Harga Minyak Mentah Naik Usai Serangan Iran, Brent Tembus USD 107 per Barel

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak mentah dunia ditutup menguat pada Rabu (18/3) dan berlanjut naik pada perdagangan setelahnya, seiring meningkatnya tensi di Timur Tengah. Kenaikan dipicu serangan Iran ke sejumlah fasilitas energi, menyusul serangan terhadap ladang gas South Pars yang memperbesar eskalasi konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Mengutip Reuters, minyak Brent tercatat melonjak 5,6 persen dalam perdagangan pasca-penutupan, setelah sebelumnya ditutup naik 3,8 persen ke level USD 107,38 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melanjutkan kenaikan hingga 4 persen usai ditutup naik 11 sen atau 0,1 persen ke USD 96,32 per barel.

Selisih harga WTI terhadap Brent melebar ke level terlebar dalam 11 tahun terakhir. Hal ini dipicu tekanan pada patokan minyak AS akibat meningkatnya pasokan dari pelepasan Cadangan Minyak Strategis serta kenaikan biaya pengiriman. Di sisi lain, Brent mendapat dorongan dari serangan terbaru ke fasilitas energi di kawasan Timur Tengah.

Perusahaan energi milik negara Qatar menyebut Kota Industri Ras Laffan mengalami "kerusakan luas" akibat serangan rudal Iran. Arab Saudi juga melaporkan telah mencegat sejumlah rudal balistik yang mengarah ke Riyadh serta menggagalkan serangan drone ke fasilitas gas di wilayah timur negara tersebut.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran telah mengeluarkan peringatan evakuasi untuk sejumlah fasilitas energi di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Fasilitas tersebut disebut akan menjadi target serangan dalam beberapa jam mendatang.

Peringatan ini muncul setelah serangan terhadap ladang gas South Pars di Iran, yang menurut laporan media Israel dilakukan oleh Israel dengan persetujuan AS. Namun, kedua negara tersebut tidak mengakui keterlibatan langsung.

"Serangan terhadap ladang South Pars di Iran telah mendorong kenaikan harga minyak dan gas, dan setiap peningkatan serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi akan terus menaikkan harga," kata Analis SEB, Ole Hvalbye.

Konflik juga berdampak pada distribusi energi global. Pengiriman melalui Selat Hormuz yang menyumbang sekitar 20 persen pasokan minyak dan LNG dunia terhenti. Total gangguan produksi minyak di Timur Tengah diperkirakan mencapai 7 juta hingga 10 juta barel per hari, atau sekitar 7 persen hingga 10 persen dari permintaan global.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump merespons dengan memberikan pengecualian 60 hari terhadap aturan pelayaran Jones Act. Kebijakan ini memungkinkan kapal berbendera asing mengangkut bahan bakar, pupuk, dan barang lainnya antar pelabuhan di AS.

Selain itu, pemerintah juga disebut akan melonggarkan sementara pembatasan emisi bensin musim panas. Meski demikian, pelaku pasar menilai langkah tersebut hanya berdampak terbatas terhadap harga energi global.

Harga kontrak berjangka diesel AS bahkan melonjak hingga hampir USD 85 per barel di atas harga WTI, tertinggi sejak Oktober 2022. AS juga mengeluarkan lisensi yang mengizinkan transaksi tertentu dengan perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA. Di saat yang sama, Wakil Presiden JD Vance dijadwalkan bertemu dengan American Petroleum Institute.

Dari sisi pasokan, Irak mulai kembali meningkatkan ekspor minyak. Perusahaan Minyak Utara menyebut aliran minyak dari ladang Kirkuk ke pelabuhan Ceyhan, Turki, telah kembali berjalan melalui pipa dengan kapasitas awal 250.000 barel per hari. Secara terpisah, SOMO juga meneken kontrak ekspor minyak melalui Turki, Yordania, dan Suriah.

"Irak kembali membuka keran produksi minyak pada waktu yang tepat, ketika dunia benar-benar membutuhkan lebih banyak pasokan minyak. Hal ini juga meningkatkan tekanan pada Iran, sehingga menyulitkan mereka untuk menggunakan minyak sebagai alat tawar-menawar," kata Analis Price Futures Group, Phil Flynn.

Di Libya, aliran minyak dari ladang Sharara dialihkan melalui pipa alternatif setelah terjadi kebakaran. Sementara itu di AS, stok minyak mentah justru meningkat. Badan Informasi Energi mencatat persediaan naik 6,2 juta barel menjadi 449,3 juta barel pada pekan yang berakhir 13 Maret. Angka ini jauh di atas ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan hanya 383.000 barel.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Operasional Transjakarta 18 sampai 24 Maret 2026, Buka Rute Khusus hingga Wisata
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
Michael Bambang Hartono Wafat di Usia 86 Tahun, Ini Profil dan Rekam Jejaknya
• 1 jam laludisway.id
thumb
Jadwal Imsakiyah Ramadhan Kamis, 19 Maret 2026 untuk Wilayah Jakarta
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
Breaking: Harga Minyak Kini Tembus US$ 111 Usai Qatar Dibombardir
• 9 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Foto: Kerja Fleksibel Saat Lebaran, WFA Diterapkan
• 19 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.