Penulis: Fityan
TVRINews - Teheran
Kematian Tokoh Kunci Iran Mengonfirmasi Ramalan Lama Terkait Konflik Regional
Kematian Ali Larijani, tokoh senior dalam arsitektur keamanan Iran, dalam sebuah serangan udara yang diduga ditargetkan oleh Israel, menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang loyalis rezim yang memiliki pandangan tajam sekaligus pragmatis terhadap permusuhan Barat.
Larijani, yang menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi saat kematiannya, lama meyakini bahwa kekuatan Barat memiliki agenda mendasar untuk meruntuhkan rezim revolusioner Iran.
Keyakinan ini bukan sekadar retorika politik, melainkan sebuah prinsip yang ia pegang sejak masa tugasnya di medan perang hingga ke meja perundingan nuklir yang rumit.
Dalam sebuah wawancara mendalam dengan The Guardian pada Juni 2006, saat ketegangan program nuklir Iran sedang memuncak, Larijani sempat menunjukkan sisi keterbukaan yang jarang terjadi.
Menanggapi pertanyaan mengenai keaslian kekhawatiran Barat terhadap pengayaan uranium Iran, ia menjawab dengan tegas:
"Tuan, saya pikir Anda tahu jawaban untuk pertanyaan itu. Jika bukan masalah nuklir, mereka akan mencari alasan lain... tekanan yang mereka berikan kepada kami adalah alasan yang cukup bagi kami untuk merasa curiga."
Pernyataan tersebut kini dianggap sebagai pandangan profetik (meramal masa depan) yang melampaui masanya. Dua dekade lalu, ia telah memperingatkan bahwa konflik terbuka akan menyebabkan "harga minyak melonjak tajam" dan potensi penutupan Selat Hormuz, skenario yang kini membayangi stabilitas ekonomi global.
Pragmatisme di Tengah Ketegangan
Meskipun dikenal sebagai sosok yang keras dalam prinsip, Larijani seringkali menunjukkan sisi pragmatis.
Selama masa pemerintahan Presiden Mahmoud Ahmadinejad, Larijani kerap berselisih paham dengan retorika provokatif sang presiden.
Ia memandang gaya komunikasi Ahmadinejad sebagai hambatan bagi upaya Iran untuk mencapai kesepakatan yang bisa menjamin keamanan Republik Islam tersebut.
Ketegangan internal ini sempat memuncak pada pengunduran dirinya di tahun 2007, sebuah langkah yang saat itu ditafsirkan sebagai bentuk keberpihakan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei terhadap garis keras Ahmadinejad.
Reputasi dan Warisan Politik
Larijani berasal dari keluarga elit politik Iran; satu dari lima bersaudara yang semuanya menempati posisi strategis dalam pemerintahan. Meski sempat ditolak oleh Dewan Garda dalam pencalonan presiden karena alasan yang tidak dipublikasikan—diduga terkait keberadaan anggota keluarganya di luar negeri—posisi Larijani dalam lingkaran dalam Khamenei tetap tak tergoyahkan.
Laporan internal menyebutkan bahwa belakangan ini, Larijani diberi tanggung jawab besar dalam menangani gejolak domestik di Iran. Ia menjalankan tugas tersebut dengan efisiensi yang dianggap tanpa kompromi oleh para pengamat internasional.
Kematiannya kini menyisakan spekulasi mengenai arah politik Iran di masa depan, terutama terkait transisi kepemimpinan nasional.
Namun bagi Larijani, akhir hidupnya seolah menjadi konfirmasi atas kecurigaan yang ia suarakan bertahun-tahun lalu: bahwa bagi Iran, konflik dengan kekuatan luar adalah sebuah keniscayaan yang nyata.
Editor: Redaksi TVRINews





