Cerita Penjual Kulit Ketupat di Palmerah: Anyaman dan Harapan Jelang Lebaran

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Di trotoar depan Pasar Pisang, Palmerah, Jakarta Barat, tangan-tangan terampil itu tak pernah berhenti bergerak.

Lembaran janur kelapa muda dianyam cepat menjadi kulit ketupat, simbol sederhana yang selalu hadir di setiap Lebaran.

Di balik anyaman itu, ada cerita Argan (27), perantau asal Banten yang menggantungkan harapan dari musim ke musim.

Argan bukan wajah baru di lokasi tersebut. Ia sudah sekitar 15 tahunan berjualan di kawasan Pasar Palmerah.

“Kalau jualan mah sudah lama, ada kali 15 tahunan di sini,” ujarnya saat ditemui di lapak jualannya, Rabu (18/3).

Menjelang Lebaran, ritme hidupnya berubah drastis. Dari yang biasanya hanya membuat dekorasi janur untuk acara pernikahan, Argan dan rekan-rekannya kini fokus penuh memproduksi kulit ketupat. Dalam sehari, ia bisa menjual hingga 2.000 buah kulit ketupat.

“Satu hari semalam bisa habis 2.000 biji,” katanya.

Ketupat itu dijual dalam ikatan berisi 10 buah. Di hari biasa, harganya sekitar Rp 5.000 per ikat. Namun mendekati Lebaran, harga naik menjadi Rp 7.000. Kenaikan itu, menurut Argan, bukan semata keinginan pedagang.

“Daunnya yang mahal. Jadi kita juga harus naikin harga. Masa jualan mau rugi,” ucapnya sambil tertawa.

Meski harga naik, keuntungan yang didapat tidak berubah banyak.

Dari setiap ikat, Argan hanya mengambil untung sekitar Rp 1.000. Sebab biaya bahan baku dan ongkos produksi ikut melonjak.

Semua bahan baku hingga tenaga kerja berasal dari kampung halamannya di Banten.

Bahkan sebagian besar penjual janur di kawasan itu juga berasal dari daerah yang sama.

“Janur kelapa dari Banten, orang-orangnya juga dari Banten,” katanya.

Rutinitas Argan pun tak sederhana. Ia bolak-balik Banten–Jakarta setiap minggu, naik bus dan turun di Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Biasanya ia hanya menetap sekitar empat hari di Jakarta sebelum kembali ke kampung.

Meski terlihat sibuk saat musim Lebaran, berjualan kulit ketupat sebenarnya bukan pekerjaan utama Argan.

Sehari-hari, ia bekerja di dapur MBG di kampungnya. Jualan janur menjadi pekerjaan musiman untuk mengisi waktu libur sekaligus menambah penghasilan.

“Namanya juga musiman, daripada kosong mending jualan, lumayan buat nambah,” ujarnya.

Penghasilan dari jualan ketupat mungkin tak besar, tapi cukup berarti.

Dari sana, Argan bisa menyisihkan uang untuk kebutuhan Lebaran, mulai dari membeli takjil hingga baju baru untuk anaknya.

“Alhamdulillah ada buat beli takjil, baju lebaran buat anak,” katanya.

Puncak keramaian biasanya terjadi dua hingga tiga hari sebelum Lebaran.

Setelah itu, Argan memilih pulang ke kampung untuk merayakan hari raya bersama keluarga.

Meski begitu, permintaan ketupat tak langsung berhenti.

“Abis lebaran juga masih ada yang pesen, buat halal bihalal,” ujarnya.

Bagi Argan, anyaman janur bukan sekadar dagangan.

Di setiap simpulnya, tersimpan kerja keras, perjalanan panjang, dan harapan sederhana, mencari rezeki yang halal.

“Yang penting mah kerja dari mana aja, yang penting halal,” tutupnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kapolri Berangkatkan Ribuan Peserta Mudik Gratis Presisi 2026 di Polda Metro
• 6 jam laludetik.com
thumb
Pipa Air di Kramat Jati Terbakar, Asap Hitam Membubung Tinggi
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
BPKN Ingatkan Masyarakat Tidak Panic Buying BBM Menjelang Lebaran
• 17 menit lalujpnn.com
thumb
H-3 Lebaran Arus Mudik Cipali Padat, Pantau di Live Jelajah Jalur Mudik
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Pesan Kapolri di Safari Ramadhan Riau: Tingkatkan Silaturahmi hingga Jaga Persatuan
• 17 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.