Liputan6.com, Jakarta - Di tengah hiruk pikuk kehidupan perkotaan di Depok, ada sebuah ruang spiritual yang menjadi tempat bernaung bagi umat Hindu. Namanya Pura Tri Bhuana Agung. Menjelang Hari Raya Nyepi, suasana di pura ini menjadi lebih hidup.
Umat datang silih berganti untuk mempersiapkan berbagai rangkaian ritual. Mulai dari menata sesajen, membersihkan area pura, hingga mempersiapkan prosesi Melasti yang menjadi bagian awal penyambutan Tahun Baru Saka.
Advertisement
Berdasarkan pantauan Liputan6.com di lokasi pada Jumat (13/03/2026) siang, kaum perempuan sibuk menata sesajen di selasar pura. Sajen tersebut ada unsur janur, buah, kue yang merupakan sebagai bagian persembahan.
Sementara sejumlah umat lainnya tampak berdiskusi mempersiapkan rangkaian upacara yang akan berlangsung hingga puncak hari hening (Nyepi).
"Kalau di Pura Tri Bhuana Agung Depok, kami biasa melaksanakan Melasti ke Pura Segara Cilincing, Jakarta Utara, dekat laut," ujar Kadek Budhi Aryawan, Humas Komunitas Banjar sekaligus pengelola Pura Tri Bhuana Agung Depok saat berbincang dengan Liputan6.com .
Penjelasan itu membuka cerita tentang bagaimana umat Hindu di Depok menjalani rangkaian ritual Nyepi di tengah kehidupan perkotaan yang multikultural.
Bagi komunitas Banjar Suka Duka Hindu Dharma Kota Depok yang menaungi pura tersebut, Nyepi bukan hanya soal menjalankan kewajiban spiritual, tetapi juga tentang menjaga kebersamaan dan harmoni dengan lingkungan sekitar.
Nama Tri Bhuana Agung sendiri memiliki makna filosofis yang dalam. Dalam ajaran Hindu berarti tiga jalan menuju moksa atau pembebasan spiritual. Dharma sebagai kebenaran hidup, latihan rohani untuk mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widhi Wasa, serta kesucian yang menjadi puncak penyatuan manusia dengan Tuhan.
Secara arsitektur, pura ini mengadopsi kearifan lokal Bali dengan tiga tingkatan bangunan. Bagian dasar melambangkan bumi, bagian tengah sebagai jalan menuju moksa, dan bagian tertinggi yang disebut Astana sebagai tempat bersemayamnya Sang Hyang Widhi Wasa.
Berbeda dari kebanyakan pura yang menggunakan konsep Tri Mandala, Pura Tri Bhuana Agung menggunakan konsep Eka Mandala karena keterbatasan lahan, dengan fokus pada ruang utama atau Utamaning Mandala.




