Warisan Spiritualitas Pangeran Diponegoro Relevan hingga Kini

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Sosok Pangeran Diponegoro bukan sekadar tokoh perang nasional, tetapi sebagai figur spiritual, intelektual, dan pemimpin dengan dimensi batin yang sangat kuat. Kesederhanaan dan keberpihakannya pada rakyat kecil, serta sikap kritis terhadap kekuasaan feodal, masih sangat relevan pada bangsa Indonesia saat ini.

Sejarawan, Peter Brian Ramsay Carey atau akrab disapa Peter Carey mengungkapkan bahwa pangeran bernama lengkap Bendara Raden Mas Mustahar itu adalah seorang mistikus Islam, khususnya dalam tradisi tasawuf yang terhubung dengan tarekat Syattariyah dan Naqsyabandiyah. Identitas spiritual ini menjadi inti dari seluruh tindakan dan kepemimpinannya.

Sejak lahir, Diponegoro dianggap memiliki takdir besar. Kakek buyutnya, Sultan Hamengkubuwono I (Mangkubumi), bahkan meramalkan ia kelak membawa dampak besar, termasuk dalam perlawanan terhadap Belanda. Ia kemudian diasuh Ratu Ageng, perempuan kuat dan religius yang membentuk karakter Diponegoro dalam lingkungan spiritual yang ketat.

Di Tegalrejo, tempat ia tumbuh, Diponegoro hidup di tengah suasana religius yang kental, dengan banyak ulama, santri, dan diskusi keagamaan. Lingkungan ini menjadikannya tidak hanya religius, tetapi juga intelektual.

Didikan Ratu Ageng menanamkan nilai kerendahan hati yang mendalam. Bahkan seorang sultan, menurut ajaran tersebut, pada akhirnya hanyalah “wong cilik” di hadapan Tuhan. Nilai inilah yang menjadi fondasi moral Diponegoro dalam hidup dan perjuangannya.

"Jadi ini adalah default setting (sifat asli) Diponegoro, yang sangat polos, sangat ramah, dan sangat mau membaur dengan wong cilik," kata Peter dalam acara bincang buku bertajuk “Diponegoro as a Muslim Sufi in Shattariyah Tradition” yang digelar Penerbit Buku Kompas di Ruang Kompas Institute, Jakarta, Selasa (17/3/2026).

Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro belum selesai secara makna.

Peter melanjutkan, salah satu konsep penting yang diangkat Diponegoro adalah “silent space”, yakni ruang batin yang selalu dijaga di tengah kesibukan dan peperangan. Ia secara konsisten menyediakan ruang privat untuk berzikir, bermeditasi, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Baca JugaHologram Diponegoro

Dari ruang batin inilah, segala keputusan dan tindakan diambil. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Diponegoro berakar pada kedalaman spiritual, bukan sekadar strategi militer atau politik.

Penulis dan guru tasawuf

Selain sebagai pemimpin perang, Diponegoro juga merupakan seorang penulis dan guru tasawuf. Ia menulis karya-karya penting, termasuk saat dalam pengasingan di Makassar, di Fort Rotterdam.

Dalam masa pengasingannya (1835–1844), ia aktif mengajarkan tasawuf dan menghasilkan naskah-naskah yang menekankan pentingnya bimbingan guru spiritual dalam perjalanan menuju Tuhan.

Ia menegaskan bahwa pencarian spiritual tidak bisa dilakukan sembarangan, melainkan harus melalui guru yang memiliki sanad keilmuan yang sah hingga Rasulullah.

Baca JugaPerang Diponegoro Perjuangan Mempertahankan Martabat Bangsa

Ajaran tasawuf dari tarekat syattariyah yang dianut Diponegoro mencakup praktik zikir, pengendalian nafas, serta pencapaian "insan kamil" atau manusia sempurna secara spiritual. Ciri insan kamil antara lain adalah kesederhanaan dalam ucapan, kecenderungan menyendiri untuk menjaga kehidupan batin, dan menjauh dari simbol-simbol duniawi yang tidak selaras dengan iman.

