Dari Hasrat ke Keikhlasan: Pelajaran Hidup dari Kakawin Jawa Kuna

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Kita sering mengira sastra lama hanya berisi kisah masa lalu, bahasa sulit, dan dunia yang jauh dari kehidupan sekarang. Padahal, banyak karya lama justru berbicara tentang hal yang sangat dekat dengan manusia: hasrat, rindu, kehilangan, dan keinginan untuk berdamai dengan hidup.

Salah satu contohnya adalah Kakawin Lambang Pralambang, sebuah karya sastra Jawa Kuna. Jika dibaca secara sepintas, teks ini memang terasa puitis, simbolis, dan kadang sulit ditembus. Namun jika didekati dengan sabar, isinya ternyata menyimpan satu perjalanan batin yang sangat manusiawi: bagaimana seseorang terjerat oleh keinginan, kemudian diguncang oleh rindu, lalu perlahan sampai pada pelepasan diri.

Di sinilah letak menariknya. Karya ini tidak hanya berbicara tentang cinta dalam arti romantis, tetapi tentang cara manusia menjalani hidup. Tentang bagaimana kita sering tenggelam dalam sesuatu yang kita inginkan, merasa hampa saat itu menjauh, lalu dipaksa belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa kita miliki selamanya.

Hasrat yang Membuat Dunia Menyempit

Dalam bagian-bagian awal, Kakawin Lambang Pralambang menunjukkan bahwa hasrat bukan sekadar perasaan sesaat. Hasrat bisa menjadi pusat hidup. Saat seseorang sedang dikuasai oleh keinginan, dunia seolah menyempit. Pikiran hanya tertuju pada satu hal: apa yang diinginkan, siapa yang diinginkan, dan bagaimana cara mendapatkannya.

Keadaan ini sebenarnya sangat akrab dalam hidup sehari-hari. Ketika kita sedang menginginkan sesuatu dengan sangat kuat, kita sering kehilangan jarak. Kita jadi sulit melihat hal lain yang juga penting. Tujuan yang lebih besar kabur, pertimbangan jadi melemah, dan hidup seakan berputar pada satu pusat saja.

Itulah yang digambarkan kakawin ini: hasrat sebagai daya tarik yang menyerap seluruh perhatian manusia. Dunia tidak lagi terbuka luas, melainkan mengecil menjadi ruang pemuasan keinginan. Dalam kondisi seperti ini, seseorang bukan cuma sedang mencintai atau mengingini, tetapi sedang “terserap” ke dalam hasrat itu sendiri.

Rindu yang Mengubah Cara Kita Melihat Dunia

Jika hasrat membuat hidup terasa penuh dan padat, maka rindu menghadirkan pengalaman sebaliknya. Rindu membuat dunia terasa jauh, sepi, dan lambat.

Dalam Kakawin Lambang Pralambang, rindu tidak digambarkan hanya sebagai sedih karena berpisah. Rindu hadir sebagai suasana yang mengubah cara seseorang melihat dunia. Tempat-tempat menjadi sunyi. Perjalanan terasa melelahkan. Waktu berjalan panjang. Hari-hari seperti tertahan karena yang diharapkan tidak kunjung datang.

Ini juga sangat dekat dengan pengalaman manusia modern. Saat merindukan seseorang atau sesuatu, dunia sering terasa berbeda. Tempat yang biasanya biasa saja menjadi menyimpan kenangan. Senja terasa lebih muram. Angin, langit, dan kesunyian seperti ikut berbicara. Kita tidak hanya merasa rindu, tetapi hidup di dalam suasana rindu itu.

Kakawin ini peka menangkap hal tersebut. Alam tidak cuma dijadikan hiasan, melainkan menjadi cermin suasana batin. Kabut, gunung, angin, tangis, dan kesepian muncul bukan sekadar gambar puitis, tetapi sebagai bentuk dari batin yang sedang terluka. Dengan kata lain, rindu bukan hanya isi hati, melainkan cara dunia terasa di hadapan manusia.

Pelepasan Bukan Berarti Lari dari Hidup

Bagian yang paling penting dari teks ini adalah ketika perjalanan batin itu tidak berhenti pada hasrat dan rindu. Ada gerak lain yang muncul: pelepasan.

Pelepasan di sini bukan berarti putus asa, bukan pula sekadar menyerah. Pelepasan adalah titik ketika seseorang mulai sadar bahwa hidup tidak bisa terus digantungkan pada keinginan, tubuh, penilaian orang, atau harapan untuk memiliki segalanya. Ada saat ketika manusia harus melonggarkan genggamannya.

