Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyerukan kepada negara-negara sekutu untuk mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz guna melindungi kapal-kapal dagang serta memulihkan pasokan minyak dunia. Namun, sejauh ini permintaannya dijawab dengan sejumlah penolakan.
Pada Sabtu (14/03) lalu, Trump menulis di platform Truth Social. Isinya, mendesak UK, China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan negara lain bergabung dalam sebuah "upaya bersama" membuka jalur laut tersebut.
Trump kembali mengulangi seruannya dalam sebuah unggahan pada Sabtu malam. Pesannya ditujukan kepada seluruh "negara di dunia yang menerima pasokan minyak melalui Selat Hormuz." Ia menegaskan, AS akan memberikan "banyak" dukungan bagi negara-negara yang bersedia ambil bagian dalam upaya tersebut.
Dalam wawancara dengan Financial Times yang terbit Minggu (15/03), ia mempertegas pernyataannya. Trump menyatakan bahwa kegagalan menjamin keamanan transportasi maritim akan "sangat merugikan masa depan NATO."
Selat Hormuz telah ditutup oleh Teheran sebagai balasan atas serangan udara AS dan Israel. Penutupan itu telah memukul keras sektor energi dan perdagangan global.
Selat Hormuz merupakan rute pengiriman minyak tersibuk di dunia, sekitar 20% pasokan global biasanya melintas di sana. Penutupan jalur ini memicu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah sekaligus lonjakan harga minyak mentah dunia.
Reuters
Lalu, apakah negara-negara sekutu bersedia mengirim kapal untuk mengawal armada dagang melewati jalur laut vital itu?
UK, Jerman, Australia, Spanyol, dan Jepang termasuk di antara negara yang secara tegas menyatakan tidak akan mengirim kapal dalam perang melawan Iran.
Dalam konferensi pers di Downing Street pada Senin (16/03), Perdana Menteri UK, Keir Starmer, menegaskan bahwa negaranya tidak akan "terlibat dalam perang yang lebih luas" di Iran.
Dia menambahkan, London tengah "bekerja sama dengan sekutu" untuk merumuskan rencana yang layak membuka kembali Selat Hormuz, namun menekankan bahwa misi tersebut bukan bagian dari NATO.
'Ini bukan perang kami'Di Jerman, Menteri Pertahanan Boris Pistorius menolak permintaan Trump mentah-mentah.
"Apa yang diharapkan Trump dari segelintir [kapal] fregat Eropa yang tidak mampu dilakukan oleh Angkatan Laut AS yang begitu kuat?" cetusnya.
"Ini bukan perang kami. Kami tidak memulainya."
Sementara itu, juru bicara Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menyatakan perang melawan Iran "tidak ada kaitannya dengan NATO" dan "bukan perang NATO."
Tak lama kemudian, Merz menutup kemungkinan keterlibatan Jerman.
"Kami tidak memiliki mandat dari PBB, Uni Eropa, maupun NATO, sebagaimana disyaratkan oleh Konstitusi. Karena itu, sejak awal sudah jelas bahwa perang ini bukan urusan NATO," tegasnya dalam konferensi pers di Berlin.
Dia menambahkan, baik Amerika Serikat maupun Israel tidak pernah berkonsultasi dengan Jerman sebelum melancarkan operasi militer.
"Karena itu, pertanyaan tentang bagaimana Jerman bisa terlibat secara militer dalam konflik ini bahkan tidak pernah dipertimbangkan," pungkasnya.
- Mengapa AS menyerang Pulau Kharg milik Iran?
- Pasukan marinir AS dan kapal-kapal perang tambahan dipindahkan ke Timur Tengah
- 'Tak ada tempat untuk bersembunyi di kapal' Kisah para awak kapal yang terjebak di perairan Selat Hormuz
Di Madrid, pemerintah Spanyol menegaskan tidak akan ikut serta dalam operasi militer di Selat Hormuz karena menilai perang ASIsrael melawan Iran sebagai tindakan ilegal. Pernyataan itu disampaikan Menteri Pertahanan, Margarita Robles, dan Menteri Luar Negeri, Jose Manuel Albares, pada Senin (16/03).
