Balas Agregat 3 Gol, Sporting CP Susul Rekor Liverpool dan Barcelona di Liga Champions

bisnis.com
8 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Sporting CP melaju ke perempat final Liga Champions UEFA musim 2025/26, sekaligus menjadi tim kelima sepanjang sejarah kompetisi yang berhasil comeback setelah tertinggal agregat tiga gol. 

Singa Lisbon tampil begitu agresif sejak menit awal dalam laga babak 16 besar leg kedua di Estádio José Alvalade itu, demi membalas kekalahan tiga gol tanpa balas oleh Bodo/Glimt minggu lalu.

Sporting tampak mengandalkan switch of play dari kedua sayapnya untuk mengurung Kasper Hogh cs di sepertiga lapangan sendiri.

Upaya tersebut berbuah sundulan masuk dari Goncalo Inacio atas sepak pojok Trincao di menit ke-34. Penguasaan bola Si Hijau-Putih pun begitu dominan, tembus 60% lebih. 

Setelah turun minum, Sporting kembali mendominasi. Pote pun berhasil mencetak gol kedua di menit ke-61 hasil umpan matang serangan balik cepat Luis Suarez. 

Bola langsung diambil untuk dibawa ke tengah, mencerminkan gairah Sporting untuk mencetak comeback dramatis.

Baca Juga

  • Hasil Liga Champions: Liverpool Tumbang, Bayern Munchen Pesta Gol
  • Berkat Jaga Mental Health, Kisah Sukses Bodo/Glimt di Liga Champions
  • Hasil Liga Champions: Man City dan Chelsea Tumbang, Arsenal Imbang

Tangan bek Bodo/Glimt, Fredrik Bjorkan yang menyentuh bola di dalam kotak penalti berujung handball setelah tinjauan VAR. Suarez pun berhasil mengeksekusi sekaligus menyamakan kedudukan secara agregat.

Laga dilanjutkan ke babak tambahan. Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, terjadi gol cantik Maxi Araujo dari tengah yang melengkung melewati pemain Bodo sebelum menembus jala gawang.

Lantas, gol telat Rafael Nel pada menit ke-121 menjadi cherry on top bagi kisah comeback Sporting di hadapan publik sendiri.

Sekadar info, sepanjang sejarah Liga Champions UEFA, baru ada empat tim yang berhasil comeback setelah tertinggal agregat tiga gol, yakni Barcelona, Deportivo La Coruna, AS Roma, dan Liverpool. 

Alhasil, Sporting pun menjadi tim kelima yang berhasil mencetak sejarah comeback legendaris di Liga Champions. 

Berikut rangkuman kisah comeback legendaris para tim tersebut:

Deportivo La Coruna vs AC Milan, perempat final 2003/04

Keajaiban bisa terjadi kapan saja, bahkan walaupun itu sangat rasional. Pelatih Deportivo La Coruna kala itu, Javier Irureta masih menyimpan harapan untuk bisa comeback, kendati sudah keok 4–1 di kandang AC Milan, San Siro.

Benar saja, Deportivo sudah bisa membalas 3–0 pada babak pertama leg kedua di markasnya kala itu, Estadio Razor.

Pasukan bertabur bintang Rossoneri macam Kaka, Shevchenko dan Rui Costa cs pun harus tertunduk lesu, sebab giliran super-sub sayap kiri Deportivo, Fran menjebol gawang Dida pada menit ke-76.

Agregat akhir pun menjadi 5–4 dan Deportivo resmi melenggang ke semi final.

Barcelona vs PSG, babak 16 besar 2016/17 

Blaugrana mencatatkan sejarah sebagai satu-satunya tim yang bisa comeback di Liga Champions setelah tertinggal agregat empat gol.

Pada leg pertama, Paris Saint-Germain (PSG) menang 4–0 di Parc des Princes berkat gol Di Maria, Draxler, dan Cavani.

Namun, trio Lionel Messi, Luiz Suarez, dan Neymar membalas dengan totalitas tanpa batas, menghujani gawang PSG tanpa ampun, hingga skor berakhir 6–1. 

AS Roma vs Barcelona, perempat final 2017/18

Duet Messi dan Luiz Suarez di lini depan Barcelona menjadi mimpi buruk buat pasukan AS Roma era Eusebio Di Francesco kala bertandang ke Camp Nou. Daniele De Rossi cs ketinggalan agregat 4–1.

Namun, giliran leg kedua di Stadion Olimpiade Roma, gol cepat Edin Dzeko pada menit ke-6 memberikan harapan besar buat I Lupi. Terlebih, banyak peluang emas buat mereka di babak pertama.

Lantas, pada babak kedua, Daniele De Rossi berhasil mengeksekusi penalti tepat sebelum menit ke-60, disusul tandukan Kostas Manolas jelang delapan menit sebelum pertandingan berakhir. 

Kejutan yang terjadi rasanya seperti mimpi. Tak heran, Blaugrana sebagai rim unggulan justru gagal lolos setelah unggul agregat tiga gol. 

Liverpool vs Barcelona, semifinal 2018/19

Kala itu, Barcelona unggul 3–0 ketika menghadapi pasukan Mo Salah cs di Camp Nou, berkat gol Messi dan Suarez

Namun, pasukan Liverpool era Jurgen Klopp bangkit di Anfield, terutama berkat taktik pressing ekstrem di semua sisi lapangan alias gegenpressing.

The Reds pun menang 4–0 di kandang, dihiasi salah satu gol ikonik Liga Champions, yakni sepakan kejutan Divock Origi dari tipuan sepak pojok cepat Trent Alexander-Arnold. 

Nasib Liverpool semakin manis pada musim itu, sebab berakhir dengan raihan trofi selepas sukses mengalahkan Tottenham Hotspur di partai final.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kelelahan, Pemudik Motor Pingsan Saat Antre Masuk Kapal di Pelabuhan Ciwandan
• 11 jam lalurctiplus.com
thumb
Perolehan Penonton Hari Pertama 6 Film Lebaran 2026: Danur Melesat Jauh
• 11 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Idul Fitri 2026 Diprediksi Berbeda, MUI Imbau Masyarakat Tunggu Hasil Sidang Isbat Pemerintah
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Kementerian PU Siaga 24 Jam Amankan Puncak Arus Mudik Lebaran 2026
• 9 jam lalutvrinews.com
thumb
Tak Masuk Skuad Timnas Brasil, Neymar: Jujur, Saya Sedih!
• 3 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.