Huawei Mate X7 Pakai Chip Buatan China Sendiri, Ini Dampaknya untuk Pasar Elektronik Global

wartaekonomi.co.id
9 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Huawei Mate X7 dijual Rp27,9 juta di Indonesia. Di balik harganya, ada sesuatu yang lebih menarik dari spesifikasi layar atau kameranya yakni chip yang menggerakkan ponsel ini dibuat di China.

Chip Kirin 9030 di dalam Mate X7 diproduksi oleh SMIC, perusahaan pengecoran chip terbesar milik China. Ini bukan hal biasa, karena tiga tahun lalu, chip seperti ini dianggap mustahil bisa dibuat di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Pada Oktober 2022, Amerika Serikat memberlakukan sanksi semikonduktor yang secara langsung menargetkan Huawei dan SMIC. Lewat sanksi itu, keduanya dilarang mengakses teknologi dan perangkat keras dari perusahaan chip Barat, termasuk Intel, Qualcomm, dan AMD.

Tujuannya jelas, untuk menghentikan kemajuan chip China dengan memutus akses ke teknologi kelas atas.

Kirin 9030 adalah jawaban China atas sanksi itu. SMIC memproduksinya menggunakan proses yang disebut N+3, pengembangan dari teknologi 7 nanometer yang memungkinkan China meningkatkan performa chip meski akses ke vendor Barat sudah ditutup.

Lembaga riset TechInsights mengonfirmasi kemajuan ini, meski mengakui teknologi SMIC masih tertinggal dari TSMC dan Samsung yang sudah beroperasi di node 5 nanometer.

Ada harga yang harus dibayar dari keterbatasan itu. Kirin 9030 diklaim mengonsumsi daya hingga 20 persen lebih tinggi dibanding chip setara buatan TSMC, akibat langsung dari ketidakmampuan SMIC mengakses mesin litografi EUV milik ASML yang diblokir sanksi ekspor.

Tapi China tidak berhenti di situ. SMIC kini dilaporkan sudah mulai menguji mesin litografi DUV buatan lokal dari startup Shanghai bernama Yuliangsheng.

Jika berhasil, China semakin lepas dari ketergantungan pada peralatan impor, termasuk ASML dari Belanda yang selama ini memonopoli mesin litografi paling canggih di dunia.

Kemajuan ini bukan terjadi dalam ruang hampa. Nvidia, yang menghadapi tekanan dari platform kecerdasan buatan Huawei Ascend, sudah mempercepat pengembangan produk khusus China meski hambatan persetujuan ekspor masih ada.

Perusahaan seperti Xiaomi juga mulai mengikuti jejak Huawei dengan menginkorporasi lebih banyak chip domestik ke dalam produk mereka.

Industri semikonduktor global diprediksi bernilai 1 triliun dollar atau sekitar Rp16.300 triliun pada 2030 menurut laporan McKinsey.

China menargetkan 70 persen kebutuhan semikonduktor domestiknya terpenuhi tanpa impor, dengan output industri semikonduktor mencapai $305 miliar atau sekitar Rp4.971 triliun pada tahun yang sama.

Bagi Indonesia, ada dua dampak langsung yang relevan. Pertama, jika ketegangan AS-China meningkat dan melibatkan Taiwan, gangguan rantai pasok chip global bisa memicu kelangkaan dan kenaikan harga produk elektronik di pasar Indonesia.

Kedua, tren diversifikasi rantai pasok semikonduktor membuka peluang bagi negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia untuk masuk sebagai bagian dari ekosistem manufaktur baru di luar orbit dominasi Barat.

Baca Juga: TelkomGroup dan Huawei Teken MoU Kembangkan Data Center dan Infrastruktur Digital di MWC Barcelona 2026

Setiap Huawei Mate X7 yang terjual di Indonesia adalah satu data poin kecil dalam peta yang lebih besar, seberapa jauh konsumen global bersedia menerima produk teknologi yang dibangun di luar ekosistem Amerika.

Chip di dalamnya bukan sekadar komponen elektronik, ia adalah bukti bahwa sanksi yang dirancang untuk menghentikan China belum sepenuhnya berhasil.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jelang Lebaran, Harga Daging Sapi di Bangka Menyentuh Rp150 Ribu per Kilogram
• 2 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Waspada! Hujan Sangat Lebat Diprediksi Terjang Timur Indonesia
• 7 jam lalurctiplus.com
thumb
4 Orang Ditetapkan Tersangka Kasus Daging Domba Impor Kedaluwarsa
• 5 jam lalurctiplus.com
thumb
Jelang Pelimpahan ke JPU, Kasus Richard Lee Masih Tahap Pemberkasan
• 1 jam lalugrid.id
thumb
Mudik Lebaran, Ini Jalur Sumatra yang Harus Dihindari
• 9 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.