Tumbilotohe Gorontalo Hari Ini: Menyalakan Tradisi & Membaca Perubahan 

harianfajar
4 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Apriadi Bumbungan, Akademisi Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo

Tumbilotohe hari ini hadir dengan cahaya yang semakin terang, semakin rapi, dan semakin mudah dilihat. Namun justru di situlah pertanyaan baru muncul, apakah yang menguat adalah maknanya atau hanya tampilannya? Di tengah perubahan sosial, teknologi, dan dan masifnya industri pariwisata, tradisi ini tidak lagi berdiri di ruang yang sama, ia bergerak, bernegosiasi, dan menuntut untuk dibaca kembali.

Nyala Lampu, Ingatan, dan ‘Rumah’

Setiap menjelang akhir Ramadhan, khususnya di malam ke-27 sampai ke-29 Ramadhan, Gorontalo berubah menjadi lautan cahaya melalui tradisi Tumbilotohe. Lampu-lampu kecil menyala di halaman rumah, jalan, hingga sudut-sudut kampung, seolah menyambut sesuatu yang tak kasat mata: turunnya Lailatul Qadar. Dahulu, cahaya itu sederhana, sekadar penerang jalan menuju masjid di tengah gelapnya malam. Fungsinya praktis, bahkan bisa dikatakan utilitarian. Namun hari ini, ia telah menjelma menjadi simbol yang jauh lebih luas. Tentang iman, ingatan, identitas, dan cara suatu masyarakat merawat dirinya di tengah perubahan zaman.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri dalam lanskap budaya Nusantara. Di wilayah Melayu seperti Riau dan sebagian Sumatera Barat, terdapat tradisi lampu colok yang memiliki kemiripan kuat secara tipologi kultural. Masyarakat menyalakan ribuan lampu pada malam ke-27 Ramadan sebagai bentuk penyambutan malam istimewa, bahkan membentuk ornamen artistik yang kompleks dan kompetitif. Kesamaan ini menunjukkan bahwa cahaya dalam tradisi ke-Islam-an lokal bukan sekadar alat penerang, melainkan bahasa simbolik yang menandai ‘kehadiran yang sakral’ (sacred pesence). Cahaya menjadi medium komunikasi antara yang kasat mata dan yang diyakini hadir secara spiritual—sebuah Theophania.

Lebih dari sekadar ritual, Tumbilotohe adalah cara masyarakat Gorontalo mengingat dirinya sendiri. Ia bekerja seperti piranti mnemonik yang menghubungkan generasi masa kini dengan memori kolektif masa lalu. Setiap lampu yang dinyalakan bukan hanya menghidupkan ruang, tetapi juga mengaktifkan ingatan tentang masa kecil, keluarga, dan kehidupan kampung yang mungkin telah berubah. Tradisi ini menjadi arsip hidup yang tidak ditulis, tetapi dirasakan dan diwariskan melalui praktik. Dalam kerangka Jan Assmann dalam Cultural Memory and Early Civilization (2011), ingatan kolektif semacam ini tidak disimpan dalam teks formal, melainkan dalam ritus, simbol, dan pengulangan yang terus hidup dalam keseharian.

Di titik tertentu, Tumbilotohe bahkan menghadirkan pengalaman tentang “rumah” yang lebih dalam dari sekadar tempat tinggal. Rumah di sini adalah konstruksi kultural yang berisi memori, afeksi, dan spiritualitas yang terikat pada pengalaman kolektif. Ia adalah ruang di mana identitas dirasakan, bukan hanya dipahami. Cahaya-cahaya yang dipasang tidak hanya menerangi ruang fisik, tetapi juga membangun ruang batin yang memungkinkan keterhubungan dengan komunitas tetap terjaga. Dalam pengertian ini, Tumbilotohe bukan hanya tradisi, tetapi juga praktik pemeliharaan makna.

Tak kalah penting, Tumbilotohe juga merupakan peristiwa sosial yang memperlihatkan kuatnya nilai gotong royong. Instalasi lampu tidak pernah menjadi kerja individual, melainkan hasil dari kolaborasi warga dalam satu lingkungan. Proses ini melibatkan negosiasi, kerja bersama, dan pembagian peran yang cair. Dalam praktiknya, tradisi ini mempertemukan berbagai lapisan sosial dalam satu tujuan yang sama. Ia bukan hanya tentang cahaya yang terlihat, tetapi juga tentang relasi sosial yang terjalin.

Dari Tradisi ke Spektakel: Pariwisata, Media, dan Tegangan Ekologis

Namun, wajah Tumbilotohe hari ini tidak lagi sepenuhnya berada dalam ruang domestik dan komunal. Tradisi ini telah memasuki ranah publik yang lebih luas sebagai bagian dari industri pariwisata kota. Pemerintah daerah melihatnya sebagai potensi atraksi budaya yang mampu menarik wisatawan dan menggerakkan ekonomi lokal. Festival cahaya ini kemudian dipromosikan, dikurasi, bahkan dikompetisikan. Dalam situasi ini, Tumbilotohe tidak hanya menjadi milik komunitas, tetapi juga menjadi tontonan bagi publik yang lebih luas.