Robles menolak permintaan Presiden AS Donald Trump agar Spanyol memberikan dukungan militer untuk mengamankan jalur laut yang secara de facto telah ditutup Teheran bagi kapal-kapal tanker minyak. Dia juga menepis ancaman Trump soal "masa depan yang sangat buruk" bagi sekutu NATO yang menolak ikut serta.
"Spanyol tidak akan pernah menerima solusi tambal sulam, karena tujuan utama haruslah mengakhiri perang, dan mengakhirinya sekarang," tegas Robles.
Menlu Jose Manuel Albares menambahkan, situasi di Selat Hormuz memang menjadi perhatian serius bagi Eropa, namun sikap Uni Eropa harus jelas: perang harus dihentikan, terlepas dari pertimbangan ekonomi.
"Kita tidak boleh melakukan apa pun yang justru menambah ketegangan atau memperburuk eskalasi," ujarnya.
AS-Israel rutin menggempur Teheran sejak 28 Februari lalu. (Getty Images)
Di Jepang, Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi menyampaikan kepada parlemen pada Senin (16/03) bahwa "melihat situasi terkini dengan Iran, kami saat ini tidak mempertimbangkan peluncuran operasi keamanan maritim."
Di Australia, Menteri Infrastruktur dan Transportasi, Catherine King, juga menegaskan dalam wawancara dengan ABC pada Senin (16/03) bahwa negaranya tidak akan mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.
Adapun China, juru bicara Kedutaan Besar China di Washington tidak menyebutkan apakah Beijing akan menerima permintaan Trump, namun menekankan bahwa semua pihak memiliki tanggung jawab untuk menjamin pasokan energi yang stabil dan tidak terhambat.
Sementara di Korea Selatan, kantor kepresidenan menyatakan bahwa negara itu akan "menjaga komunikasi erat dengan Amerika Serikat terkait masalah ini dan mengambil keputusan setelah kajian yang cermat."
- Perang AS-Israel vs Iran mengancam pangan, farmasi, dan tambang Produksi nikel Indonesia terganggu
- Negara mana yang diuntungkan dari perang di Timur Tengah dan negara mana yang paling terdampak?
- Puluhan negara melepas cadangan minyak terbesar dalam sejarah, kapal-kapal kargo diserang di Selat Hormuz
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan Teheran tidak meminta gencatan senjata maupun bertukar pesan dengan Washington, serta menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap tertutup "bagi musuh-musuh kami."
Araghchi menambahkan: "Mereka (Amerika) meminta negara lain datang membantu agar Selat Hormuz tetap terbuka dari sudut pandang kami, jalur itu terbuka."
"Selat hanya tertutup bagi musuh-musuh kami, mereka yang melakukan agresi tidak adil terhadap negara kami dan sekutunya," pungkasnya.
Pernyataan yang ironisMenurut koresponden diplomatik BBC, Paul Adams, "selama dua masa jabatannya, Donald Trump tidak segan mengkritik bahkan menyerang negara-negara anggota NATO."
Namun, pernyataan terbarunya bahwa kegagalan mengamankan Selat Hormuz akan "sangat buruk bagi masa depan NATO" menurut Adams, mengandung tafsir atas tujuan NATO.
"NATO dibentuk sebagai aliansi pertahanan," ujar Jenderal Nick Carter, mantan Kepala Staf Pertahanan UK, kepada BBC pada Senin (16/03).
"Itu bukan aliansi yang dirancang agar salah satu anggotanya bisa berperang atas inisiatif sendiri dan memaksa semua pihak ikut serta," katanya. "Saya tidak yakin itu jenis NATO yang ingin kita ikuti."
Adams juga menyoroti ironi pernyataan Trump, mengingat dua bulan lalu ia berkeras mengklaim Greenland, wilayah berdaulat milik anggota NATO. "Hal ini mungkin menjelaskan mengapa sejumlah respons terdengar begitu blak-blakan," tambahnya.
Dari Gedung Putih pada Senin, Trump menyatakan bahwa ia meminta bantuan negara lain di Selat Hormuz "bukan karena kami membutuhkannya, tetapi karena saya ingin melihat bagaimana mereka bereaksi."
Ia kembali menegaskan pernyataan sebelumnya: bahwa Amerika Serikat selalu melindungi negara lain, tetapi mereka tidak melindungi AS ketika paling dibutuhkan.
BBC
>(ita/ita)





