Pagi itu kami berkendara dari kantor kumparan di Jakarta Selatan menuju Bintaro, Tangerang Selatan, untuk menyambangi kantor salah satu brand modest fashion kebanggaan Tanah Air. Sempat tertahan di lalu lintas yang padat, rasa lelah langsung terbayar begitu tiba di ruang yang dipenuhi energi kreatif.
Selamat datang di Head Office RiaMiranda.
Di kantor itu, meja-meja kerja tampak tenang namun sibuk dalam waktu yang sama. Sementara di ujung ruangan, deretan koleksi busana tersusun rapi, seolah tengah menunggu sentuhan akhir.
Di beberapa sisi dinding, sketsa desain menempel berdampingan dengan foto-foto megah dari runway. Ruangan itu seolah menjadi saksi berbagai proses kreatif yang terus bergerak, dinamis, dan penuh ide.
Tak lama kemudian, sosok yang kami tunggu pun muncul. Ia melangkah tenang dengan pembawaan anggun yang effortless. Dialah Ria Miranda, sang mastermind di balik RiaMiranda, brand yang telah dikenal luas di industri modest fashion Indonesia. Namanya akrab, tetapi tak semua menyadari bahwa perjalanan brand ini telah mendekati dua dekade.
“Minggu-minggu kemarin lagi sibuk launching koleksi Raya, Alhamdulillah. Kalau di pekan ini udah fokus ibadah aja,” jawabnya hangat saat kami bertanya soal kabar dan kesibukannya akhir-akhir ini.
Momen Ramadan diakuinya sebagai peak season bagi brand Muslim Wear sehingga selain mempersiapkan diri untuk ibadah, Ria juga cukup sibuk dalam merilis koleksi spesial yang setiap tahun selalu dinantikan.
Di episode Role Model kali ini, Ria bercerita tentang proses panjang membangun brand sejak 2009 hingga kini memasuki usia 17 tahun. Ia mengisahkan bagaimana sebuah jenama tumbuh, menajamkan arah, dan tetap relevan di tengah perubahan tren serta pergeseran generasi.
Mulai dari menjaga identitas desain, memimpin tim kreatif yang didominasi perempuan, hingga melihat kreativitas sebagai inti yang terus menghidupkan industri fashion.
Berikut kisah selengkapnya.
Brand RiaMiranda hadir sejak 2009. Bagaimana RiaMiranda hadir sejak 2009. Bagaimana Ria memaknai usia 17 tahun ini?Ria Miranda (RM): Alhamdulillah, mencapai usia 17 tahun bukan hal yang mudah. Setiap tahun terasa sekali perjalanannya. Dari dulu rasanya baru 10 tahun, lalu 16 tahun, dan sekarang sudah 17 tahun.
Di usia 17 tahun, rasanya seperti seseorang yang memasuki masa remaja ke dewasa: sudah mulai tahu apa yang diinginkan dan ke mana arahnya. Begitu juga dengan brand. Kami harus semakin jelas membawa brand ini ke mana, siapa target market-nya, dan tujuan apa yang ingin dicapai di fase ini.
Bagaimana Ria menjaga brand ini tetap relevan?RM: Menjaga brand tetap relevan memang jadi tantangan. Saat saya membangun brand ini di usia 25 tahun, target market-nya adalah perempuan seusia saya saat itu. Seiring waktu, desainernya bertambah usia, tapi bagaimana caranya agar brandnya tetap muda, target marketnya tetap perempuan muda.
Salah satu caranya adalah dengan merekrut tim yang usianya dekat dengan market tersebut. Juga banyak berdiskusi dengan generasi baru, termasuk mama-mama muda yang baru berhijab. Kami juga terus berusaha agar brand ini tetap dekat dengan generasi muda.
Tantangannya, banyak yang sudah mengenal Ria Miranda karena menemani ibu atau tantenya ke butik, tetapi belum memakainya sendiri. Karena itu kami mencoba agar suatu saat, ketika mereka sudah memasuki fase hidup yang berbeda, brand ini tetap relevan bagi mereka.
Apa hal baru yang ingin RiaMiranda tawarkan di usia yang sudah cukup matang ini?RM: Di brand ini akhirnya kita memang fokusin ke target market yang memang kita tuju. Yang tadi kita mau serve umur 17 tahun sampai 60 tahun itu kan keluasan, terlalu luas. Tapi akhirnya kita sama tim itu benar-benar bikin formula baru, kita fokus ya, kita fokus.
Ketika kita fokus, Insyaallah itu bisa jadi tim itu gak pusing untuk membayangkan siapa sih yang akan memakai brand kita. Kita mulai dari umur 25 tahun sampai 45 tahun. Kita coba mempersempit market.
