Kabul (ANTARA) - Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadan bagi umat Muslim, masyarakat Afghanistan mempersiapkan diri untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri, yang menandai akhir bulan puasa dengan semangat dan khidmat.
Warga Afghanistan biasanya merayakan Idul Fitri dengan menyajikan buah-buahan kering dan segar, aneka penganan berkualitas, serta hidangan lezat di meja makan selama tiga hari perayaan untuk menyambut para tamu.
Namun tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, warga Afghanistan yang telah lama tercabik perang merayakan Idul Fitri di tengah sanksi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat (AS), kemiskinan, dan kesulitan ekonomi. Di negara pascaperang itu, dampak dari kehadiran militer AS selama 20 tahun, yakni kemiskinan ekstrem, masih terlihat di segala penjuru.
Saat berkeliling pasar setempat untuk membeli buah kering, Mohibullah Jabarzai mengeluhkan harga yang sudah di luar jangkauan masyarakat biasa.
Dia menyalahkan sanksi AS serta pembekuan aset Afghanistan sebagai penyebab utama lonjakan harga dan kemiskinan. "Sanksi telah merusak segalanya, mulai dari aktivitas bisnis hingga harga pasar, bahkan hubungan Afghanistan dengan negara lain," ujarnya.
"Banyak orang tidak mampu membeli kebutuhan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri karena kemiskinan," kata Jabarzai.
"Seperti yang Anda tahu, sebagian besar masyarakat kami menganggur, dan mereka tidak bisa membeli kebutuhan akibat pengangguran, lonjakan harga, dan kesulitan ekonomi," tambah Jabarzai, yang menjadi tulang punggung keluarga beranggotakan tujuh orang di Kabul, sambil melihat-lihat harga di sebuah pasar setempat.
Seorang pria menjual permen untuk menyambut Idul Fitri di Kabul, Afghanistan, 15 Maret 2026. Menjelang akhir bulan puasa Ramadhan, masyarakat Afghanistan bersiap merayakan Idul Fitri, menandai berakhirnya bulan suci dengan penuh semangat dan khidmat. ANTARA/XInhua/Saifurahman Safi Dilaporkan bahwa AS membekukan aset Afghanistan senilai miliaran dolar AS setelah penarikan pasukannya dari Afghanistan pada Agustus 2021 dan pembentukan pemerintahan baru di Kabul. Washington juga memutus hubungan dengan penguasa baru Afghanistan serta terus meningkatkan tekanan kepada pemerintah Afghanistan sejak mengambil alih kekuasaan lebih dari empat tahun lalu. Senada dengan keluhan tersebut, warga sekaligus pedagang Kabul lainnya, Mohammad Omar, mengungkapkan dengan nada prihatin bahwa memenuhi kebutuhan keluarga kini menjadi tanggung jawab yang sangat berat, karena harga kebutuhan pokok melonjak sementara pendapatan hampir tidak ada.
"Pasar akan berubah jika aset-aset ini (aset Afghanistan yang dibekukan AS) dicairkan," kata Mohammad Agha, seorang pedagang buah kering.
Agha (53), yang telah menjalankan toko buah kering selama 25 tahun terakhir dan juga menjadi tulang punggung keluarga beranggotakan tujuh orang, mengeluhkan turunnya daya beli masyarakat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Dulu, saya sering menjual 60 sir (1 sir setara 7 kilogram) hingga 70 sir dalam beberapa hari menjelang Idul Fitri, tetapi di tahun ini, saya baru menjual tak sampai 20 sir buah kering," gumamnya.
Orang-orang membeli buah-buahan kering dan kacang-kacangan untuk menyambut Idul Fitri di Kabul, Afghanistan, 15 Maret 2026. Menjelang akhir bulan puasa Ramadhan, masyarakat Afghanistan bersiap merayakan Idul Fitri, menandai berakhirnya bulan suci dengan penuh semangat dan khidmat. ANTARA/XInhua/Saifurahman Safi Senada dengan keluhan tersebut, warga sekaligus pedagang Kabul lainnya, Mohammad Omar, mengungkapkan dengan nada prihatin bahwa memenuhi kebutuhan keluarga kini menjadi tanggung jawab yang sangat berat, karena harga kebutuhan pokok melonjak sementara pendapatan hampir tidak ada
"Perdagangan lesu dan pasar menyusut," kata Agha, seraya menambahkan, "Harga memang lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Misalnya, 1 kilogram kenari tahun lalu seharga 800 afghani (1 afghani = Rp265), sekarang menjadi 500 afghani."
