Penulis: Intan Kw
TVRINews, Jakarta
Iran mengonfirmasi kabar kematian Kepala Keamanan Iran, Ali Larijani dalam serangan Israel. Ia dilaporkan tewas bersama putranya serta Wakil Kepala Keamanan Sekretariat Dewan Keamanan Iran dalam serangan tersebut.
"Pada fajar bulan suci Ramadan, bersama dengan putranya yang setia, Morteza, serta Wakil Kepala Keamanan Sekretariat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Alireza Bayat, dan sekelompok pengawal yang bersemangat, beliau mencapai tingkat kesyahidan yang tinggi," tulis Sekretariat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, dikutip dari Telegram Farsnews, Rabu, 18 Maret 2026.
Sementara itu, dilansir dari kantor berita Tasnim News Agency, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dalam pernyataannya menegaskan bahwa kematian Larijani akan menjadi "sumber kehormatan, kekuatan, dan kebangkitan nasional" bagi bangsa Iran.
“IRGC tentu tidak akan melupakan pertumpahan darah syuhada besar ini dan para syuhada lainnya,” bunyi pernyataan IRGC.
Larijani menjadi pejabat paling senior Iran yang tewas setelah Pemimpin Tertinggi, Ali Khamenei, yang dilaporkan meninggal pada hari pertama pecahnya perang.
Larijani dikenal sebagai mantan negosiator nuklir Iran dan salah satu tokoh berpengaruh dalam kebijakan keamanan nasional negara tersebut. Ia juga disebut sebagai sekutu dekat Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Sebelum kabar serangan itu muncul, Larijani diketahui masih berada di Teheran pada Jumat, 13 Maret 2026, saat menghadiri peringatan Quds Day.
Pada hari yang sama, Amerika Serikat dilaporkan menawarkan imbalan hingga 10 juta dolar AS untuk informasi terkait pejabat militer dan intelijen senior Iran, termasuk Larijani.
Langkah tersebut merupakan bagian dari daftar tokoh yang dikaitkan dengan IRGC dan menjadi target tekanan pemerintah Amerika Serikat.
Diberitakan sebelumnya, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan Larijani telah tewas akibat serangan terbaru Israel. Pernyataan ini langsung memicu spekulasi luas, mengingat posisi Larijani sebagai salah satu tokoh kunci dalam struktur kekuasaan Iran.
Editor: Redaksi TVRINews