Pernah ada di posisi ketika harus memilih antara idealisme desain dan realita bisnis?RM: Mengikuti tren penting bagi sebuah brand, dan itu juga dilakukan Ria Miranda. Tren di Indonesia beragam, mulai dari shimmer hingga warna tertentu. Kami mencoba menyesuaikan dengan tren yang ada, tetapi tetap menjaga DNA brand.
Misalnya, shimmer tetap dihadirkan, tetapi dengan bahan yang lebih lembut. Begitu juga dengan kaftan yang sering menjadi tren saat Lebaran, kami membuatnya dengan sentuhan khas Ria Miranda, seperti dipadukan dengan tunik atau celana.
Bagi saya, konsistensi identitas ini penting agar brand tetap jelas arahnya. Jika terlalu mengikuti tren atau keinginan pasar tanpa batas, orang bisa bingung melihat arah RiaMiranda.
Tantangan juga muncul ketika idealisme desain bertemu dengan realita bisnis. Misalnya, saya pribadi menyukai warna pastel, tetapi di beberapa daerah warna yang lebih cerah justru lebih diminati. Dalam situasi seperti itu, idealisme kadang harus disesuaikan, selama tetap berada dalam karakter RiaMiranda.
Pengalaman apa yang paling membentuk cara Anda memimpin hari ini?RM: Dalam perjalanan ini selalu ada berbagai kejadian. Allah memberi banyak momen yang menjadi pelajaran, baik bagi saya maupun tim. Perjalanannya tidak selalu mulus. Meski dari luar terlihat sudah 17 tahun, ada juga masa ketika saya merasa kecewa dan down, bahkan sempat tidak ingin mendesain lagi.
Namun di balik itu semua selalu ada dukungan dari tim yang menyemangati saya. Saya juga bersyukur bisa bekerja bersama suami yang sampai sekarang saling mendukung. Dukungan itulah yang membuat kami bisa bertahan hingga saat ini.
Proses pendewasaan juga terjadi sepanjang perjalanan ini. Semua tidak datang begitu saja, tetapi melalui berbagai tantangan dan ujian yang pada akhirnya membuat kami menjadi lebih kuat.
Tiga kata untuk menggambarkan gaya kepemimpinan Ria Miranda?RM: Saya mencoba membangun energi positif di dalam tim, fokus pada solusi, dan menjalankan apa yang kita katakan (walk the talk).
Bagaimana Ria menemukan gaya leadership yang sehat?RM: Saya mencoba memimpin dengan pendekatan yang lebih personal. Sebagian besar tim adalah perempuan dan banyak yang juga seorang ibu, jadi pendekatannya tentu berbeda.
Dalam keseharian, saya berusaha dekat dengan mereka, seperti teman atau adik, bahkan terasa seperti keluarga. Hubungan kami memang cukup akrab dan banyak hal dijalani bersama.
Meski begitu, ada momen ketika saya harus bersikap tegas. Tim juga memahami bagaimana cara saya menyampaikan hal tersebut. Biasanya saya tidak marah secara langsung.
Jika ada pekerjaan yang kurang tepat, saya memilih menyelesaikannya sendiri sampai mereka menyadari bahwa sebenarnya saya sedang merasa tidak enak atau sedih.
Apa tantangan terbesar dalam memimpin tim di industri kreatif?RM: Tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi. Mulai dari merilis koleksi secara rutin, menyelenggarakan acara tahunan, membangun komunitas sendiri, hingga menjaga hubungan dengan sesama desainer. Semua itu perlu terus dirawat. Konsistensi inilah yang membuat brand bisa terus bertahan dan tetap hadir di industri ini.
Bagaimana Ria menjaga kreativitas tetap hidup?RM: Agar tidak kehabisan ide, saya merasa penting untuk sering keluar, bertemu banyak orang, dan mencari pengalaman baru. Meski melelahkan, itu justru memberi banyak inspirasi. Hal yang sama juga saya dorong pada tim.
Kami rutin mengadakan kegiatan di luar agar ketika kembali, mereka membawa ide dan cerita baru. Kalau hanya di kantor dan sekadar browsing, rasanya sulit mendapatkan inspirasi.
Sekarang kami juga sudah mulai menyiapkan koleksi Lebaran 2027. Karena itu saya sering mengajak tim keluar dari rutinitas kantor agar bisa melihat lebih banyak hal dan bertukar pikiran.
Kami menonton fashion show, mengikuti perkembangan fashion week, lalu mendiskusikannya bersama untuk menentukan tren dan ide yang ingin diangkat di koleksi berikutnya.
Bagaimana disrupsi AI di dunia fashion?RM: Itu juga menjadi tantangan. AI tentu memberi pengaruh, tetapi saya percaya kreativitas manusia dan sentuhan handcraft tidak bisa tergantikan.
