PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membukukan peningkatan laba sepanjang 2025, meski kinerja operasional perusahaan berada di bawah tekanan.
Direktur & Chief Financial Officer PT Vale Indonesia Tbk, Rizky Putra, menyatakan perseroan membukukan laba bersih sebesar USD 76,1 juta atau sekitar Rp 1,29 triliun (kurs Rp 16.981) sepanjang 2025, meningkat 32 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kinerja ini mencerminkan perbaikan operasional yang konsisten, level produksi yang lebih kuat, serta pendekatan yang disiplin dalam efisiensi biaya,” kata Rizky dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa (17/3).
Perseroan juga telah mengalokasikan belanja modal sekitar USD 485,9 juta sepanjang tahun, naik 46 persen dibandingkan USD 332,1 juta pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini terutama didorong oleh kebutuhan pendanaan proyek pengembangan dan modal sustaining.
“Per 31 Desember 2025, saldo kas Perseroan tercatat sebesar USD 376,3 juta, menunjukkan posisi keuangan yang solid untuk mendukung pelaksanaan proyek-proyek pertumbuhan secara tepat waktu,” ucap Rizky.
Dari sisi operasional, PT Vale melaporkan produksi nikel dalam matte mencapai 72.027 metrik ton sepanjang 2025, meningkat dibandingkan realisasi 71.311 ton pada 2024. Secara triwulanan, produksi pada kuartal IV 2025 tercatat sebesar 17.052 ton, atau turun sekitar 12 persen dibandingkan kuartal III 2025 yang mencapai 19.391 ton.
Penurunan ini disebut terutama disebabkan oleh kegiatan pembangunan kembali Furnace 3 yang dimulai pada November dan ditargetkan rampung pada Mei 2026. Jika dibandingkan dengan kuartal IV 2024 yang mencapai 18.528 ton, produksi pada periode yang sama tahun ini juga sedikit lebih rendah.
“Namun secara keseluruhan produksi sepanjang tahun tetap lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Hasil ini mencerminkan komitmen berkelanjutan Perseroan dalam menjaga keandalan operasional dan mengelola produksi secara efisien sepanjang tahun,” tutur Rizky.
Selain itu, PT Vale juga menyebut terus memperluas portofolio komersialnya, antara lain melalui penjualan bijih nikel saprolit dari blok Pomalaa dan Bahodopi. Sepanjang 2025, penjualan bijih saprolit tercatat mencapai 2.316.023 wet metric tons, dengan volume bulanan tertinggi terjadi pada Oktober sebesar 516.167 wet metric tons.
“Secara keseluruhan, Blok Bahodopi memberikan kontribusi terbesar terhadap penjualan bijih saprolit sepanjang tahun,” lanjut Rizky.
Lebih lanjut, Rizky menyatakan pada konsumsi HSFO, diesel, dan batu bara mengalami penurunan seiring dengan volume produksi yang lebih rendah pada Kuartal IV 2025. Kondisi ini terjadi sejalan dengan dimulainya pembangunan kembali Furnace 3 sebagai bagian dari upaya menjaga kapasitas produksi di masa mendatang sekaligus memastikan keselamatan operasional.
“Selama triwulan tersebut, harga HSFO turun sebesar 4 persen, sementara harga diesel dan batu bara masing-masing mengalami kenaikan moderat sebesar 6 persen dan 1 persen,” sebut Rizky.
Prospek Perseroan pada 2026
Rizky menambahkan, perseroan ke depan akan semakin mempertajam fokus strategis melalui pengembangan proyek pertambangan serta fasilitas pengolahan hilir bersama mitra usaha patungan. Khusus di Pomalaa, proyek pertambangan dilaporkan telah mencapai progres sekitar 60 persen, dengan sejumlah fasilitas pendukung untuk tahap awal operasi yang telah berhasil diselesaikan.
“Perkembangan ini sejalan dengan kemajuan proyek HPAL yang telah mencapai sekitar 50 persen tahap konstruksi serta mencatatkan tonggak penting dengan kedatangan empat unit autoclave dan pemasangan unit pertama. Proyek ini tetap berada pada jalurnya untuk mencapai penyelesaian mekanis pertama pada triwulan ketiga tahun 2026,” jelas Rizky.
Ia menuturkan, seluruh inisiatif strategis tersebut dijalankan dengan disiplin keuangan yang pruden, tata kelola yang kuat, serta komitmen terhadap keberlanjutan jangka panjang.





