Harga Batu Bara Terkerek Konflik Timur Tengah dan Pemangkasan Produksi RI

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mengatakan harga batu bara global berhasil terdorong kebijakan pemangkasan produksi batu bara di Indonesia dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026.

Harga batu bara berjangka ICE Newcastle untuk kontrak April 2026 berdasarkan data Barchart berada pada level USD 134,75 per ton pada penutupan perdagangan Selasa (17/3).

Direktur Eksekutif APBI, Gita Mahyarani, mengatakan harga batu bara yang mendekati USD 140 per ton ini didorong oleh kombinasi faktor geopolitik dan ekspektasi pengetatan pasokan.

"Konflik di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak dan LNG, sehingga beberapa negara importir melakukan switching (pergeseran) ke batu bara untuk menjaga ketahanan energi," ungkapnya saat dihubungi kumparan, Rabu (18/3).

Selain itu, Gita juga tidak memungkiri rencana pemerintah memangkas produksi di dalam negeri turut mendorong harga batu bara dunia, sebab pasar melihat potensi pasokan yang semakin ketat ke depannya.

"Di sisi lain, rencana penyesuaian produksi di Indonesia melalui pemangkasan RKAB juga menciptakan persepsi pasar bahwa suplai akan lebih terbatas," lanjut Gita.

Namun demikian, Gita menilai kondisi permintaan global saat ini tidak sepenuhnya merata. Di beberapa negara seperti Vietnam justru terjadi penurunan signifikan pada pembangkit listrik berbasis batu bara, sementara China mulai terlihat indikasi perbaikan aktivitas industri.

Selain itu, lanjut dia, kenaikan harga saat ini lebih dominan terjadi pada batubara kalori tinggi (high CV), yang digunakan sebagai substitusi LNG, sehingga dampaknya terhadap produsen Indonesia yang mayoritas berada di kalori menengah ke bawah tidak sepenuhnya sama.

Dengan begitu, menurutnya, kondisi kenaikan harga batu bara dunia saat ini pun belum tentu dapat dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku usaha Indonesia.

"Di tengah kenaikan harga tersebut, banyak pelaku usaha justru menghadapi keterbatasan produksi akibat penyesuaian RKAB, sehingga fleksibilitas untuk meningkatkan volume ekspor menjadi terbatas," tegas Gita.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan alasan pemangkasan produksi batu bara didasarkan pada prinsip keseimbangan permintaan dan penawaran (supply and demand), sekaligus merespons kondisi harga yang selama ini dinilai lebih banyak dikendalikan pihak asing.

“Kenapa RKAB itu kita potong? Karena supply and demand, harga batu bara kita dikendalikan oleh asing,” kata Bahlil dalam Kuliah Umum Media Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat pada Kamis (12/2).

Berdasarkan catatannya, konsumsi batu bara global mencapai sekitar 8,9 miliar ton per tahun. Namun, volume yang diperdagangkan di pasar internasional hanya sekitar 1,3 miliar ton. Dari jumlah tersebut, Indonesia mengekspor sekitar 560 juta ton, atau sekitar 43-44 persen dari total perdagangan global.

"Tapi harganya bukan kita yang kendalikan, ini kan abuleke (tukang bohong),” lanjutnya.

Kuota produksi batu bara 2026 ditetapkan sekitar 600 juta ton, atau berkurang sekitar 190 juta ton dibandingkan realisasi tahun 2025 yang mencapai 790 juta ton. Untuk bijih nikel, pembatasan produksi turun menjadi 250-260 juta ton dari RKAB 2025 sebesar 379 juta ton.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Starbucks dan Harry Potter Bersatu untuk Membawa Keajaiban Sehari-hari ke Indonesia
• 9 jam lalugrid.id
thumb
Keberlanjutan Insentif Dinilai Kunci Jaga Momentum Adaptasi Kendaraan Listrik
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bahlil Pastikan Pasokan Energi Aman di Tengah Perang: Ada Perkembangan Positf dari Hormuz
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Daftar Lokasi Shalat Id Muhammadiyah di Kabupaten Bekasi 20 Maret 2026
• 23 menit lalukompas.com
thumb
Kondisi Andrie Yunus Terkini: Membaik, tapi Kornea Mata Rusak
• 4 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.