Liputan6.com, Jakarta - Wamen ESDM atau Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung mengatakan, rencana pengalihan impor energi dari luar kawasan Timur Tengah masih dalam tahap negosiasi.
Pernyataan tersebut dikatakan usai meninjau Fuel Terminal Padalarang, Bandung Barat, Jawa Barat (Jabar) pada Senin (16/3/2026).
Advertisement
Yuliot menyebut salah satu negara yang sedang dijajaki adalah Amerika Serikat (AS) melalui komunikasi yang sudah terbangun dalam kerangka Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan AS.
"Kita akan menambah impor dari Amerika. Dari sana kita bisa melihat operator-operator minyak besar seperti Exxon Mobil dan Chevron yang beroperasi secara global. Kita berharap mereka bisa memasok kebutuhan BBM kita, baik dalam bentuk crude atau minyak mentah maupun BBM jadi," ujar Yuliot, Selasa 17 Maret 2026, seperti dilansir Antara.
Meski demikian, Yuliot menyampaikan rencana impor energi tersebut masih pada tahap negosiasi dan belum ada kesepakatan, baik dengan AS maupun calon negara pemasok lainnya.
"Belum. Saat ini masih tahap penyelesaian negosiasi, termasuk negara suplainya dari mana," ucap dia.
Yuliot menambahkan, impor dari luar kawasan Timur Tengah ini menjadi opsi pemerintah dalam menjaga pasokan energi setelah suplai global terganggu akibat ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.
Konflik antara AS-Israel dan Iran di kawasan Timur Tengah ini membuat Indonesia mulai mencari alternatif sumber impor minyak di luar kawasan tersebut.
Oleh karena itu, pemerintah mulai mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke AS dan negara lain demi menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global.




