Lisbon, VIVA – Sepak bola selalu punya cara kejam untuk mengingatkan bahwa pertandingan belum usai sebelum peluit panjang berbunyi. Hal inilah yang baru saja dirasakan pahit oleh klub asal Norwegia, FK Bodo/Glimt.
Datang dengan modal kemenangan telak di leg pertama, mereka justru harus pulang dengan kepala tertunduk setelah dihancurkan Sporting Lisbon dengan skor mencolok 0-5 di Estadio Jose Alvalade dalam duel leg 2 babak 16 besar Liga Champions, Rabu dini hari WIB, 18 Maret 2026.
Modal Besar yang Terbuang
Banyak pihak yang menjagokan Bodo/Glimt untuk melenggang ke babak berikutnya setelah mereka tampil perkasa di leg pertama dengan melibas Sporting Lisbon 3-0. Keunggulan agregat tersebut seharusnya menjadi bantalan yang sangat nyaman untuk melaju ke fase selanjutnya.
Namun, yang terjadi di Estadio Jose Alvalade justru menjadi mimpi buruk nyata. Keunggulan tiga gol tersebut seolah menguap begitu saja di bawah tekanan atmosfer stadion dan agresivitas pasukan tuan rumah.
Jalannya Pertandingan: Dominasi Total Sporting
Sejak menit awal, Sporting Lisbon langsung tancap gas. Gempuran demi gempuran dilancarkan yang membuat pertahanan Bodo/Glimt kocar-kacir.
Gonçalo Inácio membuka keran gol Sporting pada menit ke-34, yang kemudian disusul oleh gol Pedro Gonçalves di menit ke-61. Tekanan semakin tak terbendung saat Luis Suárez menambah keunggulan melalui titik putih pada menit ke-78, menyamakan agregat menjadi 3-3.
Laga yang berlanjut hingga babak tambahan (Extra Time) menjadi panggung bagi Sporting untuk menyempurnakan comeback mereka. Maximiliano Araújo mencetak gol di menit ke-92, dan Rafael Nel mengunci kemenangan telak 5-0 lewat golnya di menit ke-120+1.
"Remontada" yang Menyakitkan
Hasil ini menjadi salah satu remontada paling memalukan bagi Bodo/Glimt. Strategi bertahan yang terlalu pasif terbukti menjadi bumerang, memberikan ruang bagi Sporting untuk mendikte permainan sepenuhnya.
Bagi Sporting Lisbon, kemenangan ini adalah bukti mentalitas juara mereka. Sementara bagi Bodo/Glimt, ini adalah pelajaran sangat mahal bahwa meremehkan lawan saat unggul jauh bisa berakibat fatal.





