Pantau - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum berencana melakukan rekayasa cuaca atau hujan buatan meski suhu panas ekstrem melanda wilayah ibu kota dalam beberapa hari terakhir, Rabu, 18 Maret 2026.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menyatakan keputusan tersebut diambil berdasarkan kebutuhan dan kondisi cuaca terkini.
"Jakarta masih belum memerlukan, apa, dibuat hujan buatan," ungkapnya saat ditemui di kawasan Monas, Jakarta Pusat.
Keputusan ini juga mengacu pada prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelang Idul Fitri.
"Untuk menghadapi Idul Fitri, memang data BMKG menunjukkan sebelumnya cuacanya panas. Tetapi pada saat Idul Fitri, ada kemungkinan curah hujan menengah," ujarnya.
BMKG memprediksi suhu panas ekstrem masih akan berlangsung hingga mendekati Idul Fitri, terutama pada periode 20 hingga 22 Maret 2026.
BMKG Ungkap Penyebab Suhu Panas TinggiDeputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menyebut suhu maksimum di Jakarta sempat mencapai 35,6 derajat Celsius.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh langit cerah dengan tutupan awan yang minim sehingga radiasi matahari dapat menembus atmosfer secara optimal.
Fenomena ini umum terjadi pada masa peralihan musim yang menyebabkan peningkatan suhu di sejumlah wilayah.
"BMKG mencatat suhu maksimum hingga 35,6 derajat Celcius dan indeks UV masuk kategori ungu atau artinya bahaya ekstrem," jelasnya.
Imbauan Kurangi Aktivitas di Luar RuanganBMKG mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan saat paparan sinar matahari berada pada puncaknya.
Waktu yang perlu dihindari terutama antara pukul 10.00 hingga 14.00 WIB karena risiko paparan UV yang tinggi.
Masyarakat juga disarankan menggunakan perlindungan seperti topi, payung, kacamata hitam, serta pakaian lengan panjang.
"Gunakan tabir surya atau sunscreen dengan SPF tinggi untuk melindungi kulit. Perbanyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi," katanya.




