Hening yang lahir dari riuh

antaranews.com
14 jam lalu
Cover Berita
Mataram (ANTARA) - Sore di Kota Mataram pada pertengahan Maret tidak hanya dihiasi langit warna jingga, tetapi juga riuh dengan tabuhan, sorak warga, dan derap langkah ratusan pemuda yang mengusung ogoh-ogoh.

Di sepanjang Jalan Pejanggik, 105 karya seni raksasa bergerak perlahan, memadukan imajinasi, spiritualitas, dan kerja kolektif lintas generasi.

Pawai ini bukan sekadar tradisi tahunan menjelang Hari Raya Nyepi, tetapi telah menjelma menjadi panggung sosial yang memperlihatkan wajah toleransi di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Momentum tahun ini terasa lebih istimewa. Pawai ogoh-ogoh berlangsung saat umat Muslim menjalankan ibadah Ramadhan. Dua ritme keagamaan berjalan beriringan dalam ruang yang sama, tanpa saling menegasikan.

Inilah yang membuat fenomena ogoh-ogoh di Mataram layak ditelaah lebih dalam, bukan hanya sebagai peristiwa budaya, tetapi sebagai cermin kematangan sosial yang jarang ditemukan di banyak daerah lain.


Budaya spiritual

Ogoh-ogoh pada dasarnya adalah simbol. Dalam ajaran Hindu, ia merepresentasikan bhuta kala, energi negatif yang harus dinetralisasi sebelum memasuki keheningan Nyepi.

Secara filosofis, pawai ini adalah fase “ramai” sebelum “sunyi”, sebuah perjalanan batin dari hiruk-pikuk menuju refleksi.

Namun dalam praktiknya, ogoh-ogoh kini berkembang jauh melampaui makna awal. Kreativitas pemuda banjar menghadirkan bentuk-bentuk yang semakin kompleks, dari figur mitologi hingga kritik sosial modern.

Kompetisi antar-kelompok, sorotan media sosial, hingga kehadiran wisatawan membuat ogoh-ogoh menjadi atraksi publik yang sangat dinanti.

Data menunjukkan, sebanyak 105 banjar ikut serta dalam pawai tahun ini. Angka ini bukan hanya mencerminkan partisipasi tinggi, tetapi juga menandakan bagaimana tradisi ini menjadi ruang ekspresi kolektif.

Di sisi lain, pengamanan melibatkan sekitar 850 personel gabungan, menunjukkan skala kegiatan yang semakin besar dan kompleks.

Di titik inilah muncul dilema. Ketika ogoh-ogoh semakin meriah, apakah makna spiritualnya tetap terjaga? Atau justru tergeser oleh orientasi hiburan dan eksistensi?

Fenomena ini bukan hal baru. Dalam banyak tradisi budaya, komersialisasi dan popularitas sering kali berjalan beriringan dengan pengaburan makna.

Namun di Mataram, situasinya sedikit berbeda. Kemeriahan ogoh-ogoh tidak berdiri sendiri, melainkan berada dalam konteks sosial yang kuat, yaitu toleransi antarumat beragama.

Pawai yang dijadwalkan selesai sebelum waktu berbuka puasa menjadi contoh konkret bagaimana ruang publik diatur dengan sensitivitas sosial. Bahkan potensi benturan dengan malam takbiran diantisipasi melalui rekayasa rute dan komunikasi lintas komunitas.

Ini menunjukkan bahwa ogoh-ogoh tidak sekadar perayaan budaya, tetapi juga mekanisme sosial untuk merawat kebersamaan.


Ujian toleransi

Mataram dalam beberapa tahun terakhir sering disebut sebagai miniatur Indonesia. Keberagaman agama, etnis, dan budaya hidup dalam ruang yang relatif harmonis. Namun harmoni tidak pernah lahir tanpa ujian.

Tahun ini, ujian itu datang dari irisan waktu antara Nyepi dan Ramadhan. Dua momen sakral yang menuntut ruang ekspresi berbeda. Nyepi identik dengan keheningan total, sementara Ramadhan diwarnai aktivitas ibadah yang dinamis, terutama menjelang Idul Fitri.

Dalam konteks ini, ogoh-ogoh menjadi titik temu sekaligus potensi gesekan. Ribuan orang berkumpul, lalu lintas dialihkan, aktivitas kota berubah. Tanpa pengelolaan yang baik, situasi ini bisa memicu ketegangan.

Fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Pemerintah kota, aparat keamanan, dan tokoh masyarakat mampu mengelola situasi dengan pendekatan kolaboratif. Pengalihan arus lalu lintas sepanjang 1,5 kilometer, penutupan jalur strategis, hingga penyesuaian waktu kegiatan dilakukan secara terencana.

Tidak hanya itu, aspek lingkungan juga mendapat perhatian. Dinas Lingkungan Hidup menyiagakan 325 petugas untuk mengantisipasi lonjakan sampah yang diperkirakan mencapai 6 hingga 7 ton dari pawai ogoh-ogoh. Angka ini menunjukkan bahwa perayaan budaya memiliki konsekuensi ekologis yang tidak kecil.

Di sisi lain, pemberian remisi kepada 77 narapidana beragama Hindu dalam rangka Nyepi memperlihatkan dimensi lain dari perayaan ini. Negara hadir tidak hanya dalam bentuk pengamanan, tetapi juga dalam pemenuhan hak warga binaan. Nyepi menjadi momentum refleksi, bahkan di balik tembok lembaga pemasyarakatan.

Keseluruhan dinamika ini memperlihatkan satu hal penting. Toleransi di Mataram bukan sekadar slogan, tetapi praktik yang dijalankan melalui kebijakan, koordinasi, dan kesadaran kolektif.


Menjaga makna

Meski demikian, tantangan ke depan tidak ringan. Popularitas ogoh-ogoh yang terus meningkat berpotensi menggeser orientasi dari spiritual ke spektakuler. Generasi muda bisa saja lebih tertarik pada lomba dan eksposur dibandingkan pemahaman filosofis.

Jika dibiarkan, ogoh-ogoh berisiko menjadi sekadar festival tahunan tanpa kedalaman makna. Padahal kekuatan tradisi ini justru terletak pada nilai simboliknya.

Di sinilah pentingnya intervensi kebijakan yang tidak kaku, tetapi strategis. Edukasi menjadi kunci. Setiap banjar tidak hanya didorong untuk berkreasi, tetapi juga memahami filosofi ogoh-ogoh. Kurasi karya bisa diarahkan agar tidak sekadar mengejar estetika, tetapi juga pesan moral.

Pemerintah daerah dapat mengambil peran lebih aktif dengan menjadikan ogoh-ogoh sebagai bagian dari pendidikan budaya. Misalnya melalui workshop, diskusi, atau integrasi dalam kurikulum lokal. Pendekatan ini akan menjaga keseimbangan antara kreativitas dan makna.

Selain itu, aspek lingkungan perlu diperkuat. Produksi ogoh-ogoh yang menggunakan berbagai material berpotensi menambah beban sampah. Inovasi bahan ramah lingkungan dan sistem pengelolaan limbah harus menjadi bagian dari standar penyelenggaraan.

Di sisi sosial, model koordinasi lintas agama yang sudah berjalan baik perlu dijadikan protokol tetap. Mataram memiliki modal sosial yang kuat, dan itu harus dijaga melalui komunikasi yang berkelanjutan, bukan hanya saat ada potensi konflik.

Ogoh-ogoh di Mataram bukan hanya tentang patung raksasa yang diarak di jalanan. Ia adalah narasi tentang bagaimana masyarakat mengelola perbedaan, menyeimbangkan tradisi dan modernitas, serta merawat ruang bersama.

Ketika malam tiba dan ogoh-ogoh dibakar, yang tersisa bukan hanya abu, tetapi juga pertanyaan penting. Apakah kita mampu menjaga makna di balik tradisi yang terus berubah? Atau justru membiarkannya larut dalam gemerlap tanpa arah?

Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan, apakah ogoh-ogoh tetap menjadi jembatan menuju keheningan, atau sekadar menjadi panggung keramaian yang kehilangan ruhnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rencana Tenor Rusun Subsidi Bisa 30 Tahun, Luas Tanah 45 Meter Persegi
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Penyiram Air Keras Andrie Yunus Berinisial BHC dan BHW Orang yang Sama
• 26 menit lalukompas.com
thumb
Prabowo Diskusi Bareng Jurnalis-Pakar hingga Dini Hari, Bahas Apa Saja?
• 13 jam lalukompas.com
thumb
Car Free Night, Terobosan Gubernur Pramono Sambut Malam Takbiran
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Ramalan Shio 19 Maret 2026: Kelinci, Tikus, Naga, dan Anjing
• 19 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.