Serangan drone kembali menghantam pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab (UEA) pada Selasa (17/3), memicu kebakaran dan menghentikan aktivitas ekspor minyak. Gangguan ini memperparah krisis energi yang tengah mendorong lonjakan harga global.
Ekspor minyak UEA dari Fujairah kini masih terhenti. Padahal, pelabuhan ini menjadi salah satu jalur utama pengiriman minyak ke pasar dunia.
“Loading minyak mentah ADNOC masih dihentikan di Fujairah,” kata sumber yang mengetahui situasi tersebut, dikutip dari Reuters.
Serangan ini terjadi setelah drone juga menghantam ladang gas Shah pada Senin (16/3). Hingga kini, operasi di fasilitas energi utama itu masih belum pulih.
Ladang Shah yang berada sekitar 180 km dari Abu Dhabi merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Fasilitas ini memasok setidaknya 500 juta kaki kubik gas per hari untuk kebutuhan domestik.
Ladang tersebut dioperasikan oleh Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi (ADNOC) bersama Occidental Petroleum.
Serangkaian gangguan ini membuat produksi minyak UEA turun lebih dari separuh sejak konflik memanas. ADNOC bahkan terpaksa menghentikan sebagian produksi karena distribusi tersendat.
Menurut laporan Reuters, situasi makin rumit karena jalur ekspor lain berada di kawasan Teluk. Wilayah ini praktis terisolasi akibat tekanan Iran di Selat Hormuz, jalur sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Fujairah berada di luar Selat Hormuz dan biasanya menyalurkan lebih dari 1 juta barel minyak per hari. Namun, serangan beruntun membuat operasionalnya kini hanya berjalan terbatas.
Dalam beberapa pekan terakhir, negara-negara Teluk, termasuk UEA, telah menjadi sasaran lebih dari 2.000 serangan drone dan rudal. Targetnya mencakup fasilitas energi, pelabuhan, hingga kawasan permukiman.





