EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 14 Maret 2026 menyatakan bahwa Iran kini mulai menunjukkan kesediaan untuk melakukan negosiasi gencatan senjata, di tengah serangan udara intensif yang terus dilancarkan militer Amerika Serikat.
Namun Trump menegaskan bahwa dirinya belum berniat segera mencapai kesepakatan, karena menurutnya syarat yang diajukan oleh pihak Iran belum cukup menguntungkan bagi Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara telepon dengan NBC News, di mana ia menjelaskan bahwa Iran telah mengirimkan sinyal ingin mengakhiri konflik, tetapi Washington menilai waktu untuk bernegosiasi belum tepat.
Trump mengatakan: “Iran ingin mencapai kesepakatan, tetapi saya tidak ingin melakukannya sekarang karena syarat-syaratnya belum cukup baik.”
Ia menambahkan bahwa Iran harus terlebih dahulu menyerah jika ingin perang yang sedang berlangsung ini benar-benar berakhir.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyebutkan bahwa ia mendengar laporan bahwa pemimpin tertinggi baru Iran kemungkinan telah meninggal dunia, meskipun hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi.
Trump juga menyatakan bahwa Pulau Kharg, yang merupakan pusat ekspor minyak utama Iran, telah dihancurkan sepenuhnya oleh militer Amerika Serikat dalam serangan sebelumnya.
Namun ia menegaskan bahwa serangan tambahan masih mungkin dilakukan jika situasi di lapangan menuntut demikian.
Trump menambahkan bahwa komitmen Iran untuk meninggalkan seluruh program nuklirnya akan menjadi salah satu syarat utama dalam setiap kesepakatan yang mungkin dicapai di masa depan.
Pada 1 Maret 2026, sebuah kapal angkatan laut berlayar di Strait of Hormuz, jalur laut penting bagi sebagian besar pengiriman minyak dan gas dunia. (Foto: AFP)Banyak Negara Ikut Menjamin Keamanan Selat Hormuz
Dalam wawancara tersebut, Trump juga menyinggung mengenai situasi keamanan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu titik terpenting dalam perdagangan energi dunia.
Menurut Trump, sejumlah negara telah berkomitmen membantu menjaga keamanan selat tersebut, guna memastikan kelancaran jalur perdagangan internasional.
Ia juga menyatakan tidak terlalu khawatir terhadap kemungkinan lonjakan harga minyak akibat konflik.
Trump mengatakan: “Cadangan minyak dan gas alam sangat melimpah. Memang saat ini lalu lintas di selat sedikit terganggu, tetapi situasinya akan segera kembali lancar.”
Dalam kesempatan yang sama, Trump kembali mengungkapkan keraguannya mengenai kondisi Mojtaba Khamenei, yang disebut-sebut sebagai pemimpin tertinggi baru Iran.
Beberapa jam sebelum wawancara tersebut, Trump juga mengatakan:
“Saya tidak tahu apakah Mojtaba masih hidup. Sampai sekarang tidak ada yang bisa membuatnya muncul di depan publik.
Saya mendengar bahwa dia mungkin sudah tidak ada lagi.”
Trump menambahkan bahwa apabila Mojtaba Khamenei masih hidup, maka langkah paling bijak yang bisa ia lakukan adalah menyerah demi kepentingan negaranya.
Ketika ditanya mengenai masa depan kepemimpinan Iran, Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat tetap menjaga jalur komunikasi dengan sejumlah tokoh Iran yang dinilai memiliki potensi menjadi pemimpin masa depan.
Ia menyatakan: “Kami mengenal banyak orang berbakat. Mereka sepenuhnya mampu menjadi pemimpin besar bagi Iran di masa depan.”
Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi milik Angkatan Darat Amerika Serikat (HIMARS) melakukan serangan jarak jauh terhadap target militer Iran. (Sumber: Komando Pusat AS)Gedung Putih Ungkap Tujuan “Epic Fury”
Pada hari yang sama, 14 Maret 2026, Gedung Putih merilis sebuah video resmi yang menjelaskan tujuan utama operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran yang disebut sebagai Epic Pury.
