JAKARTA, DISWAY.ID-- Penentuan awal bulan Kamariah di kawasan Asia Tenggara kini memasuki babak baru yang lebih saintifik.
Melalui forum MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), negara-negara tetangga ini sepakat memperkuat standar visibilitas hilal guna menghindari perdebatan klasik setiap menjelang Ramadan, Syawal, dan Zulhijah.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, menjelaskan bahwa penyatuan persepsi ini bukan proses instan.
BACA JUGA:Catat! Pemerintah Gelar Sidang Isbat Penetapan 1 Syawal 1447 H Mulai Pukul 16.00 WIB
Sejak tahun 1992, kawasan ini setia menggunakan kriteria Imkanur Rukyat 2-3-8.
"Parameter lama tersebut mencakup tinggi hilal minimal 2 derajat, elongasi 3 derajat, dan umur bulan minimal 8 jam setelah ijtimak. Ini menjadi napas utama dalam menilai validitas laporan rukyatul hilal selama puluhan tahun," ujar Arsad di Jakarta, Kamis (19/3).
Seiring kemajuan teknologi optik dan data astronomi global, kriteria 2-3-8 mulai dianggap memiliki keterbatasan.
Secara sains, pada posisi hilal yang sangat rendah dengan elongasi kecil, sabit bulan terlihat sangat tipis sehingga nyaris mustahil dibedakan dengan cahaya syafak (semburat senja).
"Pada ketinggian 2 derajat dengan elongasi 3 derajat, peluang hilal terlihat secara kasat mata sangat kecil. Cahaya bulan seringkali 'kalah' oleh sisa cahaya matahari," jelas Arsad.
Melalui kajian ilmiah panjang yang melibatkan pakar falak dan astronom dari empat negara, muncul kesepakatan baru yang dinilai lebih realistis:
- Tinggi Hilal Minimal: 3 derajat.
- Elongasi Minimal: 6,4 derajat.
Angka 6,4 derajat bukan tanpa alasan. Parameter ini didasarkan pada data rukyat global yang menunjukkan bahwa ketebalan sabit bulan pada posisi tersebut baru memungkinkan untuk dideteksi oleh mata maupun alat bantu optik modern.
BACA JUGA:Usman Hamid Desak Kasus Teror Air Keras Masuk Peradilan Umum, Jangan Sampai Lenyap di Yurisdiksi Militer
Di tanah air, kriteria baru ini mulai diadopsi secara resmi sejak tahun 2022.
Prosesnya melibatkan ormas Islam, akademisi, hingga lembaga antariksa nasional.
Arsad menilai, penggunaan standar yang seragam di level regional membawa dampak positif bagi keseragaman kalender Islam di Asia Tenggara.
- 1
- 2
- »





