Cahaya Misterius Jelang Ramadan Bikin Ilmuwan Asing Penasaran

cnbcindonesia.com
14 jam lalu
Cover Berita
Foto: Data inframerah dari Spitzer Space Telescope dan Wide-field Infrared Survey Explorer (WISE) di daerah yang dikenal sebagai daerah pembentuk bintang W3 dan W5 di dalam Galaksi Bima Sakti. (NASA/JPL-Caltech/University of Wisconsin via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah peristiwa langit yang tidak lazim tercatat terjadi menjelang Ramadan. Cahaya misterius yang menerangi langit pada waktu itu memicu rasa penasaran para ilmuwan di berbagai belahan dunia, termasuk dari Eropa sampai China.

Lebih dari 1.000 tahun lalu, ilmuwan Muslim Ali Ibn Ridwan menuliskan pengamatannya mengenai fenomena yang ia sebut sebagai "ledakan cahaya bintang". Saat itu Ridwan merupakan pemuda Mesir berusia 18 tahun yang menyusun catatan pengamatan secara sangat rinci. Catatan tersebut kemudian menjadi referensi penting bagi astronom modern dalam mengkaji fenomena Supernova 1006.


Nama lengkap Ridwan adalah Abu 'l Hasan Ali ibn Ridwan Al-Misri. Ia terkenal sebagai dokter dan astronomi yang rajin menulis. Pada 1006, Ridwan baru memulai sekolah kedokterannya. Namun, ia memang sudah lama tertarik dengan dunia astrologi dan astronomi.

Ridwan menyebut Supernova 1006 sebagai sebuah "bintang baru." Dalam pengamatannya, supernova tersebut mulai tampak dari Bumi pada tanggal 17 Syaban 396 H atau 30 April 1006 M.

Cahayanya terlihat sepanjang musim panas. Namun, pada sekitar pertengahan Agustus posisinya sudah terlalu dekat dengan Matahari dan hanya bisa diamati pada siang hari, sehingga sulit terlihat.

Pengamatan Ridwan soal supernova ditulis di bukunya yang mengomentari Tetrabiblos karya Ptolemy.

Pilihan Redaksi
  • IHSG Ditutup Naik 1,2% Hari Ini, 481 Saham di Zona Hijau
  • Jelang Lebaran, BRI Peduli Bagikan 279 ribu Paket Sembako dan Santunan

"Saya akan mendeskripsikan tentang sebuah peristiwa yang saya saksikan pada awal masa studi saya. Fenomena ini muncul di [area] rasi bintang Scorpio, berlawanan dengan Matahari. Pada saat itu, Matahari berada 15 derajat dari Taurus dan fenomena berada 15 derajat dari Scorpio. Fenomena ini adalah sebuah lingkaran besar, sekitar 2,5 hingga 3 kali lebih besar dari Venus," katanya.

Ridwan menyebut Supernova 1006 sebagai sebuah "bintang baru." Dalam pengamatannya, supernova tersebut mulai tampak dari Bumi pada tanggal 17 Syaban 396 H atau 30 April 1006 M.

Cahayanya terlihat sepanjang musim panas. Namun, pada sekitar pertengahan Agustus posisinya sudah terlalu dekat dengan Matahari dan hanya bisa diamati pada siang hari, sehingga sulit terlihat.

Pilihan Redaksi
  • Langit Eropa Terang Benderang, Bola Api Melintas Jatuh di Jerman
  • BRIN Bocorkan RI Punya Peluang Diajak Ikut Misi Terbang ke Bulan

Pengamatan Ridwan soal supernova ditulis di bukunya yang mengomentari Tetrabiblos karya Ptolemy.

"Saya akan mendeskripsikan tentang sebuah peristiwa yang saya saksikan pada awal masa studi saya. Fenomena ini muncul di [area] rasi bintang Scorpio, berlawanan dengan Matahari. Pada saat itu, Matahari berada 15 derajat dari Taurus dan fenomena berada 15 derajat dari Scorpio. Fenomena ini adalah sebuah lingkaran besar, sekitar 2,5 hingga 3 kali lebih besar dari Venus," katanya.

Ia bercerita bahwa langit saat itu bersinar cerah karena cahaya dari supernova tersebut. Intensitas cahayanya sebanding dengan seperempat cahaya Bulan. Posisinya tetap kemudian bergerak tiap hari bersama dengan rasi bintangnya hingga Matahari ada di posisi sekstil (60 derajat) dengannya di Virgo.

"Saat itu, [fenomena tersebut] langsung hilang."

Ridwan kemudian menceritakan posisi Matahari, Bulan, dan planet dengan detail termasuk posisinya dalam derajat dan menit di tiap sektor rasi bintang saat supernova pertama muncul. Catatan detailnya membantu astronom modern untuk menentukan kapan SN 1006 muncul dan menentukan lokasinya di langit.

Ilmuwan baru menamakan fenomena "bintang baru" yang disaksikan oleh Ridwan sebagai supernova ribuan tahun setelah ia wafat. Supernova adalah ledakan besar yang menandai matinya sebuah bintang.

Selain Ridwan, peristiwa supernova 1006 juga dicatat oleh pengamat lain dari berbagai belahan Bumi. Biarawan di Swiss menuliskan,"fenomena tersebut kadang mengempis kadang memudar dan kadang hilang."

Catatan astronomi China menyatakan supernova tersebut posisinya ada di timur dari konstelasi Lupus, selatan dari Di, dan satu derajat di bagian barat Centaurus. Menurut mereka, cahaya fenomena tersebut setara dengan setengah intensitas pendar Bulan.

Dari berbagai catatan, astronom modern menyimpulkan bahwa SN 1006 terlihat selama 4 bulan sebelum terhalang cahaya Matahari. Sekitar 7 bulan kemudian, fenomena yang sama terlihat di langit fajar di antara 24 November dan 22 Desember 1107.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Warga RI Doyan Belanja Online di Ramadan,Fintech Jamin Keamanan

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ancaman Perang Dunia Menggila, Prabowo Minta Bahlil Lakukan Ini
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Veda Ega Pratama Rayakan Lebaran di Luar Negeri, Siap Hadapi Tantangan Moto3 Brasil! Cek Jadwalnya
• 1 jam laluharianfajar
thumb
Kasus Andrie Yunus KontraS, Anggota BAIS TNI Ditahan, DPR Minta Transparansi
• 7 menit lalumatamata.com
thumb
BGN Perketat Ikat Pinggang Hadapi Gejolak Global
• 3 jam lalutvrinews.com
thumb
Arus Kendaraan Meningkat, Astra Tol Cipali Lakukan Sterilisasi Jalur untuk Skema One Way di Subang
• 12 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.