Dalam video tersebut dijelaskan bahwa tujuan utama operasi ini adalah untuk menghancurkan jaringan kelompok proksi Iran di Timur Tengah yang selama ini dianggap mengancam stabilitas kawasan.
Dalam rekaman tersebut, Trump mengatakan: “Tujuan operasi ini adalah memastikan kelompok bersenjata yang didukung Iran tidak lagi mampu mengganggu stabilitas kawasan atau menyerang pasukan Amerika.”
Ia menambahkan: “Kami akan memastikan para ekstremis proksi di kawasan ini tidak lagi dapat mengganggu stabilitas regional maupun global, dan tidak lagi dapat menyerang pasukan kami.”
Video B-52 Lepas Landas untuk Serangan Malam
Pada 14 Maret 2026 malma, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) merilis video terbaru yang memperlihatkan pesawat pengebom strategis Boeing B-52 Stratofortress lepas landas untuk menjalankan misi serangan malam terhadap target di Iran.
Video tersebut dipublikasikan melalui platform X (sebelumnya Twitter).
Dalam rekaman tersebut terlihat pesawat pengebom raksasa itu melaju di landasan dalam gelapnya malam sebelum akhirnya lepas landas menuju misi tempur.
Kehadiran B-52 menunjukkan bahwa operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran masih terus berlangsung dengan intensitas tinggi.
Kapal Rudal Iran Buatan Tiongkok Hancur
Militer Amerika Serikat juga merilis rekaman lain yang memperlihatkan serangan terhadap kapal rudal milik Garda Revolusi Iran (IRGC) di sebuah pelabuhan.
Video tersebut menunjukkan kapal rudal yang hancur setelah terkena serangan.
Sejumlah pengamat militer dan warganet segera mengenali bentuk kapal tersebut. Kapal itu diduga merupakan kapal rudal tipe P-29B yang dijual oleh Tiongkok kepada Iran pada tahun 1992.
Pada masanya, kapal ini merupakan salah satu senjata penting Iran untuk mengamankan Selat Hormuz.
Namun dalam konflik terbaru ini, kemampuan sistem tempur Iran dinilai tidak mampu menandingi kekuatan militer Amerika Serikat.
Kelompok kapal induk Amerika Serikat dilaporkan mampu menetapkan zona patroli sejauh 300 hingga 400 kilometer dari wilayah operasi Iran, membuat armada Iran kesulitan melakukan pendekatan.
Drone Iran yang mencoba mendekati wilayah tersebut bahkan dilaporkan langsung ditembak jatuh, sementara posisi kapal induk Amerika sendiri sangat sulit dilacak secara akurat.
Kapal Kargo Tiongkok Diserang di Dekat Selat Hormuz
Sementara itu, perkembangan lain yang cukup menarik terjadi di sekitar Selat Hormuz.
Sebelumnya, pemerintah Iran sempat mengancam akan memblokade selat tersebut, sementara propaganda media Tiongkok menyebutkan bahwa kapal-kapal Tiongkok akan tetap diizinkan melintas dengan aman.
Namun sebuah insiden justru terjadi pada kapal kargo milik Tiongkok.
Menurut laporan Reuters dan sejumlah media internasional, sebuah kapal kontainer besar bernama Yuan Quan Zhu Fu diserang oleh benda tak dikenal ketika berada sekitar 35 mil laut di utara Pelabuhan Jebel Ali, Uni Emirat Arab, saat mendekati Selat Hormuz.
Kapal tersebut merupakan kapal kargo besar milik perusahaan leasing Tiongkok yang terdaftar di Hong Kong.
Sebelum terkena serangan, kapal tersebut terus menyiarkan sinyal AIS dengan pesan:
“Pemilik kapal Tiongkok, pemilik kapal Tiongkok.”
Pesan itu diduga merupakan upaya untuk menunjukkan identitas Tiongkok agar tidak menjadi target serangan.
Namun laporan awal menyebutkan kapal tersebut tetap terkena serangan dan mengalami kebakaran.
Insiden ini menambah ketegangan di kawasan Teluk Persia, yang saat ini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. (***)




