JAKARTA, KOMPAS.com – Seorang pemudik Lebaran 2026, Farhan, mengaku mengalami kemacetan parah di Tol Layang Mohammed Bin Zayed (MBZ) pada Rabu (18/3/2026).
Perjalanan dari Jakarta menuju Cimahi, Jawa Barat, yang seharusnya ditempuh sekitar dua jam lebih, justru molor hingga hampir empat jam.
Farhan menuturkan, ia berangkat dari kawasan Jakarta Utara sekitar pukul 04.30 WIB dengan harapan dapat menghindari kepadatan lalu lintas. Namun, kondisi di lapangan justru di luar perkiraan.
Baca juga: Volume Kendaraan Tinggalkan Jakarta Via Tol Layang MBZ Melonjak 200 Persen
Berdasarkan pantauan melalui peta digital, jalur mudik yang dilalui, baik Tol MBZ maupun Tol Cikampek bawah, sudah terlihat padat sejak pagi hari.
“Kemarin, harusnya cuma dua jam 15 menit sampai Cimahi Jawa Barat. Ini sampai empat jam karena kejebak macet di MBZ,” ucap Farhan kepada Kompas.com, Kamis (19/3/2026).
Ia masuk Tol MBZ sekitar pukul 05.30 WIB. Namun, kemacetan sudah mulai terasa sejak KM 20 dengan laju kendaraan yang sangat lambat, bahkan di bawah 20 kilometer per jam.
“Ternyata cek di maps, memang jalur yang merah itu di MBZ dan di jalur bawah Cikampek,” kata dia.
Menurut Farhan, kemacetan parah tersebut dipicu oleh sejumlah faktor, mulai dari kecelakaan hingga banyaknya kendaraan yang berhenti di bahu jalan. Sepanjang perjalanan, ia mengaku melihat beberapa insiden kecelakaan, termasuk tabrakan beruntun.
“Sepanjang jalan MBZ, banyak banget yang kecelakaan, mulai dari tabrakan beruntun empat, dua mobil, ada yang berhenti karena buang air kecil, bahkan ada yang berhenti karena cekcok saja. Hampir tujuh kecelakaan saya lihat di tol MBZ,” tutur Farhan.
Kemacetan semakin parah saat kendaraan keluar dari jalur MBZ di sekitar KM 48, tepatnya di titik pertemuan dengan jalur bawah Tol Cikampek. Volume kendaraan dari dua jalur tersebut membuat arus lalu lintas semakin tersendat.
Baca juga: 176.815 Kendaraan Tinggalkan Jakarta via Tol Layang MBZ sejak H-10 sampai H-6 Lebaran
Selain itu, antrean kendaraan menuju rest area KM 57 juga menjadi salah satu pemicu kemacetan. Banyak pemudik berhenti untuk beristirahat maupun mengisi bahan bakar, sehingga antrean kendaraan meluas hingga ke badan jalan.
“Saya melewati rest area KM 57, betul aja disana salah satu biang kemactean. Mungkin orang orang kehabisan bensin dan lewat MBZ dan rest area yang besar pertama itu KM 57 , jadi banyak berhenti di itu rest area,” tutur Farhan.
Farhan juga menilai proses evakuasi kecelakaan di jalur MBZ cukup sulit dilakukan. Kondisi jalan yang relatif sempit membuat akses kendaraan petugas terbatas sehingga penanganan membutuhkan waktu lebih lama.
“Kalau ada kecelakaan di MBZ agak ribet, jalurnya sempit. Jadi penanganannya lama, bikin macet makin panjang,” ujarnya.
Setelah melewati KM 60, arus lalu lintas mulai berangsur lancar hingga akhirnya ia tiba di Cimahi sekitar pukul 10.00 WIB.
Farhan berharap ke depan ada penyebaran informasi yang lebih luas kepada pemudik terkait alternatif rest area untuk mengurangi penumpukan di satu titik. Ia juga menilai perlu adanya peningkatan sistem penanganan darurat di jalur layang MBZ.
“Kalau bisa diinformasikan rest area lain, jangan cuma di KM 57. Biar enggak numpuk di satu titik,” tutupnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




