Cilacap (ANTARA) -
Pedagang ikan asin di kawasan Taman Hiburan Rakyat (THR) Teluk Penyu, Cilacap, mengaku penjualan menjelang Lebaran tahun ini belum menunjukkan peningkatan signifikan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Salah seorang pedagang, Kusmiyati, mengatakan kondisi saat ini berbeda dibandingkan periode mudik sebelumnya, ketika satu pekan sebelum Lebaran kawasan tersebut mulai dipadati pembeli yang mencari oleh-oleh.
“Biasanya satu minggu sebelum Lebaran itu sudah ramai, orang beli oleh-oleh untuk dibawa pulang. Sekarang belum terasa,” ujarnya kepada ANTARA, Selasa (17/3).
Kawasan THR Teluk Penyu selama ini dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas wisata di Cilacap, terutama bagi pengunjung Pantai Teluk Penyu. Deretan kios di kawasan tersebut menjual berbagai produk hasil laut, termasuk ikan asin.
Baca juga: Benteng Pendem Cilacap, dari benteng pertahanan jadi wisata Lebaran
Baca juga: Benteng Pendem Cilacap, dari benteng pertahanan jadi wisata Lebaran
Baca juga: Melepas penat kala perjalanan mudik di "masjid perahu" As-Shodiqin
Baca juga: Melepas penat kala perjalanan mudik di "masjid perahu" As-Shodiqin
Kawasan ini juga berada di jalur selatan yang kerap dilalui pemudik Jalur Selatan, sehingga berpotensi menjadi titik singgah untuk beristirahat sekaligus membeli oleh-oleh.
Namun, menurut Kusmiyati, hingga saat ini pembeli masih didominasi oleh warga lokal, sementara pengunjung dari luar daerah belum banyak terlihat.
“Kalau di sini kebanyakan masih orang lokal. Dari luar daerah ada, tapi tidak banyak,” katanya.
Ia menilai kondisi tersebut berbeda dengan daerah lain seperti Pangandaran yang lebih ramai dan berkembang sebagai tujuan wisata sekaligus pusat oleh-oleh.
“Di sana lebih ramai. Kalau di sini masih ketinggalan,” ujarnya.
Kusmiyati menjual berbagai jenis ikan asin hasil laut, seperti jambal, cumi, teri, dan peda, yang dipasarkan dalam bentuk curah maupun kemasan.
Harga ikan asin berkisar Rp25 ribu hingga Rp300 ribu per kilogram, sementara kemasan kecil dijual mulai dari Rp5 ribu.
Ia menjelaskan, pada periode Lebaran biasanya terdapat beberapa hari puncak kunjungan dalam satu minggu setelah hari raya, di mana penjualan dapat meningkat signifikan.
“Kalau lagi ramai sekali bisa sampai sepuluh kali lipat. Tapi sekarang belum kelihatan seperti itu,” katanya.
Ia berharap adanya pengembangan kawasan, termasuk penyelenggaraan kegiatan yang dapat menarik lebih banyak pengunjung.
“Kalau ada acara biasanya lebih ramai. Tapi di sini belum banyak,” ujarnya.
Meski demikian, Kusmiyati tetap bertahan dengan mengandalkan modal sendiri dan tidak terlalu bergantung pada target penjualan tinggi.
“Yang penting sehat, masih bisa makan. Rezeki kita jalani saja,” katanya.
Baca juga: InJourney siapkan sejumlah agenda spesial rayakan "Lebaran di Candi"
Baca juga: Menhut minta "zero waste, zero accident" di TN sesuai arahan Presiden
Baca juga: Kemenpar ingin jadikan Jakarta sebagai destinasi wisata libur Lebaran
Pedagang ikan asin di kawasan Taman Hiburan Rakyat (THR) Teluk Penyu, Cilacap, mengaku penjualan menjelang Lebaran tahun ini belum menunjukkan peningkatan signifikan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Salah seorang pedagang, Kusmiyati, mengatakan kondisi saat ini berbeda dibandingkan periode mudik sebelumnya, ketika satu pekan sebelum Lebaran kawasan tersebut mulai dipadati pembeli yang mencari oleh-oleh.
“Biasanya satu minggu sebelum Lebaran itu sudah ramai, orang beli oleh-oleh untuk dibawa pulang. Sekarang belum terasa,” ujarnya kepada ANTARA, Selasa (17/3).
Kawasan THR Teluk Penyu selama ini dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas wisata di Cilacap, terutama bagi pengunjung Pantai Teluk Penyu. Deretan kios di kawasan tersebut menjual berbagai produk hasil laut, termasuk ikan asin.
Baca juga: Benteng Pendem Cilacap, dari benteng pertahanan jadi wisata Lebaran
Baca juga: Benteng Pendem Cilacap, dari benteng pertahanan jadi wisata Lebaran
Baca juga: Melepas penat kala perjalanan mudik di "masjid perahu" As-Shodiqin
Baca juga: Melepas penat kala perjalanan mudik di "masjid perahu" As-Shodiqin
Kawasan ini juga berada di jalur selatan yang kerap dilalui pemudik Jalur Selatan, sehingga berpotensi menjadi titik singgah untuk beristirahat sekaligus membeli oleh-oleh.
Namun, menurut Kusmiyati, hingga saat ini pembeli masih didominasi oleh warga lokal, sementara pengunjung dari luar daerah belum banyak terlihat.
“Kalau di sini kebanyakan masih orang lokal. Dari luar daerah ada, tapi tidak banyak,” katanya.
Ia menilai kondisi tersebut berbeda dengan daerah lain seperti Pangandaran yang lebih ramai dan berkembang sebagai tujuan wisata sekaligus pusat oleh-oleh.
“Di sana lebih ramai. Kalau di sini masih ketinggalan,” ujarnya.
Kusmiyati menjual berbagai jenis ikan asin hasil laut, seperti jambal, cumi, teri, dan peda, yang dipasarkan dalam bentuk curah maupun kemasan.
Harga ikan asin berkisar Rp25 ribu hingga Rp300 ribu per kilogram, sementara kemasan kecil dijual mulai dari Rp5 ribu.
Ia menjelaskan, pada periode Lebaran biasanya terdapat beberapa hari puncak kunjungan dalam satu minggu setelah hari raya, di mana penjualan dapat meningkat signifikan.
“Kalau lagi ramai sekali bisa sampai sepuluh kali lipat. Tapi sekarang belum kelihatan seperti itu,” katanya.
Ia berharap adanya pengembangan kawasan, termasuk penyelenggaraan kegiatan yang dapat menarik lebih banyak pengunjung.
“Kalau ada acara biasanya lebih ramai. Tapi di sini belum banyak,” ujarnya.
Meski demikian, Kusmiyati tetap bertahan dengan mengandalkan modal sendiri dan tidak terlalu bergantung pada target penjualan tinggi.
“Yang penting sehat, masih bisa makan. Rezeki kita jalani saja,” katanya.
Baca juga: InJourney siapkan sejumlah agenda spesial rayakan "Lebaran di Candi"
Baca juga: Menhut minta "zero waste, zero accident" di TN sesuai arahan Presiden
Baca juga: Kemenpar ingin jadikan Jakarta sebagai destinasi wisata libur Lebaran





