Aipda Yanrus Pake bersama istrinya mendirikan panti asuhan dan sekolah di Desa Tana Mbanas, Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ps Kanit Samapta Polsek Haharu, Polres Sumba Timur itu ingin membantu anak-anak di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Atas kepeduliannya terhadap pendidikan anak di Sumba tersebut, Aipda Yanrus diusulkan untuk Hoegeng Awards 2026 oleh Yustina Denga. Berikut testimoni yang disampaikan Yustina dalam usulannya:
Bapak Yanrus Pake bersama istri mendirikan Yayasan Iman Pengharapan dan Kasih di desa Tana Mbanas, Kecamatan Umbu Ratu Nggay, Sumba Tengah untuk membantu anak-anak kurang mampu dan terlantar untuk mendapatkan tempat tinggal yang nyaman dan layak.
Beliau dan istri juga mendirikan sekolah dari TK-SMP dengan tujuan menyediakan pendidikan yang memadai dan baik bagi anak-anak yang tinggal di desa tertinggal. Di mana anak-anak yang rumahnya jauh dari sekolah juga dapat tinggal di asrama. Semua fasilitas asrama dan pendidikan diberikan gratis.
Bapak Yanrus Pake juga terlibat aktif dalam memberikan keterampilan bagi anak-anak asuh seperti bertani, berternak, PBB dsb. Semua itu dilakukan di sela-sela kegiatan beliau di luar jam tugas sebagai anggota Polri di Polsek Haharu.
detikcom kemudian menghubungi Yustina untuk bertanya lebih dalam. Yustina adalah pengurus yang juga tenaga pengajar di Yayasan Iman Pengharapan dan Kasih Tana Mbanas.
"Yayasan kami itu bergerak di hampir semua bidang, baik itu pendidikan TK, SD SMP, terus ada panti asuhannya, ada asrama, setiap hari-hari lain dari yayasan juga adakan pelayanan di desa lain, buka taman baca, kami juga ada pengajaran sekolah minggu setiap di beberapa titik," kata Yustina kepada detikcom, Selasa (17/3/2026).
Yustina dulunya juga menjadi anak asuh di yayasan tersebut. Setelah kuliah dia kembali untuk mengabdi di yayasan.
Hingga saat ini ada sekitar 300 anak yang berada di panti asuhan maupun yang bersekolah di bawah yayasan. Mereka mendapatkan fasilitas secara gratis.
"Untuk anak-anak yang diterima di sini anak yang tidak mampu, ada yang jauh dari tempat sekolah, dan sewaktu-waktu ada juga anak-anak yang lain yang orang tuanya minta, paling bisa dihitung dengan jari satu dua, yang pengen sekali dia di asrama," ucap dia.
Yayasan ini memiliki sekolah dari TK, SD hingga SMP yang telah mendapatkan izin dari Dinas Pendidikan. Sementara di luar jam sekolah, anak-anak juga diajarkan mengenai pertanian hingga peternakan.
"Biasanya Pak Yanrus ngajarin mereka berbengkel, las, jadi anak-anak itu yang tidak bisa dengar dan tidak bisa ngomong, tapi Pak Yanrus latih dia las, sekarang dia bisa mandiri sendiri las dan dapat uang. Untuk anak laki-laki itu yang biasa dilatih itu instalasi listrik," ucap dia.
"Untuk yang perempuan ada banyak kegiatan seperti berkebun juga kita latih, berternak ayam. Ada ayam petelur, ayam pedaging, ada ayam kampung, terus ada sapi juga, kita latih semua itu, karena itu yang dekat dengan kehidupan anak-anak, satu saat ketika mereka kembali ke orang tua mereka bisa kerjakan itu semua," imbuhnya.
Yustina mengatakan biaya operasional yayasan ini berasal dari donatur, dana pribadi Aipda Yanrus hingga usaha yang dimiliki Aipda Yanrus dan keluarga. Dana bantuan juga ada dari pemerintah daerah.
