Hujan lebat mengguyur Kota Surabaya, Jawa Timur, Selasa (17/3/2026) sore. Sebagian yang melintas pun memilih berteduh. Salah satunya di jembatan penyeberangan di samping Kebun Binatang Surabaya.
Di sana, berderet empat sepeda motor. Salah satunya berpelat nomor DR asal Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Di atas jok motor, ditata tumpukan kotak terbungkus plastik dan ditali erat, khas pemudik.
”Maaf, Pak, mengganggu. Kalau boleh tahu ke mana arah Suramadu?” ujar pemilik motor pelat DR kepada orang di sebelahnya.
Belakangan, lelaki itu diketahui bernama Mohamad Basir (55), asal Dungkek, Kabupaten Sumenep, Pulau Madura.
Sudah tiga tahun ia merantau ke Pulau Lombok. Di sana, ia mengadu nasib menjadi kuli. Istri dan dua anaknya tetap tinggal di Madura.
”Lo, pelatnya DR dari Lombok. Bapak naik sepeda motor dari sana dan mau pulang ke Sumenep?” ujar orang yang ditanya membalas.
”Tidak, Pak. Dari Lombok saya naik kapal ke Situbondo. Sampainya kemarin terus menginap. (Selasa) Pagi tadi motoran ke sini,” kata Basir.
Basir mengatakan berangkat dari Pelabuhan Gili Mas (Lembar) dengan KMP Trimas Laila, Minggu (15/3/2026) pukul 10.00 Wita.
Sehari kemudian atau Senin pagi, Basir sudah tiba di Pelabuhan Jangkar, Situbondo. Selanjutnya, dia mencari penginapan sebelum ke Sumenep melalui Surabaya.
”Sebenarnya saya ingin naik kapal lagi dari Jangkar ke Kalianget (Sumenep), tetapi kehabisan tiket. Ya sudah saya lewat jalan darat ke Surabaya,” ujar Basir.
Mudik dengan sepeda motor dan membawa barang cukup banyak baru dilakukannya tahun ini. Sebelumnya, Basir selalu menggunakan kapal dan atau bus atau angkutan umum untuk mudik.
”Sekalian saya benar-benar pulang kampung, enggak kembali lagi ke Lombok. Nanti sepeda motor ini saya balik nama istri di Sumenep,” kata Basir yang pernah merantau 10 tahun di Jakarta.
Mengapa pulang kampung? Basir mengatakan sudah lelah terus-menerus berjauhan dengan keluarga.
Di usia yang kian tua, Basir merasa kebutuhan utamanya tidak lagi terus-menerus menumpuk rezeki, tetapi pulang ke pelukan istri dan anak-anak.
”Saya ingat ada pepatah Jawa, Pak, ngelumpukake balung pisah (menyatukan tulang atau keluarga yang terpisah). Tapi, buat saya, mudik ini yang terakhir. Saya mau pulang dan menikmati hari-hari dengan istri,” ujar Basir.
Setelah mendapat arah menuju Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya (Pulau Jawa) dan Bangkalan (Pulau Madura), Basir bersiap melanjutkan perjalanan.
Dengan sepeda motor, Dungkek dapat dijangkau 5-6 jam perjalanan dari Kebun Binatang Surabaya. Namun, hujan yang belum juga reda membuatnya memilih menunggu lebih lama.
Di antara 143 juta jiwa pemudik sesuai prediksi Kementerian Perhubungan, ada kalangan yang mungkin sepemikiran dengan Basir.
Lebaran 2026 bisa jadi sebagai mudik terakhir. Mereka bukan kalah apalagi menyerah, melainkan mendekati sikap hidup paripurna.
Dari sudut pandang lainnya, mudik ibarat rekoleksi atau aktivitas rohani bersama keluarga. Seperti ungkapan Jawa tadi, mengumpulkan lagi (rekoleksi) anggota keluarga yang terpencar meskipun sejenak.
”Bagi saya, mudik itu seperti mengisi jiwa yang rindu, haus, silaturahmi,” kata Santoso Widodo (50), warga Surabaya, asal Banyumas, Jawa Tengah.
Santoso adalah perantau dari Banyumas di Surabaya. Lebih dari separuh usianya tinggal di ibu kota Jatim sebagai karyawan swasta.
Setiap Lebaran, dirinya mudik ke Banyumas bersama istri dan anak tunggal. Mudik dengan mobil pribadi atau terkadang dengan bus atau kereta api.
”Tahun ini kembali mudik naik mobil pribadi, Mas. Jalan santai, lewat tol, mau mampir Yogya dulu, nostalgia zaman kuliah,” kata Santoso saat ditemui di Rest Area 695 B Tol Jombang-Mojokerto, Senin (16/3/2026) siang.
Santoso bilang, mudik telah menjadi kebutuhan. Saat mudik terutama dia bisa bertemu lagi dengan saudara kandung dan tetangga teman main masa kecil yang telah terpencar mencari penghidupan.
”Selain mudik, cuma ada satu momentum ’terpaksa’ kumpul, yakni kalau ada anggota keluarga meninggal, terutama orangtua,” ujarnya.
Merayakan pekan terakhir Ramadhan bersama keluarga lalu menyambut Lebaran dan silaturahim, bagi Santoso, semacam perjalanan rohani. Saat berkumpul lagi nanti, ia ingin membersihkan jiwa dari residu-residu yang sempat meregangkan hubungan dengan keluarga.
”Setelah Lebaran, kami berharap menjadi pribadi yang lebih baik untuk melanjutkan perjalanan hidup. Mudik penting sekali buat kami,” kata Santoso.
Sosiolog Universitas Negeri Surabaya, Mohammad Mudzakkir, berpandangan, mudik dalam konteks merayakan Idul Fitri di Pulau Jawa diyakini sudah terjadi sejak zaman kerajaan klasik setelah era masuknya Islam. Mudik menguat sejak 1970 ketika industrialisasi dan urbanisasi menjadi wajah perjalanan bangsa Indonesia.
Urbanisasi dari desa ke metropolitan terutama Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung di Pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya memunculkan pola pergerakan khas.
Warga desa menyerbu kota-kota untuk bekerja. Namun, mereka mempertahankan hubungan kuat dengan akarnya, yakni tanah kelahiran. Untuk merayakan Lebaran, mereka seolah berkewajiban kembali sejenak ke kampung halaman.
”Mudik ini punya spektrum interaksi yang luas karena mencakup aspek ekonomi, sosial, agama, dan psikologi masyarakat,” kata Mudzakkir.
Perjalanan mudik saat Lebaran kerap meninggalkan pengalaman spritual dalam berbagai bentuk bagi para pelakunya. Semua lebih dari sekadar pulang, bersalam-salaman, lalu kembali lagi pada rutinitas seperti biasa.





