Pemerintah Yakin Fundamental Ekonomi Indonesia Kuat di Tengah Ketegangan Geopolitik Global

suarasurabaya.net
8 jam lalu
Cover Berita

Airlangga Hartarto Menteri Koordinator bidang Perekonomian mengatakan, Pemerintah memantau berbagai potensi yang bisa memengaruhi perekonomian nasional akibat konflik geopolitik antara Amerika Serikat-Israel, dan Iran.

Sejauh ini, sejumlah indikator menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga dengan baik, berkat permintaan domestik yang kuat, stabilitas sektor eksternal, serta koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang solid.

“Walau situasi perang Amerika-Israel sama Iran itu masih berjalan lebih dari dua minggu, namun kalau kita lihat transmisi ke Indonesia itu dalam bentuk harga-harga minyak, harga gas, dan nanti ikutannya harga-harga komoditas. Walaupun dalam situasi krisis perang, secara makro kita tetap kuat dan solid,” ujarnya, Senin (16/3/2026), di Jakarta.

Menko Perekonomian bilang, konsumsi domestik tetap kuat dengan kontribusi sekitar 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Sementara, aktivitas belanja masyarakat juga masih terjaga dengan Mandiri Spending Index Februari 2026 mencapai 360,7 poin atau setara dengan tingkat belanja tinggi.

Dari sisi stabilitas eksternal, rasio utang luar negeri Indonesia tercatat 29,9 persen terhadap PDB, dengan cadangan devisa 151,9 miliar Dollar AS atau setara pembiayaan sekitar enam bulan impor.

“Pemerintah juga terus memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
Penggunaan transaksi Local Currency Settlement (LCS) dengan negara mitra seperti Malaysia, Thailand, Jepang, dan Tiongkok meningkat signifikan, dengan nilai transaksi tahun 2025 mencapai 25,66 miliar Dollar AS, hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya,” imbuh Airlangga.

Lebih lanjut, Menko Perekonomian menyebut, dalam menghadapi dinamika global, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap difungsikan sebagai peredam kejut (shock absorber) melalui berbagai program dukungan.

Di antaranya, bantuan pangan sebanyak Rp11,92 triliun, penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) bagi ASN, TNI, dan Polri, serta subsidi dan kompensasi energi.

Berdasarkan data per bulan Februari 2026, pendapatan negara tercatat sebanyak Rp358 triliun atau sekitar 12,8 persen dari target APBN.

Sedangkan belanja negara mencapai Rp493,8 triliun atau 41,9 persen dari pagu APBN. Defisit anggaran tetap terkendali di kisaran Rp135,7 triliun atau sekitar 0,53 persen dari PDB.

Pada kesempatan itu, Airlangga juga menyampaikan, Prabowo Subianto Presiden sudah memberikan sejumlah arahan strategis untuk memitigasi dampak konflik geopolitik terhadap perekonomian nasional.

Antara lain, melalui percepatan ketersediaan energi, efisiensi konsumsi bahan bakar, memperluas penerapan work from home, serta penguatan disiplin fiskal supaya defisit APBN tetap terjaga di bawah 3 persen dari PDB.

Menko Perekonomian menegaskan, seluruh kebijakan terus dipantau dan dievaluasi secara dinamis, dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi global serta dampaknya terhadap perekonomian domestik.(rid/iss)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
LPSK Beri Perlindungan untuk Saksi Teror Air Keras Andrie Yunus
• 21 menit laludisway.id
thumb
Milan Tumbang dari Lazio, Absennya Adrien Rabiot Ternyata Jadi Biang Masalah
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
BMKG: Cuaca Jakarta Hari Ini Didominasi Cerah, Suhu Bisa Capai 35 Derajat
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Meski Unggul 3-0, Real Madrid Masih Bawa Mbappe dan Bellingham ke Markas Manchester City
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
Persija Jakarta Hampir Pasti Lepas Dua Pemain Asing di Akhir Musim 2025/2026, Cek Bocorannya!
• 5 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.