"Operasional setiap bulan, biaya makan minum saja itu bisa Rp 200 juta, hanya sekarang kayaknya lebih meningkat, karena satu hari saja kita 450 kg beras," ucap dia.
Awal Mula Pendirian YayasanAipda Yanrus Pake mendirikan yayasan ini bersama istrinya, Christina Sihombing. Aipda Yanrus berasal dari Kupang, sementara istrinya berasal dari Medan, Sumatera Utara.
Pada tahun 1999, Christina menjadi relawan di Desa Tana Mbanas, bersama warga negara Kanada yang dipanggil Opa. Pada saat itu mereka memberdayakan desa termasuk membuat sumur bor.
"Kampung itu kan kampung yang jauh sekali kan dari kota, mereka bikin sumur. Jadi istri saya waktu itu sama orang asingnya, sebelum kami menikah. Datang ke sana bikin sumur karena tempat di sana nggak ada airnya," kata Yanrus kepada detikcom.
Awalnya Christina hanya berniat dua tahun di desa tersebut. Namun dia merasa betah hingga menjadi pengajar di sekolah setempat yang kekurangan guru.
Aipda Yanrus kemudian bertemu dengan Christina pada tahun 2006, saat dirinya ditugaskan di Polsek setempat. Yanrus pun tertarik dengan kegiatan belajar yang digagas oleh Christina.
"Jadilah kmi berteman. Karena di lingkungan itu banyak anak-anak yang kurang mampu, jadi keasyikan istri mengurusi mereka. Jadi saya ikutlah membantu sama-sama, kami belum menikah. Tahun 2006 itu kami bikinlah akta yayasan, waktu itu kami bikin legalitasnya untuk yayasannya, terus panti asuhan," kata Yanrus.
Yayasan ini terus berkembang. Aipda Yanrus dan Christina kemudian membuat SMP.
"Tahun 2013 kami memutuskan untuk menikah, kami awalnya berteman, mengerjakan pekerjaan yang sama. Mulailah makin berkembang, yang PAUD-nya jadi TK, yang SD-nya sudah ada, SMP kami bikin untuk mengakomodir anak-anak SD kami, dari panti kami," tuturnya.
Yanrus mengatakan berbagai tantangan dihadapinya dalam pengembangan yayasan ini. Terlebih, kata dia, masalah pendanaan. Dia pun mengajukan ke berbagai pihak dan donatur.
"Jadi memang itu tahun-tahun yang sulit sih, tapi karena saya tinggal dalam lingkungan yang sama, akhirnya tidak kami pikirkan, semuanya berjalan apa adanya," ucap dia.
Bantuan Donatur dari KanadaSejak awal yayasan ini berdiri, Christina dan Yanrus dibantu oleh Opa dari Kanada. Opa memiliki relasi ke komunitas gereja di Kanada dan Belanda.
"Komunikasi dan hubungan kami baik sekali, jadi Opa itu tinggal dengan kami sampai dengan tahun 2017. Opa itu kebetulan orang Kanada, sudah meninggal sih beliau, sehingga waktu itu Opa tetap mendukung kami lewat gereja dari Kanada dan Belanda. Sehingga kalau orang dari sana datang membantu kami pun," ucap dia.
Donatur dari Belanda dan Kanada, kata Yanrus, sering berkunjung ke yayasan. Terakhir pada tahun 2025, yayasan mendapatkan bantuan truk tangki air.
"Tahun lalu kami ada dibantu dari orang dari Kanada. Sehingga kami sekarang sehari sekali ambil air dengan truk tangki. Saya bikin tangkinya agak besar, saya bikin 7.000, dikirim dari Surabaya," kata dia.
Hingga saat ini, total ada 15 bangunan di Yayasan Iman Pengharapan dan Kasih Tana Mbanas. Bangunan terdiri dari panti asuhan, TK, bangunan SD dan SMP, asrama laki-laki, tempat tinggal guru, rumah Aipda Yanrus dan istri hingga bengkel untuk praktik anak-anak.
