Harga Emas Tembus di Bawah 5.000 Dolar, Perang Iran Berlanjut — Mengapa Emas Justru Turun?

erabaru.net
11 jam lalu
Cover Berita

Konflik di Iran terus meluas, sementara ketidakpastian atas kendali Selat Hormuz menyebabkan harga minyak internasional berfluktuasi tajam. Namun demikian, sebagai aset safe haven tradisional, harga emas justru terus berfluktuasi di sekitar level 5.000 dolar AS. Pada Senin (16/4/2026) ini, harga emas internasional kembali anjlok dan menembus batas penting 5.000 dolar AS.

EtIndonesia.  Pada awal sesi perdagangan Asia pada Senin (16 Maret), harga emas spot internasional (emas London) langsung merosot tajam, dengan cepat jatuh di bawah 5.000 dolar per ons, bahkan sempat menyentuh 4.966 dolar per ons. Ini merupakan kali kedua sejak pecahnya konflik Iran harga emas spot internasional turun di bawah level tersebut.

Setelah itu, penurunan harga mulai mereda di tengah fluktuasi, membentuk pola rebound berbentuk “V”. Hingga pukul 09.00 waktu Beijing (sekitar pukul 17.00 waktu London), harga emas kembali naik ke atas 5.020 dolar per ons.

Pada saat yang sama, harga minyak internasional terus melemah setelah pembukaan pasar Asia. Harga kontrak berjangka minyak WTI crude oil dan Brent crude oil sempat sama-sama turun di bawah 100 dolar.

Selanjutnya, harga minyak Brent sempat pulih. Hingga pukul 21.53 waktu Beijing (05.53 pagi waktu London, 17 Maret), WTI berada di 92,850 dolar per barel (turun 4,12%), sementara Brent di 100,766 dolar per barel (turun 2,30%).

Sebagai aset lindung nilai utama, emas biasanya naik saat terjadi perang. Namun sejak Amerika Serikat dan Israel bersama-sama melancarkan serangan militer terhadap target Iran, harga minyak terus naik, sementara harga emas justru berfluktuasi tajam dan cenderung melemah. Dalam hampir setengah bulan terakhir, harga emas telah turun lebih dari 6%, dan dalam sepekan terakhir bergerak naik-turun di sekitar level 5.000 dolar.

Para analis menilai bahwa arah ketegangan geopolitik, stabilitas harga minyak, serta sinyal kebijakan dari Federal Reserve menjadi faktor penentu utama pergerakan harga emas saat ini.

Biasanya, kenaikan harga minyak akan mendorong inflasi melalui peningkatan biaya produksi dan transportasi. Lonjakan harga minyak baru-baru ini meningkatkan kekhawatiran akan inflasi energi, sehingga pasar memperkirakan Federal Reserve akan menunda penurunan suku bunga.

Emas memang dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, namun suku bunga tinggi dalam jangka panjang cenderung memperkuat dolar AS dan meningkatkan daya tarik aset berbunga, sehingga melemahkan daya tarik emas dan menekan harganya.

Selain itu, pada Rabu minggu ini, Federal Reserve akan mengadakan rapat kebijakan moneter bulan Maret. Pasar secara umum memperkirakan suku bunga akan tetap tidak berubah. Sikap hati-hati menjelang pertemuan ini juga menjadi salah satu penyebab turunnya harga emas.

Dalam laporan terbaru, analis dari ANZ Bank menyatakan bahwa penguatan dolar, kenaikan imbal hasil (yield), serta ketidakpastian kebijakan The Fed telah menekan harga emas. Aksi penutupan posisi oleh para trader untuk memenuhi margin call juga turut memberi tekanan tambahan.

Sementara itu, Christopher Wong, ahli strategi dari OCBC, mengatakan bahwa dalam jangka pendek, harga emas kemungkinan masih akan berfluktuasi seiring pasar menilai ulang arah kebijakan The Fed dan pergerakan imbal hasil riil.

Perlu dicatat, pada Minggu (15 Maret), Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada media bahwa pemerintah AS sedang berdiskusi dengan berbagai negara untuk menjaga keamanan Selat Hormuz. Ia juga menyatakan bahwa AS dan Israel akan melanjutkan operasi militer terhadap pusat ekspor minyak utama Iran di Pulau Kharg.

Analis dari broker Pepperstone yang berbasis di Melbourne, Dilin Wu, menyebut bahwa apakah harga emas mampu bertahan di atas 5.000 dolar akan menjadi kunci arah selanjutnya. Jika level ini ditembus secara jelas, harga emas berpotensi turun ke kisaran dukungan 4.850–4.900 dolar. Sebaliknya, jika tetap bertahan di atas 5.000 dolar, level resistensi berikutnya berada di 5.100 dan 5.250 dolar.

Ia juga menambahkan bahwa penguatan dolar dan aksi likuidasi posisi long berleverage dapat terus menekan harga emas. Namun, pembelian oleh investor institusi dan bank sentral dapat menjadi penopang. Sementara itu, eskalasi geopolitik atau sikap lebih hawkish dari The Fed bisa memicu volatilitas harga emas yang lebih besar.

Dilaporkan oleh He Yating/Disunting oleh Lin Qing – NTDTV.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ketika Mata tak Lagi Bisa Dipercaya
• 5 jam lalurepublika.co.id
thumb
H-4 Lebaran, Volume Kendaraan di Tol Cipali Naik 27%
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Astra Sediakan Asuransi Perjalanan Gratis, Semua Pemudik Bisa Daftar Ini Caranya
• 4 jam lalukatadata.co.id
thumb
B-Nation Bersama YSL Beauty Indonesia Rayakan Ramadan dengan Elegan di YSL Eid Podium
• 5 jam lalubeautynesia.id
thumb
Jadwal Ganjil Genap, Contra Flow, dan One Way saat Arus Mudik Lebaran 2026
• 56 menit lalubisnis.com
Berhasil disimpan.