IYCTC Menilai Penolakan Batas Nikotin dan Tar Rokok Berisiko Picu Beban Demografi

pantau.com
7 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC) menilai penolakan batas kadar nikotin dan tar dalam rokok oleh industri dapat berdampak pada meningkatnya beban demografi akibat tingginya biaya kesehatan dan menurunnya produktivitas generasi muda.

Risiko bagi Generasi Muda dan Kesehatan Publik

Ketua Umum IYCTC Manik Marganamahendra menyatakan hampir 6 juta anak di bawah usia 18 tahun di Indonesia merupakan perokok aktif sehingga kebijakan pengendalian menjadi krusial.

"Saya mengapresiasi Menko PMK serta para pakar kebijakan batasan nikotin dan tar, ini artinya ada keinginan tujuan ekonomi jangka panjang, bukan keuntungan sebagian kecil orang yang mengorbankan sumber daya manusia generasi Emas,” ujarnya.

Ia menegaskan penolakan industri terhadap aturan yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 dinilai bertentangan dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia.

"Kesehatan publik adalah hak yang absolut, tidak dapat dinegosiasikan demi untuk mengejar target profit perusahaan," kata Manik.

Pentingnya Pembatasan Nikotin dan Tar

Ketua Komnas Pengendalian Tembakau Hasbullah Thabrany menjelaskan nikotin bersifat adiktif sementara tar mengandung senyawa karsinogenik yang memicu berbagai penyakit serius.

Ia menilai pembatasan kadar nikotin dan tar penting untuk menekan paparan zat berbahaya terutama pada anak muda.

“Jika melihat produk kretek yang beredar di pasaran, banyak yang sudah memiliki kadar nikotin di bawah 1 mg per batang. Artinya, rekomendasi ini bukan sesuatu yang mustahil diterapkan,” ujar Mouhamad Bigwanto dari Ruang Kebijakan Kesehatan Indonesia.

Ia menambahkan kebijakan tersebut bukan hal baru karena pernah diatur sebelumnya serta dapat diterapkan secara bertahap dalam lima tahun.

"Bagaimanapun, sesuai rekomendasi WHO, tidak ada batas aman kadar nikotin dan tar sehingga aturan ini lebih pada upaya menurunkan risiko, terlebih dengan besarnya korban meninggal akibat penyakit dengan faktor risiko merokok di Indonesia yang kini mencapai 283.000 orang per tahun," kata Bigwanto.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Krakatau IT Gelar Pelatihan AI untuk Peningkatan Kompetensi Guru YPKS
• 16 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Diminta Trump Kirim Pasukan ke Selat Hormuz, Eropa Kompak Menolak!
• 9 jam laludetik.com
thumb
Pukuli Bocah, Pria di Sulsel Divonis Hakim Bersihkan Masjid 2 Jam per Hari
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Momen Siswa Sekolah Rakyat Aceh Besar Bagikan Takjil Gratis
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Arus Mudik Laut Membludak! 308 Ribu Penumpang Padati Pelabuhan Regional 4 hingga H-5 Lebaran 2026
• 8 jam laluterkini.id
Berhasil disimpan.