"Jadi ada 8 bangunan yang sudah lama, tahun 2025 dapat dana dari pemerintah jadi ada bangunan baru 5 bangunan, itu kami kerjakan sendiri. Ada 2 bangunan kecil seperti pompa air," ucap dia.
Biaya operasional biasanya dilaporkan yayasan kepada donatur. Yayasan ini juga mendapatkan bantuan dana dari Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial Sumba Tengah.
"Kalau dari Pemda itu mereka bagus responsnya. Contoh untuk sekolah kami dibantu dana revit untuk SMP. Dari Dinas Sosial dua kali dalam satu tahun dibantu, komunikasi baik sekali. Memang daerah kami 3T, jauh dari mana-mana," ucap dia.
Mayoritas Penghasilan Aipda Yanrus untuk YayasanSejak awal Yanrus mendirikan yayasan ini, dia sudah berniat bersama istrinya untuk mendedikasikan tenaga hingga biaya. Yanrus menyebut penghasilan yang dia peroleh sebagai anggota polisi digunakan untuk kebutuhan Yayasan.
"Kalau dari saya pribadi, memang apa saya dapat akan berputar di lingkungan kami itu. Apa yang bisa saya buat, apa yang bisa saya belikan, apa yang menjadi kebutuhan, jadi memang tidak tersampai terdata angka, tapi apa yang ada itu yang bisa kami buat," ucap dia.
Yanrus mengatakan semua anak-anak di panti asuhan hingga tenaga pengajar baginya adalah keluarga. Sehingga, kata dia, dia tidak lagi memikirkan jumlah dana yang dia keluarkan.
"Kadang-kadang seperti untuk diri sendiri sih, tapi jumlah orangnya lebih banyak. Tapi karena orang sudah keseharian dalam satu lingkungan dan rumah sendiri, tapi tidak terasa kan," ucap dia.
"Kami juga ada berapa usaha kan, saya coba membantu 2 tempat usaha, toko kelontong. Satu di depan panti dan dekat Polsek saya tugas, dan itu yang kerja di situ yang kami tempatkan anak-anak yang sudah taman SMA, yang antre untuk kuliah, kami tidak bisa kuliahkan semua sekaligus," ucap dia.
Luas lahan yayasan ini sekitar 3 hektare. Di lahan ini, Yanrus mengajak anak-anak untuk bertani dan beternak.
"Kalau ayam kami punya ada ayam kampung beberapa ekor, lebih kepada untuk mereka belajar, anak lebih tahu cara pelihara ayam. Kami punya ayam petelur 30 ekor, sama untuk konsumsi pribadi dan keperluan belajar mereka," ucap dia.
Yanrus juga mengajarkan anak-anak untuk berternak sapi dan kambing. Hasil penjualan ternak ini akan digunakan untuk operasional yayasan.
"Kalau ada kambing dan sapi itu jadi seperti tabungan kami, jadi kalau dijual adalah uang untuk kami rencanakan sesuatu, untuk masuk ke sana uangnya. Kambing ini kami titipkan di keluarga anak-anak itu juga, tapi kalau ada kebutuhan kayak acara atau apa kami ambil dari situ," ucap dia.
Sebagian lahan dari yayasan ini adalah HGU dari Pemda Sumba Tengah. Sementara sisanya lahan milik yayasan yang dibeli dari warga setempat.
"Lahan itu ada sekitar hampir 3 hektar. Yang satu hektare itu punya Pemda yang kami HGU. Dua hektare lagi, karena daerah kecil, tetangga jual sepotong kami beli, akhirnya jadilah luas," ucap dia.
Yanrus mengaku hanya ingin membantu anak-anak yang ingin mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Sebagian anak-anak sudah lulus kuliah dan bekerja.
"Kalau saya sebenarnya dari awal ceritanya hanya suka saja untuk membantu. Karena saya lihat waktu itu kegiatan istri ini positif, sebelum menikah ya. Terus akhirnya jadi seperti rumah sendiri dengan jumlah orang banyak. Jadi seperti sudah tidak terpisahkan," pungkasnya.
(lir/knv)