"Harga memang turun dibandingkan tahun lalu, tetapi daya beli masyarakat merosot akibat kemiskinan dan pengangguran," keluh Omar, warga Kabul lainnya.
Warga Afghanistan biasanya merayakan Idul Fitri dengan menyajikan buah-buahan kering dan segar, aneka penganan berkualitas, serta hidangan lezat di meja makan selama tiga hari perayaan untuk menyambut para tamu.
Namun tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, warga Afghanistan yang telah lama tercabik perang merayakan Idul Fitri di tengah sanksi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat (AS), kemiskinan, dan kesulitan ekonomi. Di negara pascaperang itu, dampak dari kehadiran militer AS selama 20 tahun, yakni kemiskinan ekstrem, masih terlihat di segala penjuru.
Saat berkeliling pasar setempat untuk membeli buah kering, Mohibullah Jabarzai mengeluhkan harga yang sudah di luar jangkauan masyarakat biasa.
Dia menyalahkan sanksi AS serta pembekuan aset Afghanistan sebagai penyebab utama lonjakan harga dan kemiskinan. "Sanksi telah merusak segalanya, mulai dari aktivitas bisnis hingga harga pasar, bahkan hubungan Afghanistan dengan negara lain," ujarnya.
"Banyak orang tidak mampu membeli kebutuhan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri karena kemiskinan," kata Jabarzai.
"Seperti yang Anda tahu, sebagian besar masyarakat kami menganggur, dan mereka tidak bisa membeli kebutuhan akibat pengangguran, lonjakan harga, dan kesulitan ekonomi," tambah Jabarzai, yang menjadi tulang punggung keluarga beranggotakan tujuh orang di Kabul, sambil melihat-lihat harga di sebuah pasar setempat.
Seorang pria menjual permen untuk menyambut Idul Fitri di Kabul, Afghanistan, 15 Maret 2026. Menjelang akhir bulan puasa Ramadhan, masyarakat Afghanistan bersiap merayakan Idul Fitri, menandai berakhirnya bulan suci dengan penuh semangat dan khidmat. ANTARA/XInhua/Saifurahman Safi Dilaporkan bahwa AS membekukan aset Afghanistan senilai miliaran dolar AS setelah penarikan pasukannya dari Afghanistan pada Agustus 2021 dan pembentukan pemerintahan baru di Kabul. Washington juga memutus hubungan dengan penguasa baru Afghanistan serta terus meningkatkan tekanan kepada pemerintah Afghanistan sejak mengambil alih kekuasaan lebih dari empat tahun lalu. Senada dengan keluhan tersebut, warga sekaligus pedagang Kabul lainnya, Mohammad Omar, mengungkapkan dengan nada prihatin bahwa memenuhi kebutuhan keluarga kini menjadi tanggung jawab yang sangat berat, karena harga kebutuhan pokok melonjak sementara pendapatan hampir tidak ada.
"Pasar akan berubah jika aset-aset ini (aset Afghanistan yang dibekukan AS) dicairkan," kata Mohammad Agha, seorang pedagang buah kering.
Agha (53), yang telah menjalankan toko buah kering selama 25 tahun terakhir dan juga menjadi tulang punggung keluarga beranggotakan tujuh orang, mengeluhkan turunnya daya beli masyarakat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Dulu, saya sering menjual 60 sir (1 sir setara 7 kilogram) hingga 70 sir dalam beberapa hari menjelang Idul Fitri, tetapi di tahun ini, saya baru menjual tak sampai 20 sir buah kering," gumamnya.
Orang-orang membeli buah-buahan kering dan kacang-kacangan untuk menyambut Idul Fitri di Kabul, Afghanistan, 15 Maret 2026. Menjelang akhir bulan puasa Ramadhan, masyarakat Afghanistan bersiap merayakan Idul Fitri, menandai berakhirnya bulan suci dengan penuh semangat dan khidmat. ANTARA/XInhua/Saifurahman Safi Senada dengan keluhan tersebut, warga sekaligus pedagang Kabul lainnya, Mohammad Omar, mengungkapkan dengan nada prihatin bahwa memenuhi kebutuhan keluarga kini menjadi tanggung jawab yang sangat berat, karena harga kebutuhan pokok melonjak sementara pendapatan hampir tidak ada
"Perdagangan lesu dan pasar menyusut," kata Agha, seraya menambahkan, "Harga memang lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Misalnya, 1 kilogram kenari tahun lalu seharga 800 afghani (1 afghani = Rp265), sekarang menjadi 500 afghani."
"Harga memang turun dibandingkan tahun lalu, tetapi daya beli masyarakat merosot akibat kemiskinan dan pengangguran," keluh Omar, warga Kabul lainnya.





