tvOnenews.com - Saat Megawati Hangestri masih membela Red Sparks, pencapaiannya berhasil menyaingi beberapa pemain domestik Korea yang berstatus bergaji tinggi namun minim prestasi.
Pada musim pertamanya di Liga Voli Korea (V-League), Megawati – yang dijuluki “Megatron” – bahkan sempat membuat frustrasi Ratu Voli Korea, Kim Yeon-koung, dalam laga Red Sparks melawan Pink Spiders.
Meski awalnya diremehkan karena berasal dari Asia Tenggara, Megawati perlahan membawa Red Sparks yang sebelumnya tim medioker untuk lolos ke play-off V-League untuk pertama kalinya sejak 2011, setelah menempati posisi ketiga di babak penyisihan.
- Kolase tvOnenews / Instagram/gia_day / KOVO
Prestasinya tak berhenti di situ; ia berhasil masuk tiga besar perolehan top skor selama dua musim berturut-turut.
Puncaknya, Megatron hampir membawa Red Sparks yang awalnya tim medioker menjadi juara V-League 2024/2025 usai bertarung 5 gim melawan Pink Spiders.
Ko Hee-jin sampai takjub melihat kemampuan Megatron, yang tetap berjuang di gim ke-5 dalam kondisi sedang cedera.
Selama membela Red Sparks, Megawati juga pernah menghadapi pemain domestik Korea, yakni Kang So-hwi.
Saat itu, Kang So-hwi banyak mendapat kritik dari penggemar voli Korea karena dianggap pemain dengan gaji fantastis namun minim kontribusi saat masih di GS Caltex.
- Instagram/hipassvolleyclub
Namun, musim ini Kang So-hwi membuktikan kapasitasnya. Ia berhasil membawa Korea Expressway Hi-Pass menjadi juara musim reguler Liga Voli Korea 2025/2026, membuktikan bahwa kritik terkait “nilai pasarnya” kini tidak relevan.
Tim Korea Expressway Corporation bahkan menempati posisi pertama di musim reguler untuk pertama kalinya sejak 2017-18, sekaligus keempat kalinya sejak berdirinya tim.
Media Korea sempat menyoroti kontrak Kang yang mencapai 800 juta won per tahun dan memberinya julukan “Ratu Gaji” untuk divisi putri pada musim 2024-2025.
Meski begitu, awal musim V-League sempat menampilkan performa kurang maksimal dari Kang; ia hanya mencetak rata-rata 10 poin per pertandingan dengan tingkat keberhasilan serangan 29,68%. Kritikan pun muncul bahwa keterampilannya “terlalu tinggi dibandingkan gajinya.”



