Libur Panjang Lebaran, BI Tetap Kawal Rupiah

metrotvnews.com
11 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Bank Indonesia (BI) memastikan tetap mengawal nilai tukar rupiah di pasar offshore atau luar negeri meski pasar domestik libur sepekan saat Hari Suci Nyepi dan Hari Raya Idulfitri, seiring dengan masih tingginya ketidakpastian global akibat perang di Timur Tengah.

Gubernur BI Perry Warjiyo memastikan BI tetap berada di pasar, tidak hanya pasar domestik tetapi juga pasar offshore guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tanpa henti.

“Kita boleh libur Lebaran di sini, offshore Non-Deliverable Forward (NDF) terus berjalan dan BI New York juga akan terus mengawal rupiah di luar negeri,” kata Perry dalam konferensi pers hasil RDG BI secara daring di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 18 Maret 2026.

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti juga memastikan bahwa BI terus berjaga-jaga dan memantau pasar rupiah-dolar melalui NDF selama 24 jam.

Meskipun pasar domestik libur Lebaran, BI bekerja sama dengan BI New York untuk terus memantau, dan siap melakukan intervensi di pasar NDF global apabila dibutuhkan.

Baca Juga :

Jaga Rupiah, BI Atur Batas Pembelian Valas Jadi USD50 Ribu
 


(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Di tengah volatilitas dan ketidakpastian yang sangat tinggi, Destry memastikan bahwa BI tetap fokus menjaga stabilitas rupiah.

“All effort akan kami lakukan, seperti disampaikan juga oleh Pak Gubernur, seperti yang biasa kita lakukan, intervensi di spot DNDF dan NDF untuk di pasar globalnya,” kata dia.

Di samping itu, imbuh Destry, instrumen operasi moneter juga dioptimalkan untuk memberikan yield menarik, sehingga tetap mendukung stabilitas di tengah meningkatnya risiko global. Depresiasi rupiah lebih rendah dari negara kawasan Sebagai gambaran, Destry menyebutkan bahwa sepanjang Maret ini rupiah terdepresiasi 1,29 persen secara month to date (mtd), lebih rendah dibandingkan beberapa mata uang di kawasan, seperti India 1,52 persen dan Filipina 3,71 persen.

“Artinya, kita di kawasan ini memang menghadapi permasalahan yang sama. Tapi di Bank Indonesia tentunya kami terus akan fokus untuk menjaga stabilitas tersebut,” ujar dia.

Ia menambahkan perdagangan dengan local currency transaction (LCT) juga terus meningkat. Pada Februari 2026, total transaksi LCT mencapai USD4,12 miliar, terbesar untuk Tiongkok sebesar USD3,026 miliar.

Tren ini, catat Destry, menunjukkan meningkatnya kebutuhan transaksi menggunakan mata uang selain dolar di Indonesia. BI pun terus mendorong pendalaman pasar keuangan mata uang lokal, seperti yuan (CNH/CNY), sehingga pelaku pasar tidak perlu lagi membeli dolar untuk melakukan konversi.

“Ini juga tentunya akan berpengaruh untuk mengurangi permintaan dolar di pasar domestik karena langsung permintaannya adalah ke mata uang mitra yang bersangkutan,” kata Destry.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Sembako di Bangka Belitung Naik hingga 40% Menjelang Lebaran
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Ali Larijani Gugur Dibunuh AS-Israel saat Kunjungi Putrinya di Teheran
• 9 jam laludetik.com
thumb
Tiket Mahal, Warga Bekasi Pilih Mudik Gratis demi Hemat Biaya Lebaran
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Askrindo Berangkatkan 500 Peserta Mudik Gratis BUMN 2026 ke 13 Rute Tujuan
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
Stok Darah Menipis Selama Mudik, PMI Beri Stimulus bagi Calon Pendonor
• 3 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.