"Tarekat yang paling jelas adalah syattariyah pada abad ke-18, ini masa perkembangan pesat dan pelembagaan ajaran sufi di Nusantara, terutama di Jawa, Sumatra, dan Cirebon," ucap Peter.

Peter juga bercerita tentang kehidupan Diponegoro selama perang dan pelarian. Meskipun sakit dan dalam kondisi sulit, ia tetap menunjukkan ketangguhan fisik dan spiritual. Ia juga memiliki kedekatan dengan dunia simbolik dan pusaka, yang diyakini memiliki makna dan kekuatan tertentu. Namun, semua itu tetap berada dalam kerangka spiritualitas, bukan sekadar kepercayaan magis.

Setelah Perang Jawa, dampak perjuangan Diponegoro tidak berhenti. Para pengikutnya menyebar ke berbagai wilayah, terutama Jawa Timur, membuka pemukiman baru, membangun komunitas, dan membawa tradisi spiritual yang diwariskan Diponegoro.

Bahkan, lanjut Peter, ada keterkaitan historis antara diaspora pengikut Diponegoro dengan perkembangan komunitas keagamaan, termasuk yang kemudian berkontribusi pada lahirnya Nahdlatul Ulama.

Baca JugaPenangkapan Diponegoro dan Berakhirnya Perang Jawa

Peter menegaskan, Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro belum selesai secara makna. Dampaknya masih terasa hingga kini, baik dalam aspek sosial, budaya, maupun spiritual. Sejarah dipandang sebagai proses yang terus bergerak, bukan sesuatu yang statis.

Dalam konteks masa kini, Peter menyayangkan bahwa praktik korupsi masih terasa seperti hal yang “lumrah”. Padahal, bangsa ini memiliki potensi besar, terbukti dari capaian ilmiah seperti penemuan vitamin B1 di Batavia pada awal abad ke-20. Potensi kecerdasan dan inovasi itu tidak kalah dengan bangsa lain, tetapi sulit berkembang optimal jika tidak ditopang oleh sistem yang bersih dan institusi yang kuat.

"Konteks sekarang dari Diponegoro adalah untuk berani mengatakan, tidak pada korupsi, tidak boleh lagi korupsi! dia berani mengatakan itu kepada orang Belanda," tutur Peter.

Baca JugaDiponegoro dalam Tafsir Visual

Associate Researcher Kajian Papua LSPP, Mira Oktaviana menambahkan, dijelaskan bahwa gerakan tarekat merupakan bagian dari siklus sosial yang terus berulang. Sepanjang sejarah, gerakan berbasis spiritual kerap muncul di berbagai wilayah dan tidak pernah benar-benar hilang, meski berulang kali ditekan.

“Gerakan-gerakan itu akan selalu ada ketika nilai-nilai yang mapan tidak lagi menawarkan kedamaian, maka gerakan itu muncul lagi, silih berganti," kata Mira.

Namun, warisan Diponegoro mengalami reduksi dalam narasi kolonial. Ia sengaja dicitrakan sebagai pemberontak semata, bahkan sempat “diharamkan” untuk dibicarakan. Akibatnya, dimensi spiritual dan intelektualnya lama terpinggirkan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Berani Bicara! Atlet Kickboxing Wanita Indonesia Bongkar Dugaan Kekerasan Seksual di Dunia Olahraga
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Pyridam Farma (PYFA) akan Gelar Right Issue 5,7 M Saham untuk Rencana Akuisisi
• 14 jam lalukatadata.co.id
thumb
Bak Bumi dan Langit, Beda Perlakuan AFC Atas Sanksi Timnas Timor Leste dan Malaysia Soal Pemain Naturalisasi Ilegal: Ranking FIFA Jadi Pembeda
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Kasus Penyiraman Air Keras, Firdaus Oiwobo Malah Salahkan Aktivis KontraS: Jadi Aktivis Jangan Berlebihan!
• 9 jam laludisway.id
thumb
Ekonomi RI Tumbuh di Kuartal I 2026, Rupiah Tertekan Gejolak Global
• 7 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.