Oleh: Widyawan Setiadi
Takalar
Di ujung selatan Kabupaten Takalar, Desa Laikang terbentang di kawasan pesisir. Masyarakat setempat menggantungkan hidupnya pada laut, menjalani aktivitas sehari-hari di hamparan perairan yang luas.
Kepala Desa Laikang, Nursalim, memahami betul bagaimana desa ini tumbuh dan berkembang bersama laut. Sejak lama, masyarakat menggantungkan mata pencaharian pada dua komoditas utama, yakni rumput laut dan lobster.
Kedua komoditas tersebut menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat pesisir di Kecamatan Laikang. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pola kehidupan itu mulai mengalami perubahan.
Perubahan paling signifikan terjadi pada November 2025. Nursalim mengungkapkan bahwa para petambak lobster menemukan kondisi yang tidak biasa di keramba mereka. Lobster yang sebelumnya aktif tiba-tiba mati secara massal. Sekitar 90 persen hasil budidaya di desa tersebut hilang dalam waktu singkat.
“Awalnya masyarakat tidak mengetahui penyebabnya. Namun, warga menduga hal ini dipicu oleh suhu panas dari PLTU yang berada di seberang,” ujar Nursalim.
Ia menjelaskan bahwa air limbah yang dibuang dari PLTU diduga memiliki suhu lebih tinggi dari kondisi normal, kemudian mengalir langsung ke Teluk Laikang.
Pemerintah desa, lanjutnya, telah beberapa kali mencoba melakukan audiensi dengan pihak perusahaan, namun hingga kini belum mendapatkan kejelasan. Sementara itu, para petambak terus mengalami kerugian. Padahal, budidaya lobster di Laikang sebelumnya pernah mencapai masa kejayaan.
Nursalim mengenang bahwa budidaya lobster di desa tersebut mulai berkembang sejak 2008, saat ia menjadi salah satu pelopor. Dalam tiga tahun pertama, produksinya meningkat pesat dan menarik minat masyarakat.
“Sekitar seratus kepala keluarga kemudian ikut membudidayakan lobster,” kenangnya.
Di perairan Laikang, keramba lobster berdampingan dengan bentangan tali rumput laut, mencerminkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan potensi laut. Namun, dalam tiga tahun terakhir, hasil budidaya terus menurun.
“Faktor cuaca mungkin berpengaruh, tetapi hanya sekitar 15 persen,” jelasnya.
Pemerintah desa belum dapat memastikan apakah penurunan tersebut disebabkan oleh aktivitas industri atau faktor lain, karena diperlukan kajian yang lebih komprehensif. Selain lobster, produksi rumput laut juga mengalami penurunan signifikan.
Sebelumnya, petani rumput laut dapat memanen dalam waktu 40 hari. Kini, banyak yang terpaksa memanen lebih cepat, sekitar 20 hari, bukan karena siap panen, melainkan untuk menyelamatkan tanaman yang mulai rusak.
Dampaknya, kualitas rumput laut menurun, ukuran lebih kecil, dan harga jual merosot tajam. Jika sebelumnya harga mencapai Rp48 ribu per kilogram, kini hanya berkisar Rp15 ribu.
Penurunan harga ini menjadi pukulan berat bagi masyarakat pesisir, mengingat pilihan mata pencaharian di Laikang sangat terbatas.
“Masyarakat hanya bergantung pada rumput laut dan lobster,” kata Nursalim.
Akibat kondisi tersebut, sebagian warga memilih mencari pekerjaan di luar daerah. Ada yang bekerja sebagai buruh perusahaan, pekerja lepas, hingga menjadi pengemudi ojek online di kota.
Pemerintah desa, menurut Nursalim, tidak tinggal diam. Kondisi ini telah dilaporkan kepada pemerintah kabupaten, bahkan Bupati Takalar sempat meninjau langsung situasi di lapangan.
Dalam pertemuan tersebut, pemerintah desa kembali menegaskan ancaman terhadap keberlanjutan budidaya lobster dan rumput laut. Namun, dalam menghadapi tekanan lingkungan dan perubahan alam, kapasitas masyarakat masih terbatas.
“Ini juga faktor alam. Masyarakat hanya berharap ada solusi untuk mengantisipasi kondisi ini,” jelasnya. (*/)




