AI dan Kutukan Feodal di Ruang Kelas

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Sebuah program percontohan di Nigeria pada tahun lalu telah membuahkan hasil yang mencengangkan: siswa sekolah menengah yang menggunakan chatbot AI untuk belajar bahasa Inggris mengalami kemajuan akademis hanya dalam waktu enam minggu. Setara dengan dua tahun masa sekolah.

Bagi para donor internasional dan kaum optimis teknologi, ini tampak seperti peluru perak untuk mengatasi krisis pendidikan global. Namun, akan berbeda ceritanya jika intervensi yang sama persis dilakukan di sekolah-sekolah kita hari ini, khususnya di wilayah perdesaan Indonesia Timur.

Masalahnya bukan pada ketersediaan teknologi, bukan pula pada infrastruktur. Budaya.

Sebelum kita bicara lebih jauh tentang kekuatan transformatif Akal Imitasi (AI) di ruang kelas, kita terlebih dulu perlu berhadapan dengan dua realitas yang mengakar kuat: mentalitas feodal yang melumpuhkan kemampuan berekspresi siswa, dan "kutukan sumber daya" (resource curse) pendidikan yang mematikan motivasi belajar mereka.

Ketika saya meminta siswa SMP di kelas untuk menulis sebuah opini singkat—seperti resensi lagu—atau cerita fiktif pendek, respons yang paling umum muncul adalah kebingungan yang luar biasa. Untuk sekadar menulis satu paragraf pendek yang berisi pemikiran mereka sendiri saja mereka kesulitan. Tidak heran. Sejak duduk di bangku SD, mereka tidak pernah dibiasakan untuk merumuskan argumen atau menyuarakan isi kepala mereka.

Bila ditelisik lebih jauh, ini lebih seperti gejala langsung dari sistem pedagogi yang feodal. Seperti yang pernah diobservasi oleh Prof. Jiang Xueqin terkait kelas sosial dan pendidikan, anak-anak dalam sistem yang sangat hierarkis sering kali dididik murni untuk patuh. Mereka dilatih untuk sekadar menerima instruksi, menghafal fakta, dan menghindari perdebatan dengan otoritas—karena kepatuhan adalah strategi bertahan hidup yang paling aman. Sebaliknya, mereka yang berada di lingkungan berprivilese justru diajarkan untuk bernegosiasi, mendebat, dan mempertanyakan keadaan.

Dengan menuntut ketundukan mutlak pada otoritas guru, sistem kita telah berhasil membungkam siswa. Hal ini menjadi masalah ketika melakukan integrasi AI dalam pembelajaran. Untuk menggunakan AI seperti ChatGPT, Meta, Gemini, dan lain-lain secara efektif, seseorang harus tahu cara mengajukan pertanyaan yang tepat, mendebat hasil keluaran AI, dan mengembangkan ide.

Sejak kecil, siswa telah lama dikondisikan bahwa dalam belajar hanya ada satu jawaban mutlak yang benar (yaitu jawaban guru atau buku paket). Segala bentuk opini, interpretasi yang berbeda, atau cara penyelesaian yang tidak sesuai dengan instruksi guru ("garis yang ditentukan") akan disalahkan, atau bahkan ditertawakan.

Jika siswa kita terlampau takut untuk berbuat "salah" atau keluar dari garis yang ditentukan, chatbot AI hanya akan berakhir menjadi mesin contekan raksasa, alih-alih menjadi rekan kolaborasi untuk berpikir kritis.

Kelumpuhan feodalistik ini semakin diperparah oleh fenomena yang Richard Auty (1993) sebut sebagai Resource Curse. Di Nigeria, kesuksesan spektakuler program AI sangat mungkin didorong oleh urgensi yang menyala-nyala di akar rumput. Di lingkungan yang didera kemiskinan ekstrem dengan tingkat kriminalitas tinggi, pendidikan sering kali dilihat sebagai satu-satunya jalan keluar yang rasional. Menyangkut urusan hidup dan mati.

Sebaliknya, banyak siswa di berbagai daerah kita tidak memiliki insting bertahan hidup demikian. Kita hidup di lingkungan di mana sumber daya alam masih relatif melimpah dan jaring pengaman sosial komunal (kekerabatan) sangat kuat. Jika seorang siswa gagal atau putus sekolah, keluarga besar biasanya akan turun tangan untuk menyediakan makanan dan tempat tinggal.

Walaupun dukungan komunal ini merupakan sifat budaya yang indah, hal ini secara tidak sengaja menciptakan zona nyaman yang mendemotivasi. Ketika makan esok hari sudah dijamin oleh kemurahan alam dan kerabat, urgensi untuk berjuang, belajar, dan mengamankan masa depan melalui pendidikan pun menguap.

Kita tidak bisa begitu saja membawa teknologi canggih ke dalam lingkungan seperti ini dan mengharapkan terjadinya keajaiban. Pembaruan pendidikan yang sekadar memasukkan gawai baru tanpa membenahi akar budayanya pada akhirnya hanyalah perubahan yang hanya tampak di permukaan saja.

Jika kita ingin mempersiapkan siswa menghadapi dunia yang digerakkan oleh AI, kita harus terlebih dulu membongkar budaya bungkam di ruang kelas. Siswa perlu diajari cara berpikir sebelum mereka mengetik prompt di mesin AI. ●

Referensi

The Economist. (2025). "Can AI be trusted in schools?".

Jiang, X. (2026). Game Theory #3: Rich Dad, Poor Dad [Video].

Auty, R. M. (1993). Sustaining Development in Mineral Economies: The Resource Curse Thesis. London: Routledge.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
4 Zodiak Paling Beruntung di Penghujung Bulan Maret 2026, Pancarkan Energi Positif
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
LBH Menduga Pelaku Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus Turut Terkena Cipratan
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Mengenal Maryam Mirzakhani, Perempuan Pertama Peraih Nobel Matematika
• 2 jam lalubisnis.com
thumb
Polisi Tangkap Komplotan Perampok Sadis Pasangan Lansia di Cileungsi Bogor
• 16 jam laludetik.com
thumb
3 Zodiak Ini Dikenal Paling Menarik dan Punya Daya Tarik Memikat yang Alami
• 1 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.