Perubahan ini membawa konsekuensi yang tidak sederhana. Ketika tradisi mulai dipertontonkan, ia juga mulai menyesuaikan diri dengan logika pertunjukan. Estetika menjadi semakin penting, bahkan sering kali lebih dominan daripada makna awalnya. Lampu tidak lagi sekadar dinyalakan, tetapi diatur sedemikian rupa agar menarik secara visual. Dalam beberapa kasus, keberhasilan sebuah instalasi diukur dari seberapa menarik ia difoto dan dibagikan.

Fenomena ini mengingatkan pada kritik Guy Debord dalam La société du spectacle (tesis 1, p. 16, 1967), khususnya ketika ia menyebut bahwa “tout ce qui était directement vécu s’est éloigné dans une représentation”, hal-hal yang sebelumnya dihidupi secara langsung (kebersamaan, tradisi, atau ibadah) sekarang lebih sering hanya dilihat sebagai tampilan atau gambaran. Dalam kerangka ini, yang berubah bukan hanya bentuk pengalaman, tetapi juga relasi manusia terhadap realitas itu sendiri, dari mengalami menjadi menyaksikan. Jika ditarik ke konteks tumbilotohe, cahaya Tohetutu dan Padamala yang dahulu hadir sebagai pengalaman spiritual  intim (mengiringi langkah menuju masjid, menandai kedekatan dengan malam sakral) kini berpotensi bergeser menjadi citra yang dikonstruksi untuk sekadar ‘dilihat’. Ia tidak lagi sepenuhnya “dihidupi” tetapi mulai “dipertontonkan”.

Selain itu, Debord juga menegaskan dalam tesis keempat bahwa spektakel bukan sekadar kumpulan gambar, melainkan relasi sosial yang dimediasi oleh gambar/tampilan visual. Artinya, perubahan dalam tumbilotohe tidak hanya terjadi pada lampu atau materialnya, tetapi juga pada cara masyarakat berelasi satu sama lain melalui tradisi tersebut. Ketika instalasi cahaya dinilai dari daya tarik visualnya—seberapa indah difoto, seberapa luas dibagikan—maka pengalaman kolektif perlahan digantikan oleh logika visibilitas. Tradisi tetap berlangsung, tetapi ia bergerak dalam medan baru, di mana makna dinegosiasikan melalui representasi. Pergeseran ini tidak selalu tampak drastis, justru karena ia bekerja secara halus mengubah orientasi tanpa sepenuhnya menghapus jejak makna lama.

Transformasi juga terlihat dari perubahan material yang digunakan. Jika dahulu masyarakat menggunakan Tohetutu (obor dari damar yang dibungkus daun lontar) atau Padamala berbasis minyak kelapa/minyak tanah, kini lampu LED menjadi pilihan utama. Perubahan ini tidak lepas dari pertimbangan praktis, yakni efisiensi, keamanan, dan kemudahan instalasi. Teknologi memungkinkan cahaya menjadi lebih terang, stabil, dan tahan lama. Namun pada saat yang sama, ia juga mengubah pengalaman indrawi dan simbolik dari tradisi tersebut.

Menariknya, di tengah dominasi teknologi, muncul wacana “green Tumbilotohe” yang mendorong penggunaan bahan alami seperti bambu dan damar. Gagasan ini sekilas tampak sebagai upaya untuk kembali pada akar tradisi sekaligus mengurangi penggunaan listrik. Ia menawarkan narasi yang selaras dengan tren global tentang keberlanjutan dan energi ramah lingkungan. Namun, seperti banyak wacana lingkungan lainnya, ia tidak lepas dari ambiguitas. Apa yang disebut “alami” tidak selalu berarti tanpa dampak.

Dalam konteks ini, penting untuk melihat dinamika lingkungan yang lebih luas. Data dari Forest Watch Indonesia (Juli 2024) menunjukkan bahwa Gorontalo mengalami ancaman serius terhadap tutupan hutannya dalam satu dasawarsa terakhir. Sementara itu, laporan Mongabay (April 2025) mengaitkan deforestasi dengan meningkatnya risiko banjir dan kerusakan ekosistem. Data ini tidak serta-merta menempatkan Tumbilotohe sebagai penyebab langsung. Namun ia mengingatkan bahwa setiap penggunaan sumber daya alam perlu dilihat dalam konteks yang lebih besar.

Di sinilah persoalan menjadi lebih kompleks. Jika penggunaan bahan alami meningkat tanpa pengelolaan yang berkelanjutan, maka tekanan terhadap lingkungan bisa ikut bertambah. Namun jika sepenuhnya beralih ke teknologi, maka aspek tradisionalnya berpotensi terkikis. Tumbilotohe kemudian berada di antara dua ‘tegangan’ yang sama-sama problematis. Ia tidak bisa kembali sepenuhnya ke masa lalu, tetapi juga tidak bisa sepenuhnya menyerahkan diri pada logika modernitas.

