JAKARTA, KOMPAS.com - Kemacetan di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, dikeluhkan warga karena terjadi hampir setiap hari, terutama pada jam sibuk pagi dan sore.
Pengamat tata kota Yayat Supriatna menilai penerapan sistem satu arah berpotensi menjadi solusi untuk mengurai kemacetan Lebak Bulus yang dipicu padatnya simpang dan tingginya volume kendaraan.
Menurut dia, jarak antar-persimpangan yang terlalu dekat membuat arus lalu lintas sulit mengalir, sehingga kendaraan kerap tersendat meski hanya menempuh jarak pendek.
“Masalahnya trafiknya terlalu dekat satu dengan lain, kemudian persimpangannya banyak, volume tinggi. Maka satu-satunya caranya dengan sistem satu arah,” kata dia saat dihubungi, Rabu (18/3/2026).
Baca juga: Biang Kerok Kemacetan Lebak Bulus: Tiga Simpangan yang Berdekatan
Yayat mengatakan, sistem satu arah dapat membuat arus kendaraan lebih lancar karena mengurangi konflik di persimpangan.
Ia bahkan mengaku pernah menerapkan skema serupa di kawasan lain dengan karakteristik yang mirip.
“Itu saya pernah coba untuk terapkannya di Kota Bogor, keliling Kebun Raya itu sama. Itu satu arah itu saya buat karena titik persimpangan terlalu dekat,” katanya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa penerapan sistem tersebut tidak bisa dilakukan secara sembarangan.
Diperlukan perhitungan matang agar tidak menimbulkan dampak baru di ruas jalan lain.
“Tapi untuk dibuat mengalir harus diperhatikan pada sisi jalan lainnya. Apakah sisi jalan lain itu ada penyempitan atau ada kepadatan lain enggak yang bisa mempengaruhinya,” jelasnya.
Baca juga: Macet Parah di Lebak Bulus, Jarak Pendek Bisa Ditempuh hingga 30 Menit
Menurut dia, jika tidak dikendalikan, kelancaran di satu titik justru bisa memicu kepadatan di titik lain akibat peningkatan volume kendaraan.
“Karena kalau enggak dikendalikan gitu sama juga nanti akan impact ke tempat lain karena sama-sama kecepatan kendaraannya bertambah,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya kajian berbasis data, seperti perhitungan volume kendaraan dan kapasitas jalan, sebelum menerapkan rekayasa lalu lintas.
“Makanya harus ada traffic countingnya tentang beban jalan itu. Karena kalau tiba-tiba enggak ada lampu merah semuanya masuk, jalan itu juga kedodoran tuh,” kata dia.