Dalam kerangka itulah gagasan moksa menjadi penting. Jika kāma dapat dipahami sebagai dorongan hasrat, maka moksa hadir sebagai pelepasan dari keterikatan yang terlalu kuat. Bukan berarti manusia harus membenci dunia, cinta, atau tubuh. Yang dilepaskan adalah cara hidup yang terlalu tergantung pada hal-hal itu.

Pelepasan juga berarti menerima batas. Ada hal-hal yang memang tidak bisa dipertahankan selamanya. Ada hubungan yang tidak selalu bisa dimiliki. Ada hidup yang pada akhirnya akan berhadapan dengan akhir. Kesadaran semacam ini tidak membuat manusia menjadi dingin, tetapi justru lebih jernih.

Di titik ini, pelepasan menjadi bentuk kedewasaan batin. Seseorang tidak lagi sekadar dikejar oleh keinginan atau dihanyutkan oleh kehilangan, tetapi mulai bisa berdiri dengan tenang di hadapan hidup.

Dari Terjerat, Retak, Lalu Melepas

Jika diringkas, Kakawin Lambang Pralambang memperlihatkan satu alur yang kuat: keterjeratan, keretakan, lalu pelepasan.

Pertama, manusia terjerat oleh hasrat. Ia tertarik, tenggelam, dan menjadikan keinginan sebagai pusat dunianya.

Kedua, ketika yang diinginkan tidak hadir atau menjauh, muncullah rindu. Pada tahap ini dunia tidak lagi terasa nikmat, melainkan kosong dan menunggu. Di sinilah batin mulai retak. Seseorang mulai melihat bahwa apa yang selama ini dipegang erat ternyata rapuh.

Ketiga, dari retakan itu lahir kemungkinan pelepasan. Bukan pelepasan yang instan, melainkan pelepasan yang tumbuh dari pengalaman. Setelah merasa terikat dan terluka, manusia perlahan belajar bahwa hidup tidak harus selalu dimiliki untuk bisa dimaknai.

Justru karena itulah kakawin ini terasa relevan. Ia tidak memberi ceramah moral secara langsung, tetapi menunjukkan bahwa hidup manusia memang bergerak melalui fase-fase seperti itu. Kita menginginkan, kita kehilangan, kita menunggu, kita terluka, lalu semoga kita belajar melepas.

Mengapa Sastra Lama Ini Masih Penting Hari Ini

Di tengah hidup modern yang serba cepat, manusia sering didorong untuk mengejar lebih banyak: lebih sukses, lebih dicintai, lebih diakui, lebih puas. Namun di saat yang sama, semakin banyak orang merasa lelah, kosong, dan sulit berdamai dengan kehilangan.

Kakawin Lambang Pralambang menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia mengingatkan bahwa kehidupan batin manusia selalu bergerak di antara tarikan hasrat dan kebutuhan untuk melepaskan. Bahwa rindu bukan kelemahan, tetapi bagian dari pengalaman hidup. Dan bahwa pelepasan bukan kekalahan, melainkan bentuk kebijaksanaan.

Sastra lama seperti ini penting bukan karena ia kuno, tetapi karena ia menyimpan cara pandang yang dalam tentang manusia. Ia menunjukkan bahwa sejak dulu, manusia sudah bergulat dengan pertanyaan yang sama: bagaimana menjalani keinginan, bagaimana menanggung kehilangan, dan bagaimana akhirnya belajar menerima.

Penutup

Pada akhirnya, Kakawin Lambang Pralambang bukan hanya kisah tentang asmara, melainkan cermin tentang hidup manusia. Ia memperlihatkan bahwa hasrat bisa membuat kita tenggelam, rindu bisa membuat dunia terasa sepi, dan pelepasan bisa membuka jalan menuju ketenangan.

Mungkin inilah pelajaran paling penting dari teks tersebut: hidup tidak selalu meminta kita untuk memiliki segalanya. Kadang hidup justru meminta kita untuk memahami, merasakan, lalu melepaskan dengan lapang.

Dan di situlah manusia benar-benar mulai mengenal dirinya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ada Dugaan Perintah Atasan di Balik Teror Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS, Ini Kata TNI
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Polri Masih Terapkan Contraflow dan One Way di Tol Jakarta-Cikampek Pagi Ini
• 20 jam laluidxchannel.com
thumb
RI Kena Imbas Perang Timur Tengah, Gus Ipul Usul Bansos Ditambah
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pemprov DKI Berangkatkan 689 Pemudik Gratis ke Kepulauan Seribu
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Zombie ZIP Gegerkan Dunia Siber, Teknik Baru Ini Bisa Kelabui 95 Persen Antivirus
• 20 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.