Selain itu, peran media sosial juga tidak dapat diabaikan dalam perubahan ini. Platform digital telah mengubah cara tradisi dipersepsi dan dinilai. Cahaya Tumbilotohe kini tidak hanya hadir di ruang fisik, tetapi juga di ruang virtual yang jauh lebih luas. Foto dan video menjadi medium utama untuk menyebarkan pengalaman tersebut. Dalam proses ini, pengalaman langsung sering kali digantikan oleh representasi visual.

Perubahan orientasi ini membawa dampak pada cara tradisi dimaknai. Jika sebelumnya Tumbilotohe lebih berorientasi pada pengalaman batin dan komunal, kini ia juga berorientasi pada visibilitas dan pengakuan. Nilai-nilai seperti keindahan dan keunikan menjadi semakin penting. Bahkan, dalam beberapa kasus, muncul semacam kompetisi tidak resmi untuk menciptakan instalasi yang paling menarik perhatian. Tradisi pun perlahan bergerak dari ruang refleksi menuju ruang performatif.

Antara Gemerlap dan Kedalaman

Namun demikian, melihat Tumbilotohe semata-mata sebagai korban modernitas juga bukan pendekatan yang berimbang. Tradisi ini justru menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa. Ia tidak berhenti, tetapi terus berubah mengikuti konteks sosial zamannya. Yang perlu diperhatikan mungkin bukanlah perubahan itu sendiri, melainkan arah dan konsekuensinya. Apakah perubahan tersebut memperkaya makna atau justru mengaburkannya.

Di situlah Tumbilotohe memperlihatkan wajah gandanya. Ia tetap menjadi suluh langkah masyarakat Gorontalo di penghujung bulan suci, cahaya yang menghangatkan, menghidupkan ingatan, memperkuat kebersamaan, dan meneguhkan identitas. Namun ia juga berpotensi menjadi cahaya yang menyilaukan, ketika intensitasnya membuat perubahan-perubahan kecil menjadi sulit disadari. Ambivalensi ini bukan sesuatu yang harus dihindari melainkan dihadapi dengan kesadaran. Dan justru di dalamnya terdapat ruang refleksi yang penting sekaligus subtil.

Barangkali yang perlu dijaga hari ini bukan hanya nyala lampunya, tetapi juga cara menyalakannya. Menyalakan lampu Tumbilotohe bukan sekadar soal estetika atau nostalgia, melainkan juga tentang tanggung jawab terhadap ruang hidup bersama dan kesadaran akan perubahan yang sedang berlangsung. Cahaya Tumbilotohe tidak hanya menerangi malam, tetapi juga membuka kemungkinan untuk melihat apa yang perlahan bergeser di balik keindahannya. Di tengah gemerlap itu, muncul ruang untuk bertanya lebih dalam, bagaimana makna yang dirayakan hari ini terus bernegosiasi dengan keyakinan yang melahirkannya?

Jika ditarik kembali ke poros spiritualnya, Tumbilotohe berakar pada penyambutan Lailatul Qadar, malam yang dalam tradisi Islam identik dengan keheningan, kedalaman, dan perjumpaan yang amat personal. Di tengah perayaan yang semakin terbuka dan visual, ingatan tentang dimensi subtil ini menjadi penting untuk dijaga. Sebab tidak semua cahaya harus dipertontonkan; sebagian justru bekerja dalam diam dan memberi arah tanpa perlu menarik perhatian. Dalam kesadaran itu, Tumbilotohe tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga pengingat bahwa yang paling esensial sering kali hadir tanpa gemerlap.

Pada akhirnya, Tumbilotohe tidak hanya berbicara tentang lampu-lampu yang dipajang pada satu momentum, tetapi juga tentang cara sebuah masyarakat menjaga arah di tengah perubahan. Ia bukan tradisi yang beku melainkan praktik hidup yang terus bergerak, dinegosiasikan, sekaligus mempertahankan jejak asalnya. Poin krusialnya bukan pada kemampuannya untuk tetap sama dengan masa lalu, tetapi pada kemampuannya untuk berubah tanpa kehilangan makna. Dan mungkin, justru di situlah cahaya Tumbilotohe itu menemukan sumbunya, bukan karena ia paling terang tetapi karena ia masih mampu menuntun. Wallahu a’lam Bhisawab. (*/)

Talaga, 18 Maret 2026


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mudik Gratis BUMN 2026 Bersama BNI Disambut Antusias, Ribuan Pemudik Rasakan Manfaat
• 11 jam laludisway.id
thumb
Kritik Keras TNI, Usman Hamid Minta Penyiraman Andrie Yunus Ditangani Polri
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Jepang Kini: Kapasitas Kilang-Stok BBM Anjlok, Harga Bensin Melejit!
• 6 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Tetap Jaga Berat Badan saat Lebaran, Ini Trik Makan Enak Tanpa Rasa Bersalah
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Obesitas Remaja AS Meningkat, Namun Motivasi Diet Menurun
• 16 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.