PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) sebagai bank digital berhasil menjalankan langkah transformasi digital melalui inovasi di Aplikasi Raya yang tercermin pada aspek penyaluran kredit maupun penghimpunan dana pihak ketiga. Kondisi tersebut mempengaruhi kinerja AGRO pada 2025.
Berdasarkan laporan keuangannya, Bank digital PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) membukukan rugi tahun berjalan sebesar Rp 498,61 miliar sepanjang 2025. Pada periode yang sama 2024, AGRO masih mencatatkan laba sebesar Rp 50,89 miliar.
Direktur Utama Bank Raya Ida Bagus Ketut Subagia mengatakan langkah Bank Raya untuk bertransformasi digital adalah dengan melakukan strategi perbaikan kualitas guna mendukung pertumbuhan bisnis berkelanjutan. Perlambatan dalam kinerja keuangan tahun 2025 dikarenakan perusahaan mengambil langkah perbaikan pada debitur-debitur legacy yang secara bertahap portofolionya akan diturunkan melalui pembentukan cadangan.
Di sisi lain Bank Raya terus memperkuat pertumbuhan bisnis digital secara prudent yang saat ini porsinya terus meningkat menjadi 39,8% dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 32,1% sejalan dengan transformasi untuk terus memperkuat pertumbuhan bisnis digital. Bank Raya menargetkan di tahun 2026 bahwa porsi kredit digital akan lebih besar dari kredit legacy.
Dia mengatakan Bank Raya terus berkomitmen untuk menjaga rasio likuiditas pada level yang aman. Bank Raya mencatat rasio LDR tercatat 80,83%, Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) di angka 84,41%, serta rasio LCR (Liquidity Coverage Ratio) tercatat 474,93% dan Rasio Net Stable Funding Ratio (NSFR) tercatat sebesar 171,98% diatas ketentuan minimum sebesar 100%.
Selain itu, dia mengatakan sisi permodalan juga masih terjaga terlihat dari rasio Total CAR sebesar 40,25% dan rasio Tier 1 CAR sebesar 39,30% yang akan mendukung ekspansi pertumbuhan bisnis Bank Raya ke depan.
'“Komitmen kami untuk melakukan perbaikan pada debitur legacy dilakukan agar bank dapat bertumbuh lebih sehat secara jangka panjang," ujarnya.
Sementara pendapatan bunga neto atau net interest income (NIM) sebesar Rp 696,34 miliar. Secara rinci, pendapatan bunga sebesar Rp 1,19 triliun, namun beban bunga sebesar Rp 493,91 miliar sepanjang 2025.
Di samping itu Bank Raya mencatatkan penyaluran kredit digital sebesar Rp 28,75 triliun pada 2025 atau tumbuh 39,8% secara tahunan. Outstanding kredit digital mencapai Rp 3,07 triliun atau naik 33,9% (yoy), sehingga mendorong total kredit menjadi Rp 7,72 triliun atau meningkat 8,3% (yoy).
Peningkatan penyaluran kredit tersebut turut mengerek pendapatan bunga Bank Raya sebesar 14,0% (yoy) menjadi Rp 1,19 triliun, dari sebelumnya Rp1,05 triliun pada 2024. Porsi kredit digital kini mencapai 39,8% dari total kredit, naik dari 32,1% pada akhir 2024.
Di sisi pendanaan, Bank Raya membukukan pertumbuhan digital saving sebesar Rp 2,20 triliun atau melonjak 66,7% (yoy). Pertumbuhan ini sejalan dengan kenaikan transaksi aplikasi Raya sebesar 16,3% (yoy) menjadi 4,7 juta transaksi. Perseroan juga terus memperkuat dana murah (CASA) melalui ekspansi tabungan digital, dengan rasio CASA naik menjadi 33,62% dari 27,50% pada 2024.
Bagus menyatakan, kinerja tersebut mencerminkan fokus perseroan dalam mendorong pertumbuhan bisnis digital yang berkualitas, dan optimisme terhadap prospek bisnis digital ke depan.
“Kami selalu berupaya menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan penguatan fundamental sebagai bukti keberhasilan kami bertransformasi menjadi bank digital,” ucapnya dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (18/3).
Sejalan dengan itu Bank Raya terus memperluas inovasi produk digital lending melalui Pinang Dana Talangan untuk mendukung produktivitas Agen BRILink, Pinang Flexi sebagai pinjaman multiguna bagi karyawan tetap, serta Pinang Maksima yang difokuskan pada pembiayaan berbasis invoice bagi pelaku usaha.
Hingga akhir 2025, outstanding Pinang Flexi meningkat 20,5% (yoy) menjadi Rp 1,03 triliun, Pinang Dana Talangan tumbuh 52,9% (yoy) menjadi Rp 1,08 triliun, sementara Pinang Maksima melonjak 71,53% (yoy) hingga mencapai Rp 880 miliar.




