Kolaborasi Indonesia-AS Dorong Ekstraksi Litium dari Panas Bumi di Dieng

pantau.com
4 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Badan Perdagangan dan Pembangunan Amerika Serikat (USTDA) mendukung penerapan teknologi asal Amerika Serikat untuk meningkatkan pengolahan mineral kritis litium dari operasi energi panas bumi di Indonesia melalui proyek percontohan yang didanai lembaga tersebut.

Informasi ini disampaikan dalam rilis Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta pada Selasa (17/3).

Perusahaan Lilac Solutions, Inc. yang berbasis di California akan mendemonstrasikan teknologi pertukaran ion di fasilitas PT Geo Dipa Energi (GDE) di lapangan panas bumi Dieng, Jawa Tengah.

Penguatan Industri Baterai Nasional

Direktur Utama GDE Yudistian Yunis menyatakan dukungan USTDA menjadi langkah penting untuk memperkuat kemandirian Indonesia dalam memenuhi kebutuhan litium.

Ia menilai dukungan tersebut juga mempererat kolaborasi strategis antara Indonesia dan Amerika Serikat serta mendukung pengembangan industri baterai nasional.

"Litium secara alami terkandung dalam air panas bumi yang sudah menjadi bagian dari operasi panas bumi yang ada, sehingga kami dapat menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal sambil tetap menjaga kelestarian lingkungan," ungkapnya.

Yunis menambahkan dukungan USTDA diharapkan mempercepat akses terhadap inovasi dan keahlian dari Amerika Serikat serta membuka peluang kerja sama dengan calon pembeli dari Amerika.

Menurutnya, kolaborasi tersebut juga berpotensi menarik investasi lanjutan, memperkuat skalabilitas proyek, meningkatkan ketahanan rantai pasok, serta mendorong pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.

Proyek Percontohan dan Teknologi AS

Wakil Direktur USTDA Thomas R. Hardy menyatakan fasilitas tersebut akan menjadi yang pertama di Indonesia dalam mengekstraksi litium dari air panas bumi.

Ia menyebut proyek ini akan menciptakan sumber pasokan litium yang andal untuk mendukung kebutuhan teknologi modern dan energi di Indonesia.

"Keamanan dan kemakmuran Amerika bergantung pada akses terhadap mineral kritis dari sumber yang terpercaya," ia mengungkapkan.

"Proyek ini menyoroti nilai solusi AS dalam membangun rantai pasok yang tangguh dan mendorong pengembangan sumber daya yang bertanggung jawab bersama mitra kami di Indonesia," lanjutnya.

Teknologi pertukaran ion yang diterapkan Lilac bertujuan menghasilkan litium karbonat berkualitas tinggi secara efektif dan bertanggung jawab.

CEO Lilac Raef Sully menyatakan dukungan USTDA membuka peluang bagi perusahaan teknologi Amerika untuk bersaing di pasar global.

"Lapangan panas bumi Indonesia memiliki potensi litium yang besar dan belum dimanfaatkan, dan proyek ini akan membuktikan bahwa teknologi pertukaran ion Amerika dapat mengoptimalkannya secara bertanggung jawab dan berskala besar," ujarnya.

USTDA merupakan inisiatif pemerintah Amerika Serikat yang mendukung pengembangan infrastruktur di negara berkembang melalui pendanaan tahap awal teknis proyek.

Dukungan tersebut juga menghubungkan GDE dengan calon pembeli litium karbonat dari Amerika Serikat serta membantu menarik investasi dan pengadaan barang dan jasa.

Proyek ini diharapkan membuka peluang baru bagi pengembangan energi panas bumi di Indonesia dan kawasan Indo-Pasifik.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prakiraan Cuaca BMKG 17 Maret 2026: NTT dan Sulbar Hujan Sangat Lebat, Petir Ancam Tiga Kota
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
Michael B. Jordan Jadi Aktor Terbaik Oscar 2026, Cetak Sejarah Lewat Peran Ganda di Sinners
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Wacana Potong Gaji Menteri dan Pejabat Dinilai Cuma Simbolik, DPR: Harus Ada Langkah Lebih Konkret
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
BI Rate Diproyeksi Kembali Tertahan di Level 4,75%, BCA Soroti Tekanan Eksternal
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Simak, 3 Cara Memantau Kemacetan Arus Mudik dari HP
• 6 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.