AI Kini Mengolah Jutaan Data untuk Menguatkan Mitigasi Banjir

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) terus meluas ke berbagai bidang, termasuk antisipasi bencana. AI kini bisa digunakan mengolah jutaan laporan terkait kejadian bencana menjadi data terstruktur untuk menguatkan sistem mitigasi bencana. Mungkinkah hal ini diimplementasikan di Indonesia?

Pemanfaatan AI untuk mitigasi bencana antara lain dilakukan perusahaan teknologi Google melalui proyek bernama Groundsource.

Dalam proyek ini, para peneliti di Google Research memanfaatkan Gemini—model AI yang dikembangkan Google. Tujuannya, mengolah berita dan informasi publik mengenai peristiwa bencana menjadi data historis berkualitas tinggi ihwal kejadian bencana.

Wakil Presiden dan Kepala Google Research, Yossi Matias, mengatakan, saat bencana terjadi, informasi yang memadai sangat penting untuk menyelamatkan nyawa. Dia menuturkan, selama bertahun-tahun, Google telah berupaya memberikan peringatan dini mengenai bencana alam untuk membantu masyarakat tetap aman.

“Namun, data dengan akurasi tinggi untuk bencana tertentu, seperti banjir, sebelumnya tidak tersedia. Kesenjangan data ini telah lama menghambat kemampuan kami untuk melatih model AI dalam memprediksi banjir sebelum terjadi ,” ujar Yossi dalam tulisan di blog resmi Google, Kamis (12/3/2026).

Itulah kenapa, tim Google Reserach kemudian mengembangkan Groundsource untuk menyusun data historis yang terstruktur mengenai kejadian bencana. Pada tahap pertama proyek itu, para peneliti di Google Research memakai Gemini untuk menganalisis berita dan laporan flash floods atau banjir yang terjadi secara cepat di area perkotaan.

Data laporan yang dianalisis itu mencakup peristiwa banjir selama puluhan tahun di berbagai negara. Hasilnya, ada lebih dari 2,6 juta peristiwa banjir yang berhasil diidentifikasi di lebih dari 150 negara. Para peneliti kemudian menggunakan Google Maps untuk memetakan batas geografis bagi setiap kejadian bencana.

Kami sedang membangun masa depan yang lebih tangguh bagi semua orang agar tidak ada seorang pun yang dikejutkan bencana alam

Dari proses tersebut, didapat sebuah dataset atau kumpulan data. Isinya catatan historis mengenai peristiwa banjir yang terjadi selama puluhan tahun di ratusan negara.

Kumpulan data itu kemudian digunakan untuk melatih model AI yang bisa memprediksi banjir di suatu wilayah dalam waktu 24 jam sebelum kejadian.

Data prakiraan banjir itu kemudian diunggah di platform milik Google yang bernama Flood Hub. Data terkait urban flash floods atau banjir yang terjadi secara cepat di area perkotaan itu melengkapi data riverine floods atau banjir akibat luapan sungai yang sudah lebih dulu ada di Flood Hub.

Yossi berharap, data mengenai prakiraan peristiwa banjir tersebut bisa membantu masyarakat untuk bersiap menghadapi bencana. “Bagi masyarakat di seluruh dunia, ini berarti kesiapsiagaan yang lebih baik sebelum bencana melanda,” katanya.

Yossi menambahkan, bagi para mitra dan ilmuwan Google Research, Groundsource menyediakan tolok ukur sumber terbuka (open source) yang bisa dimanfaatkan untuk memperluas dampak dari penelitian mengenai mitigasi bencana.

Baca JugaMampukah AI Mengungkap Pelaku Penyiraman Andrie Yunus?

Apalagi, menurutnya, pemanfaatan AI dalam Groundsource bisa diperluas untuk mitigasi bencana lain, seperti tanah longsor dan gelombang panas.

“Dengan mengubah informasi publik menjadi data yang dapat ditindaklanjuti, kami tidak hanya menganalisis masa lalu. Kami sedang membangun masa depan yang lebih tangguh bagi semua orang agar tidak ada seorang pun yang dikejutkan bencana alam,” ungkap Yossi.

Baca JugaKisah Ainun dan AI-Noon, dari Tren Agen AI sampai Kedaulatan

Berdasarkan pengecekan Kompas, situs Flood Hub milik Google menyediakan data prakiraan banjir di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Halaman utama situs tersebut menampilkan peta dunia yang bisa diarahkan melihat negara atau wilayah tertentu. Adapun data prakiraan banjir di situs itu terdiri dari dua jenis, yakni flash floods dan riverine floods.

Data prakiraan flash floods berupa poligon yang terdiri dari dua kategori, yakni highly likely dengan warna merah dan likely dengan warna oranye.

