Proyeksi Harga Emas Setahun, Berpeluang Capai US$6.250 per Ons

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas global berpotensi menguat, bahkan berpeluang naik sekitar 35%, bergerak di kisaran US$5.500 hingga US$6.250 per ons dalam satu tahun ke depan.

Dalam beberapa waktu terakhir, harga emas global memang mengalami tekanan dalam meskipun secara kinerja tahunan masih tergolong sebagai salah satu aset dengan performa terbaik.

Berdasarkan data perdagangan Bloomberg, harga emas spot turun ke kisaran US$4.853 per ons, sementara emas Comex berada di level US$4.861 per ons. Koreksi ini menjadi salah satu penurunan awal tahun, dengan harga sempat melemah hampir 3% ke sekitar US$4.880 per ons pada perdagangan Rabu (18/3/2026) pagi.

Kendati demikian, analis dari State Street menilai tren pelemahan tersebut bersifat sementara. Mereka memperkirakan harga emas masih berpotensi menguji level US$5.500 hingga US$5.600 per ons dalam waktu dekat, terutama jika tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya Iran, kembali meningkat.

Secara fundamental, faktor geopolitik dan kondisi makroekonomi global dinilai masih mendukung pergerakan emas sebagai aset lindung nilai. Bahkan, terdapat peluang sekitar 35% harga emas akan bergerak di kisaran US$5.500 hingga US$6.250 per ons dalam satu tahun ke depan.

Hanya saja, pergerakan harga emas sejak konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran justru menunjukkan dinamika yang tidak sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi. Harga emas tercatat turun sekitar 7% sejak konflik dimulai, dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, ketidakpastian arah suku bunga, serta berkurangnya minat beli setelah reli signifikan tahun lalu.

Ke depan, pelemahan dolar AS diperkirakan kembali menjadi katalis positif bagi emas. Setelah mencatat penurunan lebih dari 9% pada tahun lalu, yang terburuk sejak 2017, dolar AS sempat menguat akibat konflik geopolitik.

Namun, konsensus pelaku pasar memproyeksikan mata uang tersebut kembali melemah sekitar 3% tahun ini. Selain itu, prospek penurunan suku bunga oleh Federal Reserve juga menjadi faktor pendukung.

Penurunan suku bunga akan menekan imbal hasil obligasi dan menurunkan opportunity cost kepemilikan emas, sehingga berpotensi meningkatkan permintaan terhadap logam mulia tersebut.

Baca Juga : Harga Emas Perhiasan Hari Ini 19 Maret Naik Jadi Rp2,63 Juta per Gram, Buyback Rp2,583 Juta

State Street juga menilai, ketika arah kebijakan suku bunga semakin jelas, pasar berpotensi memasuki siklus penguatan baru, di mana meningkatnya permintaan terhadap dana berbasis emas akan memperketat pasokan dan mendorong harga lebih tinggi.

Dari sisi aliran dana, minat investor terhadap emas masih cukup kuat. ETF emas yang terdaftar di AS mencatat arus masuk sebesar US$10,5 miliar sepanjang dua bulan pertama 2026, meningkat 67% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kendati demikian, porsi emas dalam total aset ETF dan reksa dana global masih di bawah 1%, mengindikasikan bahwa emas relatif belum menjadi pilihan utama dalam portofolio investor global.

Pandangan berbeda muncul dari survei Bank of America, di mana sekitar 35% manajer investasi menilai posisi beli emas sebagai perdagangan paling ramai di pasar. 

Di sisi lain, sebanyak 38% responden menganggap harga emas sudah terlalu tinggi, yang turut menjelaskan pergerakan harga yang cenderung terbatas dalam beberapa waktu terakhir.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Foto: Potret Sepinya Bali saat Nyepi
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Tak Hanya Minyak, Perang AS-Iran Juga Ancam Pasokan Obat dan Kebutuhan Medis
• 23 jam lalukompas.id
thumb
Polisi Perlebar Contraflow Jadi 3 Lajur di Ruas Jalan Tol Jakarta–Cikampek
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Danantara Bidik Peluang Kembangkan Chip untuk Dorong Industri Semikonduktor RI
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Unik, Posko Mudik di Tasikmalaya Ini Dilengkapi Museum Mini Tokoh Pahlawan
• 18 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.