Perang Timur Tengah dan Rapuhnya “Otonomi” Asia Tenggara

katadata.co.id
13 jam lalu
Cover Berita

Setiap kali rudal melintasi langit Timur Tengah, gemanya tidak hanya terdengar di koridor kekuasaan Washington atau Tel Aviv, tetapi juga bergetar hebat di urat nadi perekonomian Asia Tenggara. Ketika eskalasi antara Iran dan Israel memuncak, publik disuguhi tontonan diplomasi rutin: Indonesia menawarkan mediasi, sementara ASEAN mengeluarkan pernyataan bersama yang menyerukan penahanan diri dan penghormatan terhadap hukum internasional. 

Di atas kertas, respons ini mencerminkan tradisi diplomasi kawasan yang mengedepankan keseimbangan. Namun, di balik bahasa formal tersebut, tersembunyi sebuah kecemasan struktural yang jarang diakui secara terbuka: Asia Tenggara sedang terjebak dalam ilusi otonomi yang sangat rapuh.

Kepanikan senyap yang melanda ibu kota-ibu kota di kawasan ini–mulai dari manuver Indonesia mengamankan pasokan minyak di luar Teluk hingga kebijakan rasionalisasi bahan bakar di Myanmar–membongkar satu realitas fundamental. Asia Tenggara menggerakkan mesin pertumbuhannya dengan energi yang tidak ia kuasai, dan melewati jalur-jalur (seperti Selat Hormuz) yang tidak bisa mereka amankan. 

Ketergantungan ini bukan sekadar masalah logistik sesaat, melainkan penanda posisi periferal kawasan ini dalam hierarki rantai pasok global. Kita cukup terintegrasi untuk menjadi korban pertama dari setiap disrupsi, tetapi terlalu lemah untuk mendikte syarat-syarat penyelesaiannya. 

Mekanisme konsensus ASEAN yang dibanggakan selama ini, pada praktiknya, sering kali berfungsi sebagai mesin depolitisasi. Seruan usang untuk berdialog mengaburkan relasi kuasa yang timpang. 

Padahal, posisi tawar kawasan ini tidaklah kecil. Indonesia dengan kekuatan demografi dan komoditasnya, Vietnam sebagai pabrik dunia yang baru, serta Singapura sebagai pusat finansial, seharusnya memberikan beban strategis yang lebih besar. 

Sayangnya, ada jurang yang dalam antara potensi geopolitik dan realitas ketidakberdayaan. Kesenjangan ini paling tragis dan nyata terlihat pada nasib tenaga kerja migran kita. Jutaan pekerja dari Filipina, Indonesia, dan Thailand menopang denyut ekonomi di Timur Tengah. 

Ketika konflik pecah, seperti yang merenggut nyawa pekerja Filipina di Israel, mereka sering kali hanya direduksi menjadi catatan kaki atau sekadar statistik kemanusiaan. Padahal, mobilitas tenaga kerja yang rentan ini adalah inti dari sistem ekonomi politik global.

Kawasan kita mengekspor tenaga kerja untuk menopang stabilitas negara-negara pusat. Sementara nasib mereka disandarkan pada kondisi keamanan yang tak bisa dikendalikan oleh negara pengirim. 

Ini adalah bentuk ekstrem dari pertukaran tidak seimbang: para pekerja ini sangat esensial bagi mesin produksi kapitalisme global, mengekstraksi nilai lebih untuk ekonomi asing, namun selalu dipinggirkan dari jaminan perlindungan sosial dan fisik. 

Lebih jauh lagi, ekspor massal tenaga kerja ini berfungsi sebagai katup pengaman bagi pemerintah di kawasan. Dengan mengekspor kelebihan tenaga kerja, negara-negara Asia Tenggara secara efektif mendeaktivasi potensi konflik kelas dan ketegangan politik di dalam negeri. Ekspor manusia menjadi alat untuk menstabilkan status quo domestik.

Di tingkat strategis yang lebih makro, krisis Iran juga menelanjangi kontradiksi dalam postur keamanan kawasan. Sentralitas ASEAN dan doktrin bebas-aktif mensyaratkan adanya keseimbangan kekuatan di Indo-Pasifik. Masalahnya, keamanan material kawasan ini masih sangat bergantung pada payung daya tangkal Amerika Serikat.

Setiap kali perhatian dan sumber daya Washington tersedot secara struktural ke dalam pusaran konflik Timur Tengah, terjadi kekosongan strategis di Asia Pasifik. Konsekuensi tak terucapkan dari kekosongan ini memiliki nama yang spesifik: Tiongkok. 

Tanpa penyeimbang eksternal yang fokus, klaim otonomi strategis Asia Tenggara perlahan-lahan tergerus. Ruang gerak diplomatik menyempit, memaksa negara-negara kawasan ke dalam penyelarasan asimetris dengan Beijing, baik dalam sengketa Laut Tiongkok Selatan maupun dalam arsitektur ekonomi regional.

Pertanyaannya, mengapa subordinasi struktural ini tidak pernah benar-benar digugat secara politik oleh elite kawasan? Jawabannya terletak pada model ekonomi kita sendiri. Elite politik dan ekonomi di Asia Tenggara telah membangun legitimasi dan kekayaan mereka dengan bertindak sebagai manajer dari arsitektur akumulasi ini.

Model pembangunan mereka bertumpu pada pemeliharaan pertukaran yang tidak seimbang ini. Mereka meredam gejolak internal dengan menyerap biaya krisis global dan mendistribusikannya ke bawah, kepada kelas pekerja dan masyarakat marginal.

Pada akhirnya, negara-negara kita memang akan selalu bisa beradaptasi. Pasar akan menyesuaikan harga, dan pemerintah akan menormalisasi keadaan darurat demi memutar kembali roda ekonomi. 

Namun, ketangguhan  semacam ini adalah sebuah jebakan konseptual. Beradaptasi secara pasif terhadap kerentanan struktural bukanlah sebuah strategi. Ia hanyalah cara Asia Tenggara mengelola rutinitas dari periferalitasnya sendiri di panggung dunia. 

Sudah saatnya kawasan ini berhenti membanggakan kemampuannya menyerap kejutan, dan mulai merumuskan keberanian politik untuk mengubah tatanan internasional yang terus-menerus meminggirkannya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menhan minta prajurit jawab dukungan negara dengan kinerja
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
Harga Minyak Bisa Tembus Rp1,6 Juta per Barel, Golkar Nilai Langkah Bahlil Tepat
• 20 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Lima Perusahaan Bus AKAP Ini Malah Berhenti Beroperasi Jelang Arus Mudik, Apa Sebabnya?
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
Ragam Cerita Pemudik: Dapat Tiket Gratis hingga First Date Setelah LDR 6 Bulan
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Mudik Lebaran, Pemerintah Jamin Jalan dan Posko Siaga Optimal
• 48 menit lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.