Kategori highly likely menunjukkan wilayah yang sangat berpotensi terjadi banjir dalam waktu 24 jam ke depan. Sedangkan kategori likely merujuk ke area yang berpotensi mengalami banjir dalam waktu 24 jam mendatang.

Sementara itu, data prakiraan riverine floods terdiri dari empat kategori, yakni extreme, danger, warning, normal, dan no data. Masing-masing kategori itu menunjukkan tingkatan peringatan dini mengenai potensi banjir akibat luapan sungai.

Namun, Google juga menyatakan bahwa data di Flood Hub hanya bersifat prakiraan dan hanya ditujukan untuk informasi. Masyarakat tetap diminta memantau informasi resmi dari otoritas terkait untuk informasi lengkap.

Peta Banjir Indonesia

Selain data prakiraan banjir, tim Google Research juga mempublikasikan data historis banjir dari proyek Groundsource. Data yang bisa diakses secara gratis itu dapat dimanfaatkan para peneliti, jurnalis, lembaga pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, mahasiswa, dan pihak lain, untuk beragam keperluan.

Setelah data itu dipublikasikan, sejumlah pihak telah mencoba memanfaatkan data tersebut. Hal ini antara lain dilakukan Faiz Krisnadi (26), mahasiswa program studi master Hubungan Internasional di Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore, Singapura.

Baca JugaMendayagunakan AI untuk Memudahkan Akses ke Puluhan Ribu Dokumen Regulasi

Lelaki asal Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, itu memanfaatkan data historis banjir dari Groundsource untuk membuat aplikasi Peta Banjir Indonesia.

Di platform ini, terdapat dashboard interaktif yang memungkinkan pengguna melihat data historis banjir di Indonesia sejak April 2000 sampai Februari 2026 atau hampir 26 tahun.

Faiz menuturkan, sebagai mahasiswa di Lee Kuan Yew School of Public Policy, dirinya banyak bersinggungan dengan data terkait kebijakan publik. Dalam perkuliahan, dia juga belajar tentang bahasa pemrograman R dan Python. Belakangan, dia pun belajar ihwal penggunaan agen AI untuk membantu pemrograman.

Oleh karena itu, saat mengetahui soal Groundsource, Faiz langsung tertarik mengulik data dari proyek tersebut. “Apalagi, belakangan Indonesia banyak dilanda bencana banjir,” katanya saat diwawancarai secara daring, Senin (16/3/2026). Dia berharap, platform itu bisa memudahkan warga untuk mengetahui data banjir di berbagai wilayah Indonesia.

Baca JugaKisah Dramatis OpenClaw, Agen AI yang Bikin Antusias Sekaligus Waswas

Peta Banjir Indonesia terdiri dari dua bagian utama, yakni peta dan sidebar. Di bagian peta, pengguna bisa melihat visualisasi intensitas banjir dan melihat mana wilayah yang kerap dilanda banjir.

Pengguna juga bisa melihat tren banjir dari waktu ke waktu di suatu wilayah. Adapun di sidebar terdapat data lebih detail mengenai kejadian banjir.

Baca JugaAI Melunturkan Rasa dalam Karya Jurnalistik

Data di platform itu bisa difilter berdasar tingkatan wilayah, yakni provinsi, kabupaten/kota, dan kecamatan. Pengguna bisa mengklik area di peta atau mencari nama wilayah untuk memunculkan data historis banjir.

Data yang ditampilkan terdiri dari empat metrik, yakni jumlah peristiwa unik banjir, jumlah hari banjir, luas irisan wilayah banjir, dan rasio cakupan maksimal banjir.

Berbagai pihak pun bisa memanfaatkan data-data itu untuk beragam keperluan. Warga yang ingin membeli rumah, misalnya, bisa mengecek seberapa sering terjadi banjir di wilayah lokasi rumah itu. Adapun instansi pemerintah bisa menyusun mitigasi yang lebih baik di area yang kerap dilanda banjir.

Proyek Groundsource dari Google diharapkan bisa menguatkan mitigasi bencana, termasuk di Indonesia. Inisiatif untuk pemanfaatan data dari proyek itu pun harus terus didorong.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
MBG Libur Saat Idul Fitri, BGN Klaim Hemat Anggaran Rp5 Triliun
• 19 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Waka MPR Nilai Kebinenakaan Harus Jadi Kekuatan Membangun Bangsa
• 19 jam laludetik.com
thumb
Detik-Detik Rudal Balistik Iran Guncang Riyadh Ibu Kota Arab Saudi
• 6 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Kata Kemenhub soal Tiket Pesawat Bisa Lebih Mahal saat Lebaran
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Kemenag Gelar Sidang Isbat Hari Ini, Penetapan 1 Syawal 1447 H Diumumkan Malam Ini
• 8 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.