Ide dan cerita yang diangkat, misalnya tentang keindahan budaya Indonesia, lahir dari pengalaman langsung yang tidak bisa digantikan oleh teknologi.
Jadi menurut saya tidak perlu takut. Di dunia fashion, AI mungkin bisa menjadi pendukung, tetapi desain dan kreativitas tetap berasal dari manusia.
Apa perubahan paling signifikan yang terjadi di dunia modest fashion?RM: Generasinya memang berbeda. Tren di era 2000-an hingga sekitar 2020 tentu tidak sama dengan tren setelahnya. Apa yang menjadi andalan juga terus berubah. Karena itu kami berusaha tetap mengenal perkembangan di industri modest fashion, termasuk dari brand-brand yang lebih muda.
Tantangannya, saya tidak lagi seusia dengan generasi tersebut. Jadi kami banyak belajar melalui tim yang usianya lebih dekat dengan mereka. Kami mencoba memahami apa yang mereka sukai, hobi mereka, dan gaya hidupnya, lalu menerjemahkannya ke dalam ide desain.
Apakah Ria merasa ada tanggung jawab tertentu ketika karya Anda jadi referensi banyak orang?RM: Mungkin karena kami memulai lebih dulu, jadi ada tanggung jawab untuk tetap menjaga arah dan nilai yang dibawa. Saya merasa perlu menjaga pakem busana Muslim.
Saat photoshoot maupun fashion show, semuanya dijaga agar tetap sesuai dengan prinsip modest wear. Bahkan sampai di backstage para model tetap menggunakan dalaman yang menutup dengan baik. Di awal memang ada banyak tantangan untuk bisa menerapkan itu, tetapi saya percaya selama niatnya benar, kita tidak perlu.
Bagaimana Ria melihat posisi Indonesia dalam peta global modest fashion saat ini?RM: Menurut saya, Indonesia justru semakin terlihat sebagai salah satu pusat tren modest fashion dunia. Kreativitasnya tinggi dan banyak brand baru bermunculan dengan ide yang menarik. Hal yang positif, perkembangan ini juga membuat banyak perempuan yang sebelumnya belum berhijab menjadi tertarik karena melihat gaya yang lebih beragam.
Jika dibandingkan dengan negara lain seperti Timur Tengah atau Malaysia yang juga kuat di modest fashion, Indonesia memiliki energi baru dari banyaknya brand muda yang kreatif. Itu membuat industri ini terus berkembang dan semakin diperhitungkan.
Menurut Anda, apa tantangan terbesar bagi modest fashion Indonesia jika ingin benar-benar kompetitif secara global?RM: Dukungan pemerintah tentu penting bagi para pelaku industri. Selain itu, kolaborasi di antara para desainer dan pemilik brand juga sangat dibutuhkan. Kami perlu saling berdiskusi tentang tren, berbagi ide, bahkan mungkin mengadakan fashion show atau kegiatan bersama. Dengan begitu, tren yang muncul bisa berkembang lebih kuat dan bertahan lebih lama.
Value apa yang ingin Ria sampaikan melalui koleksi Raya tahun ini?RM: Tema koleksi Raya tahun ini adalah Lentera. Lentera melambangkan cahaya yang menuntun. Saya berharap brand RiaMiranda bisa menjadi cahaya yang memberi energi positif bagi banyak orang, dengan cara yang menenangkan dan tidak menyilaukan.
Semoga apa yang kami lakukan bisa memberi manfaat, baik bagi saya pribadi, tim, maupun para pelanggan.
Bagi kumparanWOMAN, Ria Miranda adalah role model. Bagaimana perasaan Anda?RM: Masya Allah, saya tersanjung sekali disebut seperti itu. Menjadi role model tentu bukan hal mudah karena tanggung jawabnya besar. Saya merasa perlu terus menghadirkan nilai-nilai kebaikan dalam setiap hal yang kami buat, baik melalui media sosial maupun koleksi yang dirilis.
Saya berharap apa yang kami lakukan bisa menjadi penyemangat bagi para muslimah untuk terus belajar dan berkembang, karena pada akhirnya kita semua juga masih dalam proses belajar.
Siapa sosok role model bagi Ria Miranda?RM: Sejak dulu saya selalu mengatakan bahwa role model saya adalah ibu saya sendiri. Dari beliau saya belajar tentang kesederhanaan dan ketulusan. Ia tidak pernah hidup berlebihan, tetapi selalu memiliki rasa peduli, suka berbagi, dan menyayangi orang lain. Nilai-nilai itulah yang ingin saya bawa ke dalam brand ini.





