Trump Kena Batunya, Perang Iran Jadi Senjata Makan Tuan

cnbcindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia- Perang Iran mulai berbalik menjadi tekanan politik bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dampaknya terasa dari satu titik yang paling dekat, harga bahan bakar.

Pasokan minyak global terganggu setelah konflik memanas. Sekitar 10-15% aliran minyak dunia tersendat. Klaim keberhasilan militer tidak mengubah kondisi distribusi energi. Jalur suplai tetap terganggu, pasar merespons dengan kenaikan harga.

Melansir dari The Economist, kenaikan ini cepat masuk ke dalam negeri. Harga bensin naik dan terlihat jelas di SPBU. Angkanya besar, mudah dibaca, dan berubah dalam hitungan hari. Bagi para pemilih atau voters Trump, ini pengeluaran harian dan bukan issue yang jauh dari mereka.

Efeknya lebih terasa di wilayah basis Partai Republik. Struktur pajak membuat harga di tingkat konsumen bergerak lebih cepat mengikuti lonjakan minyak global. Saat harga dunia naik, harga di pompa ikut melonjak lebih dalam.

Foto: The Economist
Kenaikan Harga BBM di AS

Tekanan seperti ini punya rekam jejak politik. Presiden yang menghadapi lonjakan harga energi sering kehilangan dukungan. Pola itu muncul berulang dalam beberapa dekade terakhir di Amerika.

Kondisi sekarang mulai bergerak ke arah yang sama. Dukungan terhadap perang terbatas di luar basis Republik. Di dalam basisnya, dukungan kuat mulai berkurang. Kelompok muda dan Latino termasuk yang paling cepat terdampak karena porsi belanja energi mereka lebih besar.

Dampak ekonomi merambat ke sektor riil. Harga solar naik, biaya operasional usaha ikut naik. Pelaku usaha kecil di wilayah pedesaan mulai merasakan tekanan. Di sektor pertanian, kekhawatiran datang dari pupuk yang berbasis gas alam. Jika harga gas naik, biaya produksi ikut terdorong.

Situasi ini masuk ke arena politik menjelang pemilu paruh waktu. Demokrat berada dalam posisi yang lebih kuat. Beberapa negara bagian kunci mulai bergerak, terutama yang menjadikan biaya hidup sebagai isu utama kampanye.

Data harga menguatkan arah tersebut. Kenaikan bahan bakar di wilayah pertarungan politik sudah menembus 20%. Angka ini hadir setiap hari di depan pemilih, bukan sekadar laporan ekonomi.

Pernyataan dari Gedung Putih belum meredakan tekanan. Narasi bahwa kenaikan harga minyak menguntungkan Amerika sebagai produsen energi tidak banyak memengaruhi persepsi publik. Rumah tangga tetap menghitung pengeluaran yang bertambah.

Perkembangan berikutnya bergantung pada durasi konflik. Jika perang selesai dalam waktu dekat dan harga energi turun, tekanan bisa berkurang. Selama jalur distribusi minyak belum pulih, harga akan tetap tinggi.

Risiko tetap terbuka dari sisi militer. Iran masih memiliki kapasitas serangan berbiaya rendah seperti drone. Targetnya jelas, kapal tanker dan fasilitas energi. Selama ancaman ini ada, pasar minyak akan tetap sensitif.

Hubungan dengan sekutu ikut terdampak. Koordinasi yang terbatas sejak awal membuat dukungan tidak solid. Upaya mengamankan jalur strategis seperti Selat Hormuz berjalan lebih sulit.

Perang ini sudah masuk ke ruang domestik Amerika. Dampaknya terasa di harga, biaya hidup, dan pilihan politik. Arah berikutnya akan sangat ditentukan oleh pergerakan harga energi dan perkembangan konflik di lapangan.

Tekanan terhadap Trump akan mengikuti dua hal itu. Selama harga belum turun dan situasi belum stabil, risiko politik tetap terbuka.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Lebaran Pertama Usai Menikah, Tegar Justru Berangkat Kerja ke Korea Selatan
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Penumpang KA Daop 3 Cirebon Tembus 70 Ribu
• 22 jam lalutvrinews.com
thumb
Prabowo Undang Megawati di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis 19 Maret 2026
• 1 jam laluliputan6.com
thumb
Dua Hasil Penyelidikan Versi Polisi dan TNI, Sosok Pelaku Penyiraman Air Keras Andrie Yunus
• 23 jam laluliputan6.com
thumb
Menteri Lingkungan Hidup Dorong Perbaikan Sampah di Terminal Tanjung Priok Jelang Mudik
• 17 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.