas raksasa Shah di Uni Emirat Arab melalui serangan drone.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan negaranya tengah “menghantam” kemampuan Iran untuk mengancam jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute pengiriman minyak paling vital di dunia dan dilaporkan hampir tidak beroperasi sejak perang pecah pada akhir bulan lalu.
Trump juga mengancam akan memperluas serangan ke Pulau Kharg untuk menargetkan infrastruktur minyak Iran. Sebelumnya, Amerika Serikat menyerang fasilitas militer di pusat ekspor utama Iran tersebut pada akhir pekan lalu, namun tidak menyasar infrastruktur energi.
Baca Juga
- Harga Emas Stabil di Tengah Pelemahan Dolar AS & Risiko Gangguan Pasokan Minyak
- Harga Minyak Dunia Terus Naik, Trump Cari Koalisi Global untuk Buka Selat Hormuz
- RI Berpeluang Impor Minyak Rusia, Pertamina Pertimbangkan Aspek Keekonomian
Meski demikian, untuk sementara waktu Washington masih membiarkan Iran mengekspor minyak melalui Selat Hormuz. Hal itu disampaikan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam wawancara dengan CNBC.
Di sisi lain, beberapa produsen minyak di kawasan juga menyesuaikan produksinya. Uni Emirat Arab dan Kuwait dilaporkan kembali memangkas produksi minyak, sementara Arab Saudi bersama Uni Emirat Arab berupaya meningkatkan ekspor melalui rute alternatif yang tidak melewati Selat Hormuz.
Gejolak konflik di Timur Tengah juga memicu volatilitas yang sangat tinggi di pasar energi global. Dalam beberapa waktu terakhir, rentang pergerakan harga minyak harian tercatat jauh lebih lebar dibandingkan biasanya.
Menurut International Energy Agency, situasi tersebut menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.
Senior Vice President Trading BOK Financial Securities Inc. Dennis Kissler mengatakan harga minyak yang menembus tiga digit umumnya tidak bertahan lama karena kenaikan harga akan cepat memicu penurunan permintaan.
“Harga minyak di atas US$100 biasanya hanya berlangsung singkat karena penghancuran permintaan cenderung terjadi dengan cepat,” ujar Kissler dikutip dari Bloomberg, Selasa (17/3/2026).
Kissler juga menilai posisi Iran dalam konflik ini relatif lemah. Menurutnya, Iran tidak memiliki kekuatan angkatan laut yang signifikan, militernya tengah mengalami tekanan, serta semakin terisolasi dari aktivitas perdagangan dengan negara-negara tetangganya.
“Meski Iran tampak bertahan, pada akhirnya kebutuhan mereka untuk bernegosiasi kemungkinan akan muncul lebih cepat,” katanya.
Di tengah eskalasi konflik, jalur komunikasi langsung antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan kembali diaktifkan dalam beberapa hari terakhir, menurut laporan Axios yang mengutip sejumlah sumber anonim.
Pada Senin, Trump juga mengatakan telah meminta China untuk menunda pertemuan puncak dengan Presiden Xi Jinping selama sekitar satu bulan. Menurut Trump, dirinya perlu tetap berada di Washington untuk memantau perkembangan perang dengan Iran.





