JAKARTA, KOMPAS.com - Ketika sebagian umat Islam pulang kampung atau libur saat Lebaran, ada yang memilih tetap bekerja demi tetap berpenghasilan.
Dua di antara golongan tersebut ialah Ernawati (51) dan Roskina (43). Keduanya merupakan pekerja infal atau tenaga pengganti asisten rumah tangga (ART) selama musim mudik Lebaran.
Kerja berat, upah tinggiBagi Ernawati dan Roskina, momen Lebaran justru menjadi peluang untuk mendapatkan penghasilan lebih besar, meski harus mengorbankan waktu bersama keluarga.
"Kalau Lebaran saya jarang pulang. Paling cuma lewat video call saja sama keluarga jarak jauh buat komunikasi. Tidak pulang sudah biasa, apalagi kalau Lebaran fee-nya beda, lebih besar," ujar Roskina saat ditemui Kompas.com di Kantor Penyalur ART PT Dani Mandiri, Jakarta Selatan, Rabu (18/3/2026).
Meski upah lebih tinggi, Roskina mengakui beban kerja sebagai pekerja infal jauh lebih berat dibandingkan pekerja tetap.
"Kerjanya bisa dua kali lipat, bahkan tiga kali lipat. Pekerjaan bertumpuk-tumpuk karena majikan kasih kerjaan tidak berhenti-berhenti. Kalau permanen kan sudah biasa jalannya," tuturnya.
Baca juga: Berapa Biaya ART Infal Saat Lebaran? Ini Kisarannya per Hari
Menurutnya, kepuasan majikan sangat bergantung pada ketangkasan dan kemampuan pekerja di dapur.
"Ada yang suka karena kita gesit, ada yang suka karena masakan kita enak. Kalau majikan minta masak ini itu ya saya buatkan. Intinya jangan melawan kalau diatur, nurut saja dan yang paling penting itu sabar," ujarnya.
Karena kinerjanya yang dinilai apik selama masa infal, Roskina pernah ditawari menjadi ART permanen oleh sang majikan.
"Majikan pernah bilang, 'Wah, Ibu kerjanya lebih bagus daripada ART saya yang lama yang sedang pulang kampung'. Ya, saya merasa senang saja," ungkapnya.
Bagi Roskina, kunci utama bekerja sebagai pekerja infal adalah kesabaran dan selalu siap dengan permintaan.
"Intinya jangan melawan kalau diatur, nurut saja dan yang paling penting itu sabar," sambung Roskina.
Bonus tak terdugaSenada dengan Roskina, Ernawati yang sudah delapan tahun berkecimpung di bidang ini, menekankan pentingnya menjadi pekerja infal yang punya inisiatif tinggi.
Baginya, membantu pekerjaan di luar tugas utama adalah hal yang lazim dilakukan pekerja infal.
"Kalau kita punya pengertian, meskipun bos tidak menyuruh, kita bantu saja. Nanti majikan juga pasti melebihkan upah kita," jelasnya.





:strip_icc()/kly-media-production/medias/5506323/original/031826000_1771428616-